INDIRA AGUSTIN


Berpacu menjadi yang terbaik

Theories of Strategy

Strategi dan Tata Kelola Strategis

Minggu 4 - kelompok 10

Indira Agustin 071012006

 

Theories of Strategy

Liddel Hart adalah seorang ahli teori strategi kemiliteran. Ia memiliki pendekatan yang unik dalam melihat strategi. Menurutnya cakupan strategi telah meluas tidak hanya tentang militer saja akan tetapi non-militer juga termasuk ada di dalam strategi. Pada review kali ini penulis akan membahas tentang teori strategi, pendekatan-pendekatan yang terkandung didalamnya, serta siapa saja yang berperan didalam penggunaan strategi tersebut, khususnya di bidang militer dengan berlandaskan pada artikel Liddel Hart yang berjudul The Theory of Strategy.

Liddel Hart (1991: 321) mendefinisikan strategi sebagai suatu seni dari pendistribusian dan pengaplikasian alat atau cara-cara militer untuk memenuhi suatu kebijakan. Secara hirarkis, strategi bukanlah suatu aplikasi yang memiliki posisi tertinggi melainkan turunan dari “Grand Strategy”. Jadi strategi kedudukannya lebih rendah dibandingkan dengan grand strategy, sehingga grand strategy dapat digunakan sebagai landasan dasar didalam menentukan strategi. Grand strategy sangat berperan didalam mengkoordinasikan semua sumber daya suatu bangsa, atau sekelompok negara, untuk menuju pencapaian objek politik dari tujuan perang yang ditetapkan oleh dasar kebijakan (Hart, 1991: 321). Selain itu, juga berfungsi untuk memperhitungkan dan mengembagkan sumber daya ekonomi, sumber daya moral, dan kekuatan yang dimiliki oleh suatu negara sehingga dapat dilakukan regulasi dan distribusi kekuatan diantara aspek-aspek tersebut dengan tujuan untuk mempertahankan keamanan bagi negara itu sendiri (Hart, 1991). Strategi seringkali diidentikkan dengan perang, namun teori ini melihat bahwa perang yang terjadi adalah untuk menciptakan perdamaian, menghindari terjadinya kerusakan, menciptakan keamanan, dan mencapai kesejahteraan (Hart, 1991: 322).

Strategi bukanlah untuk mengatasi hambatan, tujuan strategi sebenarnya adalah mengurangi kemungkinan dari resistensi dan berusaha untuk memenuhi tujuan dengan cara memanfaatkan unsur-unsur pergerakan dan kejutan. Dua unsur tersebut saling mempengaruhi satu sama lain. Pergerakan menghasilkan kejutan dan kejutan  memberikan dorongan untuk adanya pergerakan. Oleh karena itu, tujuan strategi yang sebenarnya adalah tidak untuk mencari banyak pertempuran, akan tetapi untuk mencari situasi yang sangat menguntungkan bagi dirinya dalam mengambil keputusan. Jika situasi yang menguntungkan ini tidak bisa didapatkan maka akan berlanjut sampai pertempuran hingga situasi yang menguntungkan tercapai. Dengan kata lain dislokasi adalah tujuan dari strategi. Strategis menghasilkan dislokasi fisik dengan cara memaksa musuh untuk mengganti barisan terdepan atau dengan ancaman atau garis komunikasi.

Pendekatan yang dirumuskan oleh Basil Liddell Hart disini adalah pendekatan tidak langsung. Pendekatan ini mengajarkan cara untuk berperang melawan musuh untuk keuntungan terbesar kita. Dia menyatakan bahwa menyerang langsung musuh adalah pendekatan yang merugikan dan hampir tidak pernah membuahkan hasil, karena musuh sudah pasti akan melakukan perlawanan dan apabila mereka telah kehilangan kekuatan maka mereka akan kembali ke markas dan membawa pasukan cadangan, perbekalan atau bala bantuan dengan kekuatan yang baru. Tentu saja pada saat itu pasukan penyerang telah melemah dan ini justru hanya akan berakhir pada kekalahan. Tetapi apabila kita mengaplikasikan pendekatan tidak langsung, akan ada unsur kejutan yang diterima oleh lawan disitu, sehingga perlawanan yang disampaikan pun tidak akan efektif. Tentara juga tidak akan bisa menjaga sisi belakang mereka dengan baik dan satu-satunya cara untuk mengatasi serangan dari belakang adalah dengan berbalik arah. Keadaan ketika berbalik ini akan membuat keseimbangan dari pasukan tersebut terganggu untuk sementara dan ini dapat menjadi titik kelemahan dari pasukan tersebut. Prinsip-prinsip yang harus dipegang antara lain adalah menyesuaikan tujuan dengan kemampuan, jangan pernah melenceng dari tujuan tersebut, pilih the Line of Least Expectation, manfaatkan the Line of Least Resistance, buat strategi yang memungkinkan adanya jalan alternative, dan yang terakhir pastikan bahwa semua rencana dan disposisi bersifat fleksibel dan adaptatif dengan kondisi yang ada (McNeil, 2007).

            Berasumsi dari pandangan Clausewitz dalam karyanya On War, “the art of the employment of battles as a means to gain the object of war. In other words strategy forms the plan of the war, maps out the proposed course of the different campaign which compose the war, regulates the battles to be fought in each” (Hart, 1991:319). Dari pengertian tersebut dapat dikatakan bahwa strategi merupakan kunci yang menentukan jalannya perang, mengingat Clausewitz berfokus pada strategi perang, dimana dari strategi tersebutlah kemudian keluar pemenang perang.

Strategi tidak dapat begitu saja dilakukan oleh semua orang yang terlibat dalam peperangan. Terdapat stratifikasi yang membagi-bagi siapa saja yang berhak mengambil keputusan dalam kondisi tertentu. Komandan dalam sebuah perang memiliki tugas dan wewenang yang nantinya harus ia pertanggung jawabkan pada pemerintahnya. Tugasnya adalah untuk memutuskan kebijakan perang yang paling menguntungkan yang dapat membuat kepentingannya tercapai dan harus dipertanggungjawabkan. Namun, ketika ia merasa tidak mampu melaksanakan komando dari atasan dengan alasan tertentu, ia bisa menolak tugas yang dibebankan padanya.

Sementara itu, pemerintah merupakan penentu utama kebijakan perang sebaiknya harus terus mengikuti perkembangan kondisi dan perubahan yang terjadi. Sebagai pemegang otoritas tertinggi, pemerintah dapat mengintervensi strategi, baik dengan mengganti komandan perang maupun mengubah tujuan sesuai dengan kondisi yang ada (Hart, 1991:320). Akan menjadi sebuah dilema ketika komandan perang sebagai pemutus kebijakan perang secara langsung di medan perang menemui hal-hal fundamental yang tidak dapat diputuskannya sendiri tanpa ada perintah dari pemerintah pusat, padahal dalam kondisi perang –utamanya di masa lalu–sulit untuk berkomunikasi secara cepat pada jarak yang jauh dan terkadang ada hal-hal penting yang membutuhkan keputusan yang cepat yang tidak dapat menunggu. Sehingga pada kondisi tersebut sang komandan perang harus mengambil keputusan sendiri, dimana nantinya hal ini harus dapat ia pertanggung jawabkan pada pemerintah pusat.

Dilema ini tidak hanya terjadi pada komandan, namun bagi pemrintah itu sendiri karena ia tidak mengerti secara langsung seberapa besar kekuatan yang dimiliki oleh lawan, apakah lawan memiliki kekuatan –utamanya militer–yang lebih superior atau inferior, baik secara umum maupun spesifik dalam hal tertentu. Sehingga dalam kondisi ini biasanya pemerintah akan mengambil strategy of limited aim (Hart, 1991:320). Maksudnya, ia harus membatasi beberapa tujuan dari tujuan awalnya dikarenakan ketidaktahuan tersebut.

 

Kesimpulan dan Opini

            Strategi militer yang digunakan oleh Liddel Hart adalah berdasarkan Grand Strategy yang memiliki cakupan lebih luas dan lebih tinggi kedudukannya daripada strategi itu sendiri. Pendekatann strategi lebih ditekankan pada indirect approach. Dengan pendekatan ini akan ada unsur kejutan yang diterima oleh lawan sehingga perlawanan yang diberikan tidak akan efektif. Hart tidak menganjurkan perlawanan langsung karena pendekatan ini jarang bekerja dan lebih banyak kerugian yang bisa didapatkan. Didalam menentukan dan merencanakan strategi, seorang jenderal adalah pemegang peranan penting karena ia yang mengerti situasi dan kondisi ditempat kejadian yang mana harus dipertanggungjawabkan kepada pemerintah. Hal ini dikarenakan pemerintah tetap sebagai pemegang otoritas tertinggi.

Penulis setuju dengan pandangan Liddell Hart yang menyatakan bahwa perang ditujukan untuk sebuah perdamaian dimana perdamaian akan tercapai salah satunya melalui perang yang mana perang tersebut dapat ditempuh dengan menggunakan indirect approach

 

 

Referensi :

Liddel Hart, B.H. 1991. The Theory of Strategy”, dalam Strategy: The Classic Book on Military Strategy. London: Meridian Book, hal. 319-333.

McNeil, Paul. 2007. The Indirect Approach In High Value Business Sales Situations Based on The Works of Captain Sir Basil Liddell Hart (1895-1970). [online] Terdapat dalam: http://tactica.org.uk/doc/IndirectApproachWhitePaper.pdf. Diakses pada 20 Maret 2012. 

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :