INDIRA AGUSTIN


Berpacu menjadi yang terbaik

On Culture and Identity

Kelompok 8: Indira Agustin/071012006

 

On Culture and Identity

 

Ada sedikit kebingungan yang terjadi dalam masyarakat yang telah tersentuh globalisasi mengenai budaya dan identitas. Hal ini disebabkan globalisasi merupakan sebuah fenomena yang multidimensional, yang secara bersamaan menyentuh bidang ekonomi, politik, lingkungan, teknologi, sosial, dan bahkan budaya. Banyak kritik budaya mengenai globalisasi yang seringkali diidentikkan dengan budaya imperialisme barat, atau yang lebih frontal adalah Amerikanisasi. Hal ini jelas disebabkan oleh maraknya produk-produk dan bentuk-bentuk budaya pop Amerika yang terus meningkat dan menyebar, terlebih di negara berkembang. Tomlinson (2007) dalam artikelnya mengatakan bahwa ‘It was entirely predictable, then, that questions of dominance of Western culture wedded to political-economic power came to dominate the discussion of cultural globalization’ (Tomlinson, 2007:148). Globalisasi membawa nilai-nilai baru yang kemudian dapat menggeser nilai-nilai lama yang sebelumnya berlaku pada masyarakat lokal.

Disamping itu adanya saling keterhubungan yang global dapat menimbulkan miskonsepsi atas beberapa aspek. Ulrich Beck dalam artikel Tomlinson (2007) pun memandang bahwa dari perspektif global masih perlu dipertanyakan konsepsi dari adanya kelas, kekuasaan, kategori modernitas, dan berbagai aspek lain apakah masih relevan dengan hadirnya globalisasi. .Sementara John Urry berpandangan bahwa saling keterhubungan global mengubah kompleksitas teori yang awalnya berasal dari ilmu pengetahuan untuk dapat memahami tatanan sosial. Oleh sebab itu perlu untuk meregeneralisasikan konsep-konsep intelektual yang mengalami pergeseran karena globalisasi ini, agar menjadi studi yang lebih koheren.

Pengaruh globalisasi terhadap budaya tentu tak dapat dihindari, meskipun proses globalisasi tidak selalu berada dalam ranah budaya. Dimana budaya inilah yang kemudian membentuk konstruksi sosial. Signifikansi dan interpretasi terhadap budaya mengarahkan manusia baik secara individu maupun kolektif terhadap perilaku tertentu (Tomlinson, 2007:151). Sehingg dari sini dapat dikatakan bahwa globalisasi juga seharusnya dapat menjelaskan bagaimana perilaku manusia dapat berubah melalui analisis budaya. Begitu pula sebaliknya, apakah tindakan-tindakan atau perilaku lokal masyarakat dapat mempengaruhi kebudaayaan secara global.

Dalam pandangan umum, budaya diidentikkan dengan lokasi atau wilayah geografis tertentu, dimana ia terikat dengan wilayah asalnya juga dengan masyarakat yang terintegrasi di dalamnya. Akan tetapi globalisasi kemudian membawa dampak saling keterhubungan, dimana ia melakukan penetrasi ke segala bidang dan dalam berbagai macam bentuk, lalu ia dengan cepat mengacaukan dan merongrong pemikiran lokal dan membuat batasan antara budaya dan suatu lokasi menjadi lemah. Akibatnya konsep jarak menjadi kian lemah pula. Dimana lebih jauh lagi hal ini menjurus pada deteritorialisasi. Mobilitas masyarakat globalisasi menjadi kian cepat. Clifford pun mengatakan bahwa lokasi tidak lagi mencakupkan suatu wilayah yang luas, melainkan menjadi dipersempit pada tempat-tempat yang lebih mendetail,  “And this assumption continues in contemporary ethnography where the locations may be ‘hospitals, labs, urban neighborhoods, tourist hotels’ rather than remote villages” (Tomlinson, 2007:152). Deteritorialisasi kemudian menjadi sesuatu yang tak terhindarkan, sebagai konsekuensi logis budaya terhadap globalisasi. Ciri khas dan perbedaan tiap wilayah dan budaya perlahan menghilang meskipun tidak secara menyeluruh. Sehingga terjadi penurunan keistimewaan lokalitas dalam budaya, diiringi dengan hadirnya kompresi ruang dan tempat, dan bahkan proses dalam kehidupan.

Selain tempat, hal lain yang mengalami degradasi menurut Marc Auge adalah intimasi komunal—gesellschaft (Tomlinson, 2007:154). Interaksi antar individu di kota-kota besar berkurang digantikan dengan rutinitas. Hal ini kemudian bergeser akibat munculnya jaringan yang dapat memfasilitasi mobilisasi ekstrateritori tanpa harus berpindah tempat, yaitu teknologi komunikasi. Tomlinson (2007) menyebutnya sebagai telemediatisasi, yang dapat dipandang sebagai metode yang berbeda dari deteritorialisasi –yang pada intinya sama—membawa peristiwa budaya keluar dari pijakan lokalitasnya (Tomlinson, 2007:154).

Telemediatisasi menunjukkan budaya yang benar-benar baru. Teknologi komunikasi memberikan banyak kemudahan bagi manusia. Hanya dengan menekan beberapa tombol, kita sudah bias mengetahui apa yang terjadi di bagian lain bumi tanpa harus pergi ke tempat tersebut. Teknologi komunikasi ini juga kemudian memberikan kemudahan interaksi manusia yang berada dalam sebuah jarak yang cukup jauh. Internet dan televisi dapat memvisualisasikan berbagai hal secara nyata. Kemudahan akses dan perolehannya membuatnya menjadi rutinitas wajib. Hal ini tentu menyebabkan pergeseran pada budaya, yang sudah tentu disadari oleh manusia itu sendiri, yakni ‘general effortlessness’(Tomlinson, 2007:158).  Di masa yang serba instan ini tak ayal akan menghasilkan generasi yang instan pula, dimana order of desire and fulfillment dengan cepat dipenuhi oleh adanya teknologi, menjadi sesuatu yang tidak berjarak. Tomlinson (2007) mengibaratkannya dengan jarak antara dua lokasi yang jauh dapat didekatkan dengan adanya pesawat terbang, sehingga membuat jarak antar keduanya menjadi tidak berarti.

Dari hal-hal yang disebutkan di atas, terdapat satu hal yang kemudian menjadi terancam oleh adanya pergeseran budaya akibat globalisasi ini, yakni identitas. Terjadi ketegangan budaya disini. Adalah ketika globalisasi membawa nilai monokultural dalam dirinya, yakni global capitalist. Neoliberalisme ekonomi menjadi salah satu yang cukup berperan. Kapitalisme yang merajalela membuat modernitas menjadi tujuan tunggal bagi masyarakat. Akibatnya, modernitas dapat mengancam kelangsungan budaya lokal sebagai identitas. Castells dalam Tomlinson (2007) menyebutkan bahwa identitas merupakan sumber manusia bagi pemaknaan dan pengalamannya (Tomlinson, 2007:162). Apabila identitas telah tercerabut dari suatu masyarakat, maka universalisme-lah yang akan muncul. Dimana yang menjadi universal bukanlah nilai kebudayaannya, akan tetapi institutionalized mode of social being (Tomlinson, 2007:163).

Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa budaya meski identik dengan lokalitas suatu wilayah dan terintegrasi dengan masyarakat di dalamnya, tidak menutup kemungkinan akan tergerus nilai-nilai globalisasi, bahkan melalui bidang politik dan ekonomi. Dimana ketika budaya yang terancam, maka identitas dari si pemilik budaya tersebut jugalah yang terancam.  Sehingga universalisme atau bahkan kosmopolitanisme tidak seharusnya dipandang hanya dari sisi politis, sebab hal tersebut juga dapat mengancamsisi kemanusiaan, yakni identitas dan budaya.

 

Referensi:

Tomlinson, John. 2007. Globalization and Cultural Analysis dalam David held dan A. Macgrew ed., Globalization Theory: Approaches and Controversies. Cambridge: Polity. pp 148-168.

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :