INDIRA AGUSTIN


Berpacu menjadi yang terbaik

Bussiness Policy and Strategy as a Professional Field

       Perkembangan dalam strategi memiliki kompleksitas yang berbeda dari yang sederhana seperti yang dikenal dulu sebelum artikel Spender. Dalam artikel Spender dijelaskan kalau strategi dalam bisnis bersifat lebih mekanis dan berbeda dengan strategi yang dikenal sebelumnya. Strategi bisnis yang coba diajukan oleh Bussiness Policy and Strategy (BPS) adalah tentang membentuk organisasi sekaligus membuat rancangan budayanya, moralnya, pelaksanaannya, dan nasionalisasinya serta dilakukan dengan kompensasi yang tidak murah. Aspek praktis dalam Bussiness Policy and Strategy (BPS) tak bisa dilepaskan dari kekuasaan yang dibawa oleh pihak eksekutif perusahaan yang membawahi bisnis tertentu dan akademisi sebagai pengembang teoritis dari sisi strategi bisnisnya. Bussiness Policy and Strategy (BPS) disimpulkan pula sebagai jembatan antara kedua hal tersebut. Sebagai ranah strategi yang memiliki pendekatan konseptual, Bussiness Policy and Strategy (BPS) juga memiliki ranah praktikal yang dipakai oleh eksekutif sebagai sebuah langkah eksekusi strategi.

          Dalam artikel yang ditulis oleh J. C. Spender dijelaskan bahwa terdapatBussiness Policy and Strategy (BPS) yang diajukan sebagai professional fieldBussiness Policy and Strategy (BPS) bergerak dalam memahami strategi dalam konteks bisnis serta kebijakan didalamnya. Bussiness Policy and Strategy (BPS) baru banyak dikenal ketika masa setelah perang dunia II. Ketika masa sebelumnya, Bussiness Policy and Strategy (BPS) belum begitu dikenal dan dianggap sehingga memungkinkan untuk hilang dan dilupakan daripada dianggap sebagai sebuah subjek studi yang menarik untuk dipahami. Padahal secara historis Bussiness Policy and Strategy (BPS) ini telah dipakai sejak 1909 dan menyumbang dalam pembentukan Harvard Bussiness School. Lebih dari itu selama setengah abad, Bussiness Policy and Strategy (BPS) dipakai dalam subjek American Bussiness School. Hal ini menjawab bagaimana kritik yang dihadapi oleh Bussiness Policy and Strategy(BPS) yang dianggap sebagai subjek muda dalam pembelajaran strategi bisnis. Setelah tahun 1950 Bussiness Policy and Strategy (BPS) dianggap tidak berkembang karena tidak ada pembaruan dalam ilmunya. Selain itu tidak ada penambahan dalam sebuah subjek ilmu dalam ranah Bussiness Policy and Strategy (BPS) ini karena banyak pihak yang mengkritisi bahwaBussiness Policy and Strategy (BPS) tidak berbeda dengan subjek – subjek pendahulunya. Hal ini mengantarkan Bussiness Policy and Strategy (BPS) sebagai sesuatu yang pedagogik. (Spender, 2001:28)

        Pada dasarnya baik strategi militer maupun strategi bisnis berdasar pada hal yang sama, yakni pencapaian keuntungan dari keputusan yang dihasilkan. Yang membedakan adalah strategi militer yang biasanya diimplementasikan dalam perang akan memberikan sebuah dampak pada suatu negara, maka strategi bisnis lebih berfokus bagaimana ia dapat mencapai keuntungan yang maksimal pada perusahaan. Spender menjelaskan bahwa keputusan yang dihaslilkan seorang individu dalam suatu perusahaan juga dipengaruhi oleh adanya kerjasama tim yang berada di dalamnya (Spender, n.d). Strategi bisnis sendiri dapat dikatakan merupakan transformasi dari strategi militer sebab pada dasarnya keduanya mengembangkan suatu hal yang sedang dikompetisikan untuk mencapai keuntungan tertinggi atas tujuan yang ingin dicapai

        Strategi merupakan suatu pokok bahasan yang tidak hanya membahas seputar teori namun juga bagaimana teori tersebut dipraktekkan. Sehingga sebagai suatu bahasan atau studi yang kompleks dan komprehensif tentunya teori-teori mengenai penggunaan suatu strategi mengalami suatu dinamika seiring dengan perkembangan jaman. Berdasarkan artikel dari Spender (2001: 26) dijelaskan bahwa adanya perubahan teori strategi tersebut muncul sekitar tahun 1960-an, yaitu mulai muncul kebutuhan akan mencari tujuan suatu perusahaan yang bermunculan dan booming saat itu. Dapat dikatakan pada saat itu bertepatan dengan banyaknya perusahaan-perusahaan multinasional raksasa Amerika Serikat yang saling berkompetisi satu sama lain, sehingga segala sesuatu yang membahas sekitar perusahaan menjadi sasaran utama dari pembelajaran dan fokus strategi yang baru.

       Spender (2001) juga menambahkan bahwa “esensi strategi saat ini berada antara berbagai proses untuk memperoleh keuntungan kompetitif dengan mengembangkan budaya yang kuat, memiliki ketrampilan yang sulit ditiru, menunjukkan sesuatu dengan tepat dan mengeksploitasi kelemahan yang lainnya, menunjukkan dengan tepat dan cocok, mengembangkan dan menyebarkan praktek terbaik dan rutinitas organisasi, membangun strategi aliansi, ... .” (Spender, 2001:26).  Selain itu, perkembangan strategi bisnis di era “boundary-less” lebih kompleks dengan melibatkan banyak pihak, sepertimanagers, workers, deal-makers, entrepreneurs, inventors, dan lain-lain. Mintzberg menyebutkan bahwa “business strategy is more than science”. Selain itu, startegi bisnis juga dibedakan dari bentuk lainnya seperti pembuatan keputusan, taktik, pricing or market positioning (dalam Spender, 2001: 30).

         Spender (2001: 29) menyebutkan bahwa adanya pergeseran fenomena diatas membawa para scholars lebih dekat kepada organisasi industri ekonomi. Namun beberapa manuver pushed corporate ethics, social responsibility, and executive jugdement yang tidak ada dalam cakupan analisisnya”. Namun Spender (2001: 30) kembali menjelaskan bahwasanya “transformasi ini memberi keuntungan berupa metode yang lebih aman yaitu uji hipotesis dan menggunakan secondary data yang menarik untuk dapat diterapkan dalam memenangkan atau memperpanjang masa jabatan dan promosi-promosi yang sifatnya patologis”.

         Adanya perpindahan fokus strategi militer ke strategi bisnis ada beberapa masalah seperti rasionalitas ekonomi sangatlah problematik, no longer pre supposed, dan mereka dipaksa untuk megembangkan alternatif-alternatif dengan bermacam-macam rasionalitas yang bisa digunakan, sehingga strategi bisnis ini pada akhirnya tidak mengenal batasan budaya antara timur dan barat sebagimana perbedaan strategi militer Sun Tzu dan Clausewitz. Konsekuensi yang lainnya ialah perubahan hal yang mendasari dibentuknya suatu strategi yang berawal dari konflik sebagai dasar dalam strategi militer beralih ke kompetisi dalam strategi bisnis. Jadi, secara keseluruhan dapat disimpulkan bahwa salah satu konsekuensi positif dari transformasi ini adalah berkurangnya konflik dan perperangan secara fisik yang merusak dan merugikan. Sehingga dengan adanya kompetisi tersebut orang tidak dituntut untuk menyakiti musuh secara langsung atau perang fisik namun yang terjadi perang pemikiran dalam menciptakan inovasi, keunggulan produk dan strategi pemasaran yang lebih efektif dan efisien.

 

Referensi:

Spender, J.C. 2001. Bussiness Policy and Strategy as a Professional Field, dalam H.W. Volberda dan Tom Elfring ed., Rethinking Strategy, London : SAGE Pub., pp. 26-40

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :