INDIRA AGUSTIN


Berpacu menjadi yang terbaik

The Anti Cosmopolitanism Actions

Indira A./071012006

Kosmopolitanisme, Nasionalisme, dan Fundamentalisme

Kuliah minggu 8

The Anti Cosmopolitanism Actions

Kehadiran kosmopolitanisme selalu diidentikkan dengan hadirnya globalisasi pada era kontemporer. Padahal dalam sejarah sendiri tercatat kosmopolitanisme sempat diungkapkan oleh Diogenes of Sinope pada masa Yunani kuno, bahwa ia adalah seorang warga dunia (Heather, 2002). Di masa sekarang hal ini seolah menjadi tepat dan terjadi hubungan yang saling melengkapi antara nilai kosmopolitanisme sebagai the way of thinking dengan globalisasi. Kosmopolitanisme menghadirkan gagasan untuk hidup bersama-sama sebagai suatu global citizen. Dimana secara tidak langsung ia membawa harapan baru bagi masyarakat global dalam menciptakan keselarasan secara global dalam berbagai bidang kehidupan. Akan tetapi skeptisisme kemudian muncul dari beberapa golongan yang memiliki keyakinan terhadap hal-hal tertentu dan tidak dapat bersikap toleran. Sehingga akhirnya muncul beberapa gerakan maupun tindakan yang menentang adanya gagasan kosmopolitanisme tersebut melalui berbagai cara.

Mark (2005) dalam artikelnya yang berjudul Religious Antiglobalism, menjabarkan beberapa bentuk penolakan masyarakat di dunia terhadap gagasan kosmopolitanisme ini. Di mana kondisi dunia saat ini terbagi dalam dua bentuk keyakinan, yakni sekularisme yang dibawa oleh modernisme dari barat dan anti-sekularisme modern yang identik dengan mereka yang berpegang teguh terhadap nilai-nilai keagamaan yang mereka yakini. Golongan yang menolak adanya modernisme yang sekuler ini digambarkan oleh Mark (2005) berada dalam kondisi yang intoleran terhadap adanya nilai-nilai asing yang dianggap dapat mengintervensi dan mereduksi nilai-nilai serta kekuatan moral mereka. “Anti secular modernism reject the intervention of outsiders and their ideologies and the risk of being intolerant… They afraid that global economic forces and cultural values will undercut the legitimacy of their own bases of identity and power” (Mark, 2005). Bentuk nyata penolakan mereka ini terlihat dari adanya tindakan anti-globalis dalam beberapa kasus pengeboman suatu wilayah tertentu yang dianggap sekuler dan mewakili adanya intervensi sekulerisme modern di wilayah yang mereka anggap sebagai wilayah anti-sekuler, diawali dengan kasus bom WTC 9/11, Bom Bali 2002, Bom kereta api Madrid 2004, dan lain sebagainya, yang dikenal dengan istilah terorisme.

Dari sini kemudian terlihat bahwa kelompok-kelompok anti globalisasi di sini merupakan para fundamentalis ekstrimis yang tidak bersikap toleran terhadap hadirnya globalisasi yang membawa nilai-nilai sekulerisme barat. Dan dapat dikatakan bahwa terorisme merupakan salah satu bentuk nyata adanya fundamentalisme. Richardson (2006) mendefinisikan terorisme sebagai suatu tindakan penyampaian pesan terhadap suatu pemerintah melalui teror terhadap warga sipil dalam usaha pencapaian tujuan politik tertentu pelakunya. “...means deliberately and violently targeting civilians for political purpose” (Richardson, 2006). Dari beberapa kasus yang terjadi, terlihat bahwa terorisme dilakukan oleh para aktor sub-state dan bukan negara, untuk menciptakan ketakutan pada masyarakat sipil. Jadi terorisme merupakan salah satu taktik yang digunakan oleh kelompok-kelompok yang berbeda-beda dengan tujuan yang berbeda pula. Dimana ia dapat dilakukan oleh semua kelompok baik mulai dari agama hingga politik, yang berusaha untuk mencapai tujuan politik mereka dengan menciptakan kekacauan dan ketakutan.

Akan tetapi gerakan fundamentalisme tidak hanya berhenti pada terorisme saja. Masih terdapat beberapa gerakan anti-globalisasi lain yang dapat menghambat terciptanya konsep kosmopolitanisme seperti jihad, purifikasi etnis, dan genosida. Masih bertahan pada konsep fundamentalisme dimana mereka sebagai pelaku bertahan pada nilai-nilai dasar yang mereka percayai dan bersikap tidak toleran terhadap nilai-nilai baru yang dianggap dapat mengancam nilai fundamental tersebut. Berbeda dengan terorisme, Jihad yang merupakan salah satu syariat agama Islam muncul sebagai bentuk penolakan terhadap kosmopolitanisme yang dianggap mulai menghilangkan tradisi keagamaan melalui sekularisme. Namun Jihad sendiri tidak selalu dimaknai sebagai perang dan kekerasan. Dalam beberapa hal seperti dakwah, atau menyapaikan nilai-nilai kebaikan agama pun juga dapat dimaknai sebagai Jihad. Bentuk lain yaitu purifikasi etnis, hadir sebagai penolakan atas heterogenisasi dalam suatu wilayah, yang bermula dari adanya mobilisasi besar-besaran. Kelompok-kelompok migran yang menetap di wilayah lain tidak selalu mendapat sambutan hangat dari masyarakat lokal. Dalam beberapa kasus masyarakat lokal justru merasa terancam atas hadirnya kelompok pendatang tersebut. Hal ini kemudian dapat memicu terjadinya purifikasi etnis, meskipun tidak selalu oleh sebab yang demikian. Berbeda lagi dengan genosida, atau penghapusan suatu ras. Hal ini jelas bertentangan dengan konsep kosmopolitanisme. Mark (2001) dalam artikelnya Cosmic War mencontohkan dengan tindakan Stalin terhadap kelompok Yahudi di Rusia (Mark, 2001).

Dari penjelasan di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa gerakan kosmopolitanisme yang hadir beriringan dengan globalisasi memunculkan adanya gerakan-gerakan penentangan oleh para anti-globalis maupun anti-kosmopolit. Bentuk penentangan tersebut hadir dalam berbagai bentuk, mulai dari terorisme, jihad, purifikasi etnis, hingga genosida. Pada dasarnya tindakan tersebut bermula dari adanya rasa tidak toleransi terhadap nilai-nilai kosmopolitanisme yang dianggap dapat mengancam eksistensi mereka, sehingga secara ekstrim kemudian muncul tindakan pencegahan supaya nilai kosmopolitanisme tersebut tidak mengontaminasi kelompok-kelompok mereka. Menurut opini penulis hal ini menjadi wajar sebab way of thinking atau konsep kosmopolitanisme itu sendiri merupakan hal yang utopis. Terutama bagi mereka yang merupakan kaum fundamentalis, akan sulit untuk menerima konsep pluralisme dan bersikap toleran atasnya. Sebab terlepas dari sikap fundamentalis atau tidak, pada dasarnya kehidupan manusia tercipta dalam perbedaan dan heterogenitas yang tinggi. Ketika toleransi dalam hal-hal kecil dalam kehidupan sehari-hari saja terkadang sulit untuk dilaksanakan, maka akan menjadi lebih sulit untuk bersikap toleran dalam hal-hal yang lebih besar dan global.

 

Referensi:

Heater, Derek. 2002. Historical Pattern, dalam World Citizenship: Cosmopolitan Thinking and Its Opponents. London: Continuum. pp. 26-52

Juergensmeyer, Mark. 2001. “Cosmic War”, dalam Terror in the Mind of God: The Global Rise of Religious Violence, Berkeley: University of California Press, pp. 145-163

Juergensmeyer, Mark. 2005. “Religious Antiglobalism”, dalam Mark Juergensmeyer (ed.), Religion in Global Civil Society, Oxford:Oxford University Press, pp. 135-148

Kaldor, Mary. 2006. “Introduction”, New and Old War; Organized Violence in a Global Era, Cambridge; Polity Press, pp. 1-14

Louise Richardson, 2006. “What is Terrorism?”, dalam What Terrorists Want: Understanding The Terrorists Threat, London: John Murray, pp. 19-39

Louise Richardson, 2006. “Why Do Terrorists Kill Themselves?”, dalam What Terrorists Want: Understanding The Terrorists Threat, London: John Murray, pp. 133-169

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :