INDIRA AGUSTIN


Berpacu menjadi yang terbaik

On Resistence and Solidarity

Kelompok 8: Indira Agustin/071012006

Globalisasi dan Strategi Minggu 12

 

On Resistence and Solidarity


Globalisasi membawa perubahan dalam segala bidang kehidupan. Tak luput pula dalam hal pemberontakan. Mengingat kembali bentuk-bentuk pemberontakan dan revolusi di abad ke-20 terwujud dalam bentuk pemberontakan yang didominasi oleh struktur-struktur militer yang terpusat, yang kemudian bergeser pada bentukbentuk gerilya yang terorganisir, hingga dalam bentuk jaringan yang lebih kompleks dan tersebar seperti pada saat ini. Hardt dan Negri (2004) membahasakannya dengan pengibaratan insurgency dan counterinsurgency. Dimana counterinsurgency –pertentangan terhadap pemberontakan- tidak akan muncul kecuali didahului oleh munculnya insurgency –pemberontakan- itu sendiri. Dan pada masa sekarang ini yag menjadi dominan adalah bukannya pemberontakan, namun lebih kepada meredam pemberontakan tersebut, yaitu resisting war

Dalam hal resistensi sosial, Hardt dan Negri (2004) dalam artikelnya ‘Resistance’ memberikan contoh dengan logika kapitalisme Marx. Adanya kapitalisme yang merupakan kepanjangan dari materialisme ini membutuhkan adanya labor atau pekerja agar dapat terus berputar. Dimana kelas pekerja tersebut pada akhirnya membutuhkan sebuah revolusi untuk menggulingkan kelas pemilik modal. Dan untuk mewujudkan revolusi tersebut diperlukan kerjasama dan solidaritas dari sesame kelas pekerja secara global. Namun yang terjadi pada masa sekarang, pekerja tidak lagi berada dalam konteks yang sama. Globalisasi membuat kelas pekerja tidak lagi berkutat dalam dunia produksi yang mengikatnya dalam ruang dan waktu tertentu. Mulai bermunculan apa yang disebut sebagai immaterial labor, yang hasil produksinya adalah hal-hal immaterial seperti informasi, pengetahuan, ide, gambaran, relasi, dan pengaruh (Hardt dan Negri, 2004:65). Hal ini tentu mengubah karakteristik masyarakat. Immaterial labor menjadi biopolitik. Dimana mereka menjadi terorientasi dalam penciptaan bentuk-bentuk kehidupan sosial seperti perburuhan, yang kemudian tidak lagi hanya menjadi sebatas tenaga ekonomi yang materil, namun juga tenaga sosial, budaya, dan juga politik. Dan selanjutnya mereka akan membangun sebuah jaringan yang kompleks melalui adanya komunikasi, kolaborasi, dan hubungan yang saling berpengaruh.

Dari hal tersebut kemudian menjadi jelas bahwa hal-hal yang utamanya mendorong adanya pemberontakan dan revolusi dalam dunia modern dan gerakan-gerakan liberasi, tidak lagi hanya sebatas alasan-alasan kemiskinan dan kesengsaraan ekonomi, namun lebih kepada keinginan akan terwujudnya demokrasi, “…a real democracy of the rule of all by all based on relationships of equality and freedom” (Hardt dan Negri, 2004:67). Hal ini didukung dengan kondisi produktivitas biopolitik dan dominasi mayoritas masyarakat yang menjadi immaterial labor. Salah satu contohnya adalah aksi protes dan demonstrasi yang terjadi di Seattle terhadap WTO pada tahun 1999. Perjuangan terhadap demokrasi disini mengindikasikan masih adanya perjuangan terhadap ideologi dalam globalisasi, yang mana juga menggambarkan adanjya kebutuhan akan perdamaian. Counterinsurgency, atau war against war, dalam hal ini merupakan suatu usaha untuk menghancurkan rezim yang menggunakan kekerasan yang terus-menerus dan mendukung sistem penindasan dan ketidaksamaan.

Dengan demikian dapat dikatakan bahwa globalisasi tidak membuat usang adanya kemungkinan untuk revolusi. Hardt dan Negri (2004) menjabarkan mengenai adanya people’s army. Seperti revolusi petani di Jerman pada abad ke-16, sebagai respon terhadap adanya transisi menuju kapitalisme. Para petani ini kemudian membentuk sebuah pasukan yang kemudian melawan pasukan raja atau pasukan koloni. Bukannya anti-modern, sebab hal ini menunjukkan adanya bentuk modernisasi. Yaitu ketika adanya suatu pengakomodasian masyarakat menjadi sepasukan yang dipersenjatai untuk melawan pasukan tentara otoritas setempat, dan kemudian menciptakan perang sipil modern. Adanya modernisasi tersebut dianggap Hardt dan Negri dapat mengakomodasi pasukan-pasukan pemberontak yang tidak beraturan dan menjadi sebuah pasukan yang teratur. “This is the fundamental passage of modern civil war: the formation if dispersed and irregular rebel forces into an army” (Hardt dan Negri, 2004:70). Sehingga akhirnya terkonstruksi sebuah bentuk baru dari masyarakat tersebut. Yaitu dalam pasukan masyarakat sipil yang bersatu dan terorganisir. Banyak kasus yang terjadiselain pada masyarakat petani Jerman di abad ke-16. Antara lain Revolusi Kuba di pertengahan abad ke-20, Revolusi Mexico oleh sekelompok petani yang dipimpin oleh Emiliano Zapata, sehingga gerakannya disebut dengan Zapatista, dan lain sebagainya.

Kembali pada konteks ‘the people’ dalam gerakan-gerakan pemberontakan dan revolusi, dimana mereka mendirikan sebuah otoritas organisasi dan melegitimasi penggunaan kekerasan oleh mereka sendiri. Kemudian mereka membentuk kedaulatan untuk mengambil alih kekuasaan negara. “The people is a form of sovereignty contending to replace the ruling state authority and take power” (Hardt dan Negri, 2004:79). Di sini terlihat adanya solidaritas masyarakat global dalam hal pemberontakan. Hardt dan Negri (2004) kembali membuat sebuah analogi mengenai perjuangan people tersebut dalam mencapai kekuasaan melalui pemberontakan. Ibarat serangan lebah, yang ketika bergerak akan mengepung musuh dari segala sudut dan melakukan penyerangan dalam sentakan yang kuat. Kemudian mereka akan berpencar dan kembali membentuk strategi perlawanan selanjutnya. “Such insects metaphors for enemy swarms emphasize the inevitable defeat while maintaining the inferiority of the enemy—they are merely mindless insects…This is are new kind of intelligence, a collective intelligence, a swarm intelligence…” (Hardt dan Negri, 2004:92-93). Sehingga dapat dikatakan bahwa bentuk perjuangan ini dalam perkembangannya kemudian mengarah kepada tindakan-tindakan yang tak terduga.

Dari uraian singkat di atas dapat disimpulkan bahwa resistensi terus hadir dalam lingkungan sosial dan politik masyarakat yang terus berubah. Globalisasi dalam hal modernisasi dimanfaatkan untuk membuat evolusi dalam hal perang sipil yang lebih modern, dengan membentuk people’s army hingga gerakan gerilya. Pada akhirnya Hardt dan Negri mengungkapkan bahwa resistensi masa kini merupakan resistensi terhadap suatu insurgencycounterinsurgency atau resisting war. Karena ketidakpuasan terhadap represi suatu otoritas, sehingga perjuangan ideologi yang paling mungkin adalah perjuangan pencapaian demokrasi.

 

Referensi:

Hardt, Michael dan A. Negri. 2004. “Resistance”, dalam Multitude: War and Democracy in The Age of Empire, New York: The Penguin Press, pp: 63-95

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :