INDIRA AGUSTIN


Berpacu menjadi yang terbaik

Cosmopolitanism as a Project of Building a New World

Globalisasi menghadirkan ruang lingkup yang lebih luas bagi seluruh aspek kehidupan. Banyaknya interaksi antar individu maupun komunitas beikut kebudayaannya, memicu adanya rasa kebersamaan dan adanya toleransi unruk dapat hidup berdampingan sebagai sebuah warga dunia. Kosmopolitanisme, merupakan gagasan untuk hidup bersama-sama sebagai suatu global citizen. Pemikiran tersebut sebenarnya sudah ada sejak jaman Yunani Kuno. Diogene of Sinope mengistilahkannya sebagai ‘citizen of the world’, dimana setiap individu di dunid menjadikan dirinya sebagai bagian dari global citizen. Diogene of Sinope ini menolak konsep polis yang dikemukakan oleh Aristoteles, bahwa ‘man is political animal’, namun menurutnya manusia adalah makhluk universal dari alam semesta. Diungkapkan dalam artikel Heater (2002), “he rejected the status of polities, a citizen, in favour of that of a kosmopolites, a citizen of the ‘cosmos’, the universe. Man, he was proclaiming, is not, as his contemporary Aristotle asserted, a political animal; he is, a multicultural animal” (Heater, 2002:27). Sehingga yang dikatakan bahwa konsep tersebut sudah ada sejak jaman Yunani Kuno itu terlihat dengan adanya konsep polis di dalamnya. Di samping itu, merujuk pada konsep polis, terdapat dikotomi perang yang tiada akhir dalam masyarakat. Padahal menurut Diogene seharusnya rasa xenophobia atau rasa benci terhadap orang atau sesuatu yang asing tidak diperlukan, karena sangat krusial dalam pembentukan citizen of the world.

Pernyataan tersebut kemudian mendorong Zeno untuk menggagas sebuah ide mengenai stoicism, yang merupakan ide dasar dari kosmopolitanisme. Ide dasar dari stoicism ini adalah mengenai natural law. Bahwa para Stoics memandang pentingnya etika yang merupakan hukum alamiah tersebut. Dan ini berlaku terhadap warga dunia secara menyeluruh. Dan dua filosofi dasar dari hal ini adalah naturalness of virtue dan hubungan antara self-centeredness dengan sesamanya. Manusia seharusnya hidup sesuai dengan sifat alamiahnya agar kehidupannya dapat berlangsung dengan baik. Pemahaman dan penerapan atas hukum alamiah tersebut lah yang akan membuat manusia menjadi cosmopolites

Selain Aristoteles, terdapat lagi konsep kosmopolitanisme yang berasal dari masa Yunani Kuno, yakni Alexander the Great. Dimana imperium di bawah kekuasaan Alexander meliputi Macedonia hingga Persia, dan ia berambisi untuk terus menaklukan seluruh wilayah lain dalam rangka mewujudkan terciptanya global citizen. Alexander sendiri berpendapat bahwa “all mankind as one republic of human beings, all citizens, Greek or barbarians, women or slaves, all one great state of humanity, where every citizen has a man’s duty to do, to serve all mankind” (Heater, 2002:31). Begitu pula pada masa Romawi Kuno, ketika meluas pada Italia, Latium, Spanyol, Kepulauan Mediterania Barat, Macedonia, dan bahkan Yunani (Heater, 2002:29).

Para Stoic percaya pada aturan-aturan yang lebih tinggi yang berasal dari Tuhan untuk mengatur kehidupan dengan lebih bermoral. Heater pun menuliskan bahwa world citizen merupakan manusia yang percaya pada hukum-hukum lokal dan adat-istiadat yang berlaku di polisnya yang kemudian akan membentuk satu dimensi kehidupan yang bermoral (Heater, 2002:31). Pada masa Yunani Kuno, terdapat enam konsep dasar mengenai Old Stoa—Stoicism kuno. Yang pertama adalah adanya gagasan mengenai pentingnya kesatuan global, bahwa semua orang, apapun perbedaannya baik budaya, agama, suku, dsb, merupakan satu spesies yang hidup sebagai satu komunitas dunia, disebut dengan the oikumene. Yang kedua yaitu gagasan dari logos, yang merupakan kombinasi antara apa yang dikatakan dan apa yang dipahami, dalam hal ini tercermin dalam sebuah perkataan—speech—dan pikiran rasional. Yang ketiga yakni adanya hukum universal, bahwa seluruh hukum manusia dipelihara oleh satu hukum, yaitu hukum yang berasal dari Tuhan. Yang keempat yaitu bahwa hukum universal disampaikan oleh Tuhan, bahwa Tuhan merupakan bagian dari alam semesta, sementara manusia dianugerahi pengetahuan supayan dapat mengetahuinya. Yang kelima adalah bahwa hanya mereka yang bijak-lah yang dapat dipandang sebagai citizens. Dan yang terakhir, bahwa hanya mereka yang bijak-lah yang dapat menggunakan kapasitas kerasionalan mereka untuk dapat hidup dalam ketenteraman (Heater, 2002:30).

Akan tetapi pada masa Kekaisaran Romawi, yakni masa Middle Stoa, terjadi penurunan hubungan antara manusia dengan Tuhan, dan melemahnya konsep stoicism (Heater, 2002:33). Berlawanan dengan pada masa Yunani Kuno, mereka kurang menghargai komposisi multikultural yang ada pada masyarakatnya. Marcus Aurelius memandang bahwa dalam konsep kosmopolitanisme, manusia bukanlah sebuah komunitas yang berdasarkan pada darah atau keturunan, melainkan pemikiran. Kosmopolit klasik pun memandang bahwa hukum, alam, lingkungan, moral, dan lain sebagainya merupakan sebuah kombinasi yang menghasilkan manusia.

Tidak hanya berhenti pada masa kuno, pada abad ke-18 pun masih terdapat konsep kosmopolitanisme yang terus berkembang. Dimana pada masa tersebut merupakan masa yang paling gencar adanya kolonisasi negara-negara Eropa ke wilayah-wilayah lain yang belum terjamah oleh mereka. Hal ini berawal dari masa Abad Pencerahan, dimana muncul pemikiran Renaissance Neostoicism, bahwa kosmopolites merupakan masyarakat universal kosmos, bukan merupakan masyarakat sebuah kota atau negara yang dibatasi oleh batasan wilayah dan pembedaan atas manusianya. Manusia sendiri adalah kepala asosiasi dalam sebuah polis, hubungan antar polis, dan metafisik polis dalam sebuah kosmos—universe. Beberapa tokoh kosmopolit pada masa ini adalah Francis Bacon, Adam Smith, dan Thomas Paine. Mereka berpandangan hampir sama dengan kaum Yunani Kuno, bahwa hanya mereka yang bijak-lah yang dapat menjadi citizen of the world.

Adanya agenda kosmopolitanisme ini kemudian membawa myths dan harapan-harapan baru bagi masyarakat global. Kosmopolit menaruh harapan besar pada demokrasi sebagai pemersatu visi semua orang demi terciptanya perdamaian di seluruh dunia. Akan tetapi kosmopolitanisme ini dapat menjadi penentang utama nasionalisme. Padahal dari realitas yang ada sekarang, masih terdapat perang, konflik, dan lain sebagainya yang menunjukkan bahwa dunia ini belum sepenuhnya damai. Disinilah kemudian muncul istilah realistic cosmopolitanism, untuk menggantikan utopian cosmopolitanism. Berdasar dari pendekatan sosial yang menjelaskan adanya realitas perbedaan dan batas yang berada di bawah kondisi krisis interdependensi global yang terjadi pada saat ini (Beck, 2006:48).

Namun, globalisasi yang nyatanya membawa nilai-nilai demokrasi, liberalisme, neoliberalisme, dan lain sebagainya justru dapat menghambat tercapainya perdamaian dan harmoni secara global. Terlihat dari adanya interkoneksi antara kosmopolitanisme dengan banyak identitas dan kebudayaan lokal, serta kepercayaan yang kemudian saling tidak cocok dan sesuai satu sama lain sehingga menimbulkan konflik dan perang yang tak terhindarkan. Masalah sosial lainnya, yakni tentang agama, bahwa sering terjadi gesekan dan konflik atas adanya perbedaan pandangan. Kemudian adanya kemajuan teknologi yang memberikan kemudahan bagi akses informasi adakalanya menyebabkan kesalahpahaman oleh karena penyalahgunaan informasi.

Dari uraian di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa kosmopolitanisme yang mengandung nilai-nilai globalisasi telah ada sejak masa Yunani Kuno, Romawi Kuno, dan terus berkembang pada puncaknya di abad ke-18 pada masa kolonialisasi dan juga pada saat ini. Kosmopolitanisme ini memandang bahwa manusia secara keseluruhan merupakan sebuah masyarakat global yang bersatu tanpa memandang adanya perbedaan suku, agama, budaya, dan segala aspek sosial lainnya dan pentingnya menciptakan perdamaian di antara mereka. Akan tetapi kosmopolitanisme justru tersandung sendiri oleh globalisasi yang membawanya, yakni tidak semua masyarakat lokal di dunia mau dicerabut dari local wisdom-nya. Sehingga pandangan mengenai kosmopolitanisme ini masih menjadi perdebatan hingga saat ini.

 

Referensi:

Beck, Ulrich. 2006. The Truth of Others: On Cosmopolitan Treatment of Difference-Distinction, Misunderstandings, Paradoxes, dalam Cosmopolitan Vision. Cambridge: Polity Press. pp.48-71

Heater, Derek. 2002. Historical Pattern, dalam World Citizenship: Cosmopolitan Thinking and Its Opponents. London: Continuum. pp. 26-52

MacGillivray, Alex. 2006. A Brief History of Globalization. Caroll and Graf History. chap 1.

 

 

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :