INDIRA AGUSTIN


Berpacu menjadi yang terbaik

Strategy and Strategist - Strategic Thinking

Kelompok 10

Strategis dan Tata Kelola Strategis


 


Strategy and Strategist

[ review article “The Political Leader as Strategist” by Gordon A Craig and “Analysis:The Starting Point” by Kenichi Ohmae”]

  Dalam usaha menyelesaikan beberapa masalah yang ada secara efektif dan efisien, seringkali setiap orang dituntut untuk berpikir secara strategis. Cara berpikir ini harus dibutuhkan teknik analisis inti permasalahan yang paling krusial agar dapat menemukan solusi yang mana solusi tersebut juga dapat digunakan untuk menyelesaikan masalah lain yang berkaitan. Dalam pembahasan kali ini kami akan menjelaskan mengenai beberapa permasalahan mengenai pengertian strategic thinking, siapakah aktornya, apa saja yang diperlukan untuk menjadi seorang strategis, seberapa menentukankah keputusan yang mereka ambil, apakah seorang strategis itu selalu para pengambil keputusan, dan bagaimana perbedaannya dengan seorang negarawan.

 Pertama, kami akan menjelaskan mengenai pengertian dari strategic thinking. Dalam artikel milik Ohmae (1982:12) yang sesuai dengan judulnya yaitu “Analysis:The Starting Point” mengatakan bahwa “Analysis is the critical point of strategic thinking”. Mengapa harus dimulai dengan analisis? Ohmae kembali menjelaskan bahwa dengan analisis memungkinkan seseorang untuk dapat mensubtitusi self-directed judgement ke other-directed way dalam menerima package (Ohmae, 1982:12). Sehingga strategic thinking merupakan suatu proses berpikir yang analitik mengenai bagaimana memahami dengan baik karakter-karakter tertentu dari masing-masing elemen yang kemudian kita bedah menjadi beberapa bagian dengan tujuan untuk menemukan key issue atau isu yang paling krusial, dan selanjutnya menyatukan kembali bagian-bagian tersebut dalam bentuk baru yang berbeda dengan bentuk awal yaitu other-directed way yang konkret dan signifikan dengan tujuan adanya perbedaan solusi dengan kompetitor lain sehingga strategi yang kita miliki juga tidak mudah ditebak oleh yang lainnya. Ohmae menekankan pula bahwa dengan menemukan poin-poin yang krusial dan kritikal membantu kita dalam menemukan solusi yang tepat agar usaha yang dilakukan tidak berakhir dengan kegagalan dan frustasi.

 Ada metode lain dalam strategic thinking yang seringkali digunakan oleh seorang strategis dalam dunia bisnis dalam proses abstraksi untuk menunjukkan bagainan solusi bekerja dalam masalah yang lebih luas. Yaitu hampir sama dengan metode yang telah kami jelaskan pada paragraf pertama namun metode kali ini lebih kompleks. Pertama mengklasifikasi permasalahan untuk kemudian dikelompokkan dalam beberapa kelompok permasalahan dalam proses abstraksi ini memudahkan kita memahami dan fokus pada isu-isu krusial tanpa harus memperhatikan isu lain yang tidak begitu penting. Setelah itu seorang strategis bisa menentukan pendekatan untuk merumuskan solusinya namun harus divalidasi dengan cara diadakannya in-depth analysis kembali sebelum di implementasikan (Ohmae, 1982: 18-21).

 Berdasarkan artikel Ohmae yang dimaksud dengan strategis disini ialah seorang manajer yang mana selalu dihadapkan pada kompetisi dengan perusahaan lain dalam menghadapi atau memecahkan suatu permasalahan. Namun bila merujuk pada artikel milik Gordon seorang strategis ialah serorang pemimpin politik sebagaimana judul artikel Craig yaitu “The Political Leader as Strategist”, baik perdana menteri, kanselor, dan lain-lain yang memahami secara baik mengenai dunia politik dan militer. Beberapa contoh aktor pemimpin politik yang diangkat dalam artikel ini ialah Clemenceau, Hitler, Churchill, dan Roosevelt. Craig memilih pemimpin politik sebagai seprang strategis karena seorang pemimpin politik memiliki tanggung jawab yang lebih dan mengerti dengan baik mengenai masalah negaranya dan dampak yang terjadi setelah perang. Sebab semua operasi dan cara-cara yang dilakukan oleh seorang militer menurut Craig pada akhirnya dapat merugikan negara apabila keputusan ada ditangan seorang militer. Atau dengan kata lain semua operasi militer yang dikendalikan oleh kekuasaan militer mempinyai konsekuensi politik yang kurang dipahami oleh pemimpin militer. Sebagaimana yang dikatakan oleh Paulus dalam operasi di Stalingrad bahwa seseorang yang diperintah untuk berperang dan apabila mati dalam suatu pertempuran dinilai sebagai tindakan atau kejahatan kriminal terhadap tanggung jawab bangsanya sendiri.

 Sehingga antara pemimpin politik dan pemimpin negara dalam usaha untuk menjadi seorang yang strategis masing-masing harus menjadi analisator yang kritis. Berdasarkan artikel Kenichi Ohmae (1982) yang pertama ialah determining critical issue, dengan cara memilah-milah masalah mana yang krusial dan mana yang tidak berdasarkan. Dalam hal ini para strategis harus memiliki mental elasticitymaksudnya adalah Seorang strategis juga bersifat fleksibel didalam menanggapi berbagai perubahan-perubahan dengan realistis. Jadi dapat dikatakan bahwa untuk mencapai solusi terbaik, seorang strategis seharusnya dapat mengkombinasikan analisis yang rasional, dengan berdasarkan pada kenyataan yang ada disertai pengimajinasian yang unik sehingga kemudian akan dihasilkan pemikiran-pemikiran dengan bentuk transformasi baru. Kedua, abstraksi Dengan memilah-milah permasalahan kemudian mengelompokkannya menjadi satu masalah tunggal yang paling krusial dari lainnya memudahkan seseorang untuk berpikir bagaimana mencari jalan keluar.

 Ketiga, penentuan pendekatan untuk mencari solusi terbaik. Apabila telah ditemukan pendekatan yang ingin digunakan, maka akan ditemukan prinsip-prinsip solusinya dengan mengkompilasikan action plan-nya. Keempat, apabila telah merumuskan solusi masalah harus dilakukaan analissi mendalam lagi untuk mem-validasi solusi tersebut. kelima, action plan atau impelentasi solusi tersebut pada masalah yang dihadapi sesuai dengan rumusan solusi masalah sebelumnya. kemudian beberapa tambahan yang disampaikan secara implisit dalam artikel Craig (1986) antara lain, dalam menjadi analisator harus dituntut untuk selalu berpikir jernih dan bersifat menyeluruh serta menjaga kosentrasi pemikiran dalam keadaan apapun. Dan solusi permasalahan yang diambil juga harus berbeda dengan yang lain atau tidak mudah ditebak oleh yang kompetitor atau musuh. Kemudian, dalam solusi dari seorang strategis tersebut harus di setujui atau sebelumnya harus dipertimbangkan dengan para stakeholders lainnya. Dan tetap harus memperhatikan pendapat yang lainnya atau mau menerima masukan dari bawahan (jika dalam perusahaan) dan masyarakat umum (jika dalam konteks negara).

 Terkait dengan seberapa menentukankah keputusan seorang strategis ini, seperti yang telah kami sampaikan dalam paragraf sebelumnya bahwa keputusan itu akan diimplementasikan dan sangat menentukan apabila mendapat persetujuan dari stake holder lainnya. Craig (1986:482) mencoba menyampaikan bahwa dalam proses pengambilan keputusan dan rencana operasional seorang political leader diperkenankan untuk turut campur tangan didalamnya. Dan seperti kami jelaskan dalam paragraf keempat bahwa political leader adalah seorang strategis (Craig, 1986:481). Dan dari penjelasan Ohmae yang telah kami sebutkan pada paragraf kelima mengenai apa yang harus dilakukan seorang strategis dalam hal ini manajer mereka lah yang menganalisis, menemukan permasalahan utama, menyusun solusi hingga mengimplementasikan solusi tersebut. berdasarkan apa yang disampaikan dalam kedua artikel diatas, hal ini berarti bahwa dalam proses decision making keputusan seorang strategis tersebut sangat menentukan dari tahap pembuatan hingga pada tahap pengimplementasian draft action plan.

 Selanjutnya, menanggapi pernyataan Craig diatas bahwa seorang pemimpin politik turut serta dalam proses pengambilan keputusan dan sangat menentukan pula dalam proses pembuatan hingga pengimplementasian draft action plan. Hal ini berarti pula bahwa para strategis tersebut juga dapat kami kategorikan sebagai para pengambil keputusan. Sebagaimana pendapat Bethmann Hollweg dalam Craig (1986:485) bahwa ““…war was used as an instrument of policy and that the great strategical issues remained under the control of the political leadership”. Maksudnya adalah dalam konteks perang, isu-isu strategis berada di bawah kontrol pimpinan politik dan pemimpin politik dalam hal ini dianggap oleh Craig adalah seorang strategis. Namun apabila pemimpin politik adalah seorang yang mengetahui betul kepentingan negaranya, apa bedanya antara seorang strategis dengan negarawan? Dalam kedua artikel diatas tidak disebutkan mengenai perbedaan strategis dan negarawan. Akan tetapi menurut kami kedua aktor ini berbeda sebab pemimpin politik adalah orang-orang yang menjabat sebagai pemimpin dalam tugs-tugas pemerintahan dan telah memiliki legitimasi dari mayoritas kalangan umum. Dan memiliki kuasa dalam proses pengambilan keputusan. Sedangkan negarawan lebih spesifik tugasnya yaitu berkutat pada bidang administratif negara dan menjalankan tugas yang ia terima dari para pemimpin politik diatasnya seperti Perdana Menteri, sehingga dalam proses pengambilan keputusan ia tidak dapat terlibat secara langsung walaupun ia juga mengetahui seluk beluk negaranya.

 Dari uraian diatas dapat kami simpulkan bahwa pertama strategy thinking merupakan sebuah cara atau proses berpikir yang membutuhkan teknik analisa yang tinggi untuk bisa memilah-milah masalah dalam rangka mencari poin paling krusial diantara masalah tersebut dan menyatukan kembali bagian-bagian masalah yang terpecahkan dalam suatu bentuk lain agar diperoleh satu kesatuan penyelesaian masalah yang berbeda dari lainnya dengan tujuan untuk menghindari kemudahan kompetitor lain dalam menebak solusi yang telah dibuat. Kemudian aktor strategis berdasarkan kedua artikel diatas pada dasarnya menekankan pada seorang pemimpin atau orang yang memiliki tugas, kuasa, dan tanggung jawab penuh aats organisasi yang dipimpinnya. Apabila dalam artikel Ohmae dikatakan para strategis adalah manajer sedangkan dalam artikel Craig menyebutkan pemimpin politik seperti Perdana Menteri dan Kanselor. Dalam beberapa syarat yang di perlukan untuk menjadi seorang yang strategis, yang terpenting adalah bagaimana seseorang memahami tip-tiap masalah dan memiliki keahlian analisis yang mendalam serta membuka diri pada masukan dari lainnya dan memiliki mental elasticity terhadap perubahan-perubahan yang terjadi. Dalam proses pengambilan keputusan Craig menyebutkan bahwa pemimpin politik terlibat didalamnya dan harus memiliki tanggung jawab atas keputusan yang telah disetujui. Sehingga dalam hal ini kami mengkategorikan mereka sebagai para pengambil keputusan.  

 

Referensi:

Craig, Gordon A. 1986. “The Political Leader as Strategist”, dalam Peter Paret ed., Makers of Modern Strategy: From Machiavelli to the Nuclear Age, New Jersey; Princeton University Press, pp. 481-509

Ohmae, Kenichi. 1982. “Analysis: the Starting Point”, dalam The Mind of Strategist: the Art of Japanese Business. New York. McGraw Hill Co., pp. 11-35

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :