INDIRA AGUSTIN


Berpacu menjadi yang terbaik

On People and Mobility

Kelompok 8: Indira Agustin 071012006

Globalisasi dan Strategi Minggu 9

 

 

On People and Mobility

Apakah mobilitas penduduk yang tinggi dalam globalisasi berdampak positif bagi perkembangan ekonomi? Apakah brain drain benar-benar terjadi dalam globalisasi? Bagaimana prospek integrasi sosial dalam globalisasi?

 

Globalisasi membawa banyak kemudahan bagi kehidupan manusia utamanya dalam bidang teknologi seperti elektronik, telekomunikasi, dan transportasi. Hal ini secara tidak langsung semakin memudahkan arus informasi yang ada pada masyarakat dunia, yang lebih jauh lagi kemudian menimbulkan adanya kemudahan perpindahan masyarakat dari satu tempat ke tempat lain –migrasi. Meskipun migrasi sudah pernah terjadi sejak lama, tetapi adanya fenomena globalisasi membuat hal ini menjadi kajian yang menarik ketika ia kemudian memberikan pengaruh dalam bidang kehidupan lainnya. Sifatnya yang tidak terbatas oleh jarak dan waktu membuatnya dapat dilakukan oleh siapa saja dimana saja. Hilangnya batas-batas negara ini diindikasikan sebagai sebuah proses globalisasi oleh Scholte (2004), dimana terjadi proses deteritorialisasi yang memudahkan terjadinya migrasi. Sehingga dapat dikatakan ahwa migrasi merupakan salah satu ikon globalisasi.

Nicholas Van Hear (1998) melalui artikelnya Migrants and Hosts, Transnationals and Stayers banyak menjabarkan bagaimana para migran berpindah dari negara asal ke suatu negara tujuan, apa penyebab dan implikasinya secara umum terhadap dunia internasional. Sebelumnya Van Hear (1998) mengklasifikasikan migrant ke dalam beberapa jenis dimana masing-masing dari mereka meberikan dampak tertentu terhadap negara asal maupun negara tujuannya. Seringkali dampak yang paling terlihat dari adanya migrasi adalah masalah transisi demografi dan ekonomi. Salah satu contohnya adalah dalam hal migrasi tenaga kerja. Kebanyakan dari tenaga kerja ini berasal dari negara yang masih berkembang dengan tingkat pertumbuhan ekonomi yang tidak terlalu tinggi sementara tingkat pertumbuhan penduduknya cukup tinggi, sehingga yang terjadi adalah berlebihnya ketersediaan tenaga kerja. Alternatif yang kemudian menjadi pilihan adalah mengirimkan tenaga kerja yang tidak terserap dalam pasar tenaga kerja ke negraa lain, yang kemudian dapat membantu negara asal dalam memperoleh devisa sebagai pemasukan negara, melalui remitan (Van Hear, 1998:250).

Namun rupanya tidak hanya dampak positif saja yang diperoleh. Migrasi kadangkala justru menyebabkan penurunan terhadap pertumbuhan ekonomi domestik suatu negara. Dimana terjadi kondisi ketidaksiapan suatu negara atas diasporasi dan transnasionalisasi yang menuju kearah kosmopolitanisme. Skeptisisme Van Hear terlihat dalam contoh yang diberikannya, yakni dalam kasus yang terjadi di Yugoslavia, beberapa negara Afrika Tengah, dan beberapa negara Amerika Latin yang pada akhirnya menghendaki mutasi atas penduduk pendatang yang dianggap turut mengikis peningkatan pembangunan dan menggeser kesejahteraan masyarakat lokal, sehingga diminta untuk kembali ke negara asal (Van Hear,1998:239). Di samping itu ketidakmampuan masyarakat pendatang berintegrasi dengan masyarakat lokal juga dapat menjadi penyebabnya. Komunitas transnasional rupanya tidak selalu dianggap sebagai hal yang menguntungkan. Dan banyaknya kasus serupa menyebabkan adanya istilah krisis migrasi, dimana kemudian migrasi dikenali sebagai hal yang berpotensi menimbulkan suatu masalah.

Diasporasi yang menimbulkan krisis migrasi ini bergantung pada disparitas ekonomi dan politik yang terjadi antara negara asal dan tujuan. Kasus repatriasi atau pemulangan imigran ke negara asal yang tidak berjalan lancar kemudian menimbulkan masalah baru, yakni terjadinya brain drain atau human capital flight. Enggannya imigran untuk kembali ke negara asal biasanya disebabkan banyaknya permasalahan yang terjadi di negara asal seperti peperangan, lemahnya situasi ekonomi, ketidaksejahteraan kehidupan, dan lain sebagainya. Akibatnya terjadi adanya penurunan tenaga kerja utamanya yang terampil (skilled labor) di negara asal. Van Hear (1998) mencontohkannya dengan apa yang terjadi di Jordania oleh rakyat Palestina yang enggan kembali ke Palestina atas alasan kesengsaraan, keterlantaran, dan diskriminasi atas terjadinya perang, dan lebih memilih mencari tempat tinggal yang aman. Semakin besar diaspora yang terjadi, semakin kritis pula eksodus massa yang terjadi. Fenomena brain drain tak lain disebebkan karena terjadinya krisis emitan, pesimisme terhadap masa depan, dan perselisihan yang terus-menerus terjadi.

Solusi yang kemudian mungkin dilakukan adalah pembatasan terhadap disparitas ekonomi, politik, dan kemanan yang terjadi dalam tatanan migrasi tertentu; menciptakan dan mengembangkan jaringan migran yang terafiliasi dan terintegrasi; menciptakan kembali kondisi migrasi yang yang terjadi di masa lampau pada masa sekarang. Atau bahkan yang lebih ekstrim, Van Hear (1998) menawarkan adanya pengkajian kembali atas konsep negara-bangsa yang sudah ada. “Perhaps rights of membership can be disassociated from attachment to a particular nation-state, and perhaps regional mechanisms for membership can be developed” (Van Hear, 1998:263). Dimana hal ini merupakan wewenang negara bersangkutan yang berhak menentukan. Dengan dilakukannya upaya tersebut, diharapkan eksodus massa dapat berkurang dan terjadi perbaikan kondisi keamanan manusia.

Lebih jauh, migrasi seharusnya dapat menciptakan suatu integrasi sosial di antara masyarakatnya. Van Hear (1998) menyebutkan kondisi kosmopolitanisme dapat tercipta melalui globalisasi, dimana salah satu bentuk nyatanya adalah adanya migrasi dan transnasionalisme. “…transnational populations are thrusting cosmopolitans” (Van Hear, 1998:255). Masyarakat yang kosmopolitan tentu dapat menerima adanya perbedaan yang ada. Akan tetapi hal yang mungkin sulit untuk ditolerir adalah pergeseran yang terjadi. Untuk menghindari brain drain, masyarakat pendatang seharusnya mau kembali ke negara asalnya untuk menyumbangkan apa yang telah diperolehnya di negara tempatnya bermigrasi. Namun dalam kondisi-kondisi yang telah disebutkan di atas sulit bagi para migran untuk mau kembali. Maka kemungkinan terjadinya brain drain akan semakin besar dan terus-menerus.

Solusi yang juga kemudian ditawarkan Van Hear (1998) adalah membentuk suaka migrasi, yaitu dimana suatu negara harus dapat memfasilitasi migran yang terampil dari luar untuk pulang dan mau membangun kembali daerah asalnya, dan begitu pula sebaliknya. Namun ada tantangan yang kemudian harus dihadapi oleh suatu negara, yakni tantangan negatif dan tantangan kreatif (Van Hear, 1998:263). Tantangan negatif yaitu ketika kondisi transnasionalisme tidak sejalan dengan eksodus massa yang tidak menentu sehingga terjadi kesenjangan sosial, ekonomi, dan politik di negara tujuan. Sementara tantangan kreatif  berarti para migran mampu membentuk proporsi politik, sosial, dan ekonomi secara signifikan di negara asalnya.

Dari uraian di atas, penulis menyimpulkan bahwa fenomena migrasi yang terjadi akibat globalisasi dapat berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi dan integrasi suatu wilayah. Di satu sisi, imigrasi terjadi akibat kondisi sosial-politik-ekonomi domestik yang kurang kondusif menyebabkan para migran mencari alternatif atas kehidupan yang lebih baik. Di sisi lain, sebagian dari migran ini merupakan tenaga kerja terampil (skilled labor) yang seharusnya dapat memberikan konstribusi atas pertumbuhan ekonomi domestik. Akibatnya terjadi penurunan tenaga kerja yang berkualitas. Ketika hal ini terjadi, sisanya hanya dapat bertopang dagu menunggu masuknya investasi asing yang kemudian melakukan eksploitasi besar-besaran terhadap sumber daya di negaranya. Skeptisisme inilah yang dikemukakan Van Hear (1998). Oleh sebab itu perlu adanya komunikasi yang baik antara pemerintah dan masyarakatnya, dalam rangka menghindari terjadinya migrasi dan berbagai dampak yang mengikutinya.

 

Referensi:

Van Hear, Nicholas. 1998. “Migrants and Hosts, Transnationals and Stayers”, dalam New Diasporas: the Mass Exodus, Dispersal and Regrouping of Migrant Communities, London: UCL Press, pp. 233-264

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :