INDIRA AGUSTIN


Berpacu menjadi yang terbaik

On Environment and Sustainability

Globalisasi dan Strategi - Minggu 6

Kelompok 8: Indira Agustin/071012006

 

On Environment and Sustainability

Bagaimana kontur dan postur lingkungan dalam globalisasi? Apakah globalisasi mengancam kelangsungan lingkungan hidup dewasa ini? Bagaimana prospek lingkungan hidup dalam globalisasi?

 

Isu konservasi lingkungan hidup kian diperhatikan dalam hubungan internasional. Hal ini tak lepas dari adanya isu pemanasan global yang membuat sustainable development menjadi diperjuangkan. Berawal dari diadakannya UN Conference on the Human Environment di Stockholm pada 1972, UN Conference on Human Environment and Development di Rio de Janeiro pada 1992, Protokol Kyoto di Kyoto pada 1996, hingga World Summit on Sustainable Development di Johannesburg pada 2002, yang kemudian membuat semacam kontrak agar setiap negara yang terlibat untuk mengagendakan pemeliharaan lingkungan di negaranya masing-masing sebagai bentuk konservasi yang dilakukan terus menerus agar bumi tetap bertahan dengan sumber dayanya supaya dapat tetap dimanfaatkan di masa mendatang.

Herman E. Daly (1993) memandang isu lingkungan ini dari perspektif yang cukup berbeda. Ia mengaitkannya dengan globalisasi, utamanya globalisasi ekonomi. Sudah menjadi pandangan umum bahwa globalisasi pada masa sekarang ini merupakan nama lain dari neoliberalisasi ekonomi—yang bentuk nyatanya adalah perdagangan bebas—yang mengakibatkan banyak sekali penyesuaian. Penyesuaian ini menurut Daly hampir selalu didasarkan pada model-model teori dan mainstream neoklasik. Dan dari hal ini dapat terdeteksi tiga permasalahan utama: alokasi, distribusi, dan skala (Daly, 1993:123). Yang dimaksud dengan alokasi disini adalah bagaimana cara membagi-bagi sumber-sumber daya yang ada untuk diproduksi menjadi barang-barang yang diperlukan masyarakat dalam negara tersebut. Sementara distribusi yaitu bagaimana membagikan barang-barang yang telah diproduksi pada orang-orang yang berbeda-beda sesuai dengan kebutuhannya. Dan skala adalah ukuran fisik perekonomian relatif dengan ekosistem yang ada. Pengalokasian yang baik akan menghasilkan efisiensi ekonomi, begitu pula sebaliknya. Sedangkan pendistribusian yang baik akan menghasilkan pemerataan, dan juga sebaliknya. Dan dengan kombinasi efisiensi dan pemerataan akan diperoleh sustainable scale (Daly, 1993:123). Kemudian lebih lanjut, sustainable scale akan menghasilkan sustainable development. Dari sini, akan dibutuhkan penyesuaian ketika terjadi unsustainable scale, yaitu dimana alokasi tidak efisien dan persebaran tidak merata.

Daly (1993) mengatakan bahwa adanya perdagangan bebas hanya akan menghambat sustainable development. Hal ini disebabkan perdagangan bebas internasional bertentangan dengan lima kebijakan nasional: getting prices right; moving toward a more just distribution; fostering community; controlling the macroeconomy; dan keeping scale within ecological limits (Daly, 1993:124). Dari kelima hal tersebut akan terlihat bagaimanakah globalisasi dapat mengancam kelangsungan lingkungan hidup dan prospek lingkungan hidup itu sendiri dalam globalisasi. Mari kita bahas satu persatu.

Getting prices right. Perdagangan bebas internasional memaksa setiap negara untuk mau menyamakan harga suatu barang dengan negara-negara lain. Padahal biaya produksi satu negara dengan negara lainnya tidak selalu sama, bergantung pada sumber daya yang dimilikinya, baik alam maupun tenaga kerja. Maka setiap negara harus melakukan penyesuaian. Akan tetapi negara yang biaya produksinya lebih besar dari harga yang ditetapkan—external costs—mau tidak mau akan merugi sebesar selisih biaya produksinya dan external costs tersebut. Untuk itu peran kebijakan nasional di sini adalah untuk menetapkan tariff masuk sebagai bentuk proteksi, dan hal ini tentu terhalangi dengan adanya perdagangan bebas internasional. Lebih lanjut lagi hal ini akan mneghasilkan dua permasalahan baru, yaitu mobilitas modal yang tidak merata dan pembedaan upah tenaga kerja.

Moving toward a more just distribution. Tingkat perbedaan upah tenaga kerja di negara maju dan berkembang jauh berbeda. Hal ini ditentukan oleh supply tenaga kerja, yang juga ditentukan oleh banyaknya populasi dalam suatu negara dan tingkat pertumbuhannya. Dimana negara dengan populasi yang tinggi berikut dengan tingkat pertumbuhannya yang pesat akan menyebabkan banyaknya supply tenaga kerja di negara tersebut, yang membuat upah di negara tersebut menjadi rendah, begitupun sebaliknya. Fenomena tenaga kerja murah ini kemudian dipandang sebagai hal yang menguntungkan bagi negara-negara pemilik modal. Daly (1993) mengemukakan bahwa pada kenyataannya teori perdagangan bebas akan menghasilkan comparative advantage tidak terbukti, “When both capital and goods are mobile internationally the capital will follow absolute advantage to the low-wage country rather than reallocate itself according to comparative advantage within its home country. It will follow the highest absolute profit which is usually determined by the lowest wage” (Daly, 1993:126). Masalahnya di sini adalah modal tidak benar-benar berputar secara internasional. Mobilitas hampir sama dengan mobilitas tenaga kerja, berputar dalam ruang lingkup yang sempit. Dari hal ini terlihat bahwa efisiensi alokasi terpenuhi namun mengorbankan persamaan distribusi. Padahal sustainable itu sendiri dimaksudkan untuk mengubah alokasi, distribusi, dan skala ekonomi untuk dapat menggerakkan dunia sesuai dengan kata ‘development’ bagaimanapun kondisinya.

Fostering community. Dengan adanya perdagangan bebas internasional, kondisi ekonomi suatu lingkungan masyarakat dapat dipengaruhi atau bahkan ditentukan oleh keputusan seseorang atau sekelompok orang di suatu tempat yang tidak dikenali tanpa dapat dikontrol (Daly, 1993:127). Daly (1993) menggambarkan banyak perusahaan di Amerika Serikat—sebagai kelas pemilik modal—yang lebih mengutamakan tenaga kerja asing yang lebih murah demi efisiensi biaya produksi. Dimana masyarakat lokal kemudian justru lebih dihormati oleh perusahaan asing. Lebih lanjut ia mengemukakan bahwa kosmopolitanisme, yang menciptakan masyarakat dan komunitas internasional, tidak seharusnya merusak komunitas lokal atau nasional.

Controlling the macroeconomy. Seperti yang telah dikatakan sebelumnya bahwa perdagangan bebas akan mempersulit suatu negara—khususnya yang masih berkembang—untuk menginternalisasi external costs, diakibatkan distribusi yang tidak merata, yang lebih lanjut lagi akan menghasilkan disparitas antara tenaga kerja pemilik modal, dan masyarakat akan meminta lebih banyak mobilitas modal, dan berakhir pada permintaan akan pemisahan kepemilikan dan kontrol. Perdagangan bebas dan mobilitas modal mengganggu stabilitas makroekonomi dengan mengijinkan ketidakseimbangan pembayaran dalam jumlah besar dan transfer modal yang menghasilkan hutang yang tidak terbayarkan pada banyak kasus dan berlebihan (Daly, 1993:128). 

Keeping scale within ecological limits. Dengan adanya program sustainable development, maka diharapkan generasi masa depan dapat memanfaatkan sumber-sumber daya seperti generasi saat ini. Namun melihat kenyataan yang ada, jumlah yang kira-kira dapat dimanfaatkan oleh generasi masa depan berada pada tingkat yang sama dengan yang dimanfaatkan oleh negara-negara dengan tingkat upah yang tinggi pada masa sekarang—tanpa memperhatikan ecological collapse. Sustainable development berarti hidup dalam lingkungan dengan daya serap dan kapasitas regenratif yang sempit (Daly, 1993:129). Baik secara global maupun lokal. Dimana global yakni efek rumah kaca dan lapisan ozon, sementara lokal yaitu adanya erosi tanah dan deforestation. Dengan nama perdagangan bebas, hampir setiap negara menjadi destruktif dengan mengeksploitasi alam melebihi kapasitasnya, dimana jika diakumulasikan hal ini akan menjadi masalah global yang tidak dapat dikendalikan.

Dari kelima hal yang dijabarkan diatas dapat ditarik kesimpulan, bahwa globalisasi jika hanya dipandang sebagai neolibralisasi ekonomi yang mengedepankan prinsip perdagangan bebas, akan memunculkan iklim persaingan bagi hampir setiap negara yang kemudian akan berlomba-lomba untuk mencapai keuntungan tertinggi. Dimana hal itu dicapai dengan cara meningkatkan produktivitas dan perekonomian, melalui eksploitasi alam dan mengesampingkan keberdayaan lingkungan hidup. Apabila dibiarkan, maka kelangsungan hidup manusialah yang akan terancam. Dan prospek lingkungan hidup dalam globalisasi menjadi lemah untuk dapat bertahan hingga beberapa generasi ke depan.

 

Referensi:

Daly, Herman E. 1993. “From Adjustment to Sustainable Development”, dalam the Case against Free Trade, Berkeley: North Atlantic Books, pp. 121-132

Elliot, Lorraine. 2004. 2nd. “The Global Politics of the Environment”, dalam The Global Politics of the Environment. New York: Palgrave McMillan.

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :