INDIRA AGUSTIN


Berpacu menjadi yang terbaik

Nationalism in Globalization

Typologies of Nationalism: Self determination? Nation building or Nation destroying? Ethnonationalism?

 

Globalisasi seringkali dikaitkan dengan adanya pembaharuan terhadap segala hal. Ia dapat membawa kebaikan maupun ancaman atas berbagai hal yang sudah ada sebelumnya. Nasionalisme merupakan salah satu hal yang cukup sering dipertanyakan mengenai eksistensinya di era globalisasi. Mengingat pada masa sebelum globalisasi nation-state merupakan satu-satunya aktor dalam ranah hubungan internasional, dan tentu saja nasionalisme menjadi hal yang cukup berpengaruh pada masa tersebut. Seiring berkembangnya waktu banyak peristiwa penting yang kemudian terjadi dalam dunia internasional, mulai bermunculan aktor-aktor non-negara yang kemudian mulai berpengaruh, meski pengaruhnya tidak dapat menghilangkan legitimasi aktor negara. Melihat hal ini maka dapat dikatakan bahwa adanya nasionalisme tidak dapat dipandang sebelah mata. Lebih jauh lagi pada saat globalisasi muncul dengan membawa nilai-nilai modernitas dan konsep borderless, mulai muncul pertanyaan yang semakin meragukan eksistensi dan pengaruh negara, yakni apakah negara sebagai wadah dari nasionalisme ini masih akan mendapatkan tempatnya di dunia internasional yang serba borderless dengan konsep border yang dimilikinya.

Nasionalisme sendiri seringkali diartikan sebagai rasa cinta terhadap suatu kelompok bangsa tertentu dengan adanya kesadaran terhadap rasa memiliki dan tergabung dalam kelompok bangsa tersebut degan adanya berbagai persamaan seperti keturunan, ciri fisik, wilayah yang didiami, dan lain sebagainya. Guibernau (2005) mengidentifikasi nasionalisme sebagai “human group conscious of forming a community, sharing a common culture, attached to a clearly demarcated territory, having a common past and common project for the future and claiming the right to rule itself”. Sementara itu Nikolas (1999) mendefinisikan nasionalisme sebagai “umbrella term covering elements such as national consciousness, the expression of national identity, and loyalty to the nation”. Dari beberapa definisi yang ada tersebut dapat dikatakan bahwa nasionalisme merupakan rasa cinta terhadap suatu bangsanya akibat adanya keterikatan akibat adanya persamaan, baik persamaan suku bangsa, ras, agama, ciri fisik, sejarah, budaya, kepentingan, dan lain sebagainya.

Secara umum terdapat dua jenis nasionalisme yakni nasionalisme sipil (civic nationalism) dan nasionalisme etnis (ethno-nationalism). Meski sama-sama bentuk nasionalisme, keduanya merupakan dua hal yang berbeda. Peter M. Leslie mendefinisikan nasionalisme etnis sebagai “nasionalisme berbasis etnis tertentu, sistem beratribut kultur dan nilai-nilai tertentu, nasionalisme yang berakar pada suatu teritori tertentu, dan patriotisme-homeland” sementara nasionalisme sipil diartikan sebagai nasionalisme yang bersifat umum dan sipil (menyeluruh ke masyarakat), sehingga tidak terikat pada golongan etnis tertentu. Nasionalisme sipil menjadi lebih stabil karena ia tidak terikat pada etnis tertentu dan tidak terdapat rasa cinta yang berlebihan disini. Sementara nasionalisme etnis  menjadi cenderung mudah menghasilkan konflik akibat adanya rasa cinta terhadap etnisnya secara berlebihan. Lebih parah lagi adalah ketika nasionalisme etnis ini kemudian membentuk gerakan-gerakan yang kemudian mengarah pada separatisme. Hal ini jelas terlihat bahwa terdapat perasaan etnosentrisme atau primordialisme oleh etnis tersebut, merasa superior dan tidak menyukai adanya otoritas yang lebih besar. Dan globalisasi membuat potensi akan timbulnya konflik semakin tinggi.

Memandang posisi nasionalisme dalam globalisasi, maka kita tidak dapat mengabaikan adanya self determination, yaitu adanya rasa ingin menentukan nasib sendiri. Jadi adanya nasionalisme itu tidak lepas dari adanya rasa self determination tersebut. Atau dengan kata lain, ketika suatu nation berada di bawah kekuasaan  bangsa lain, maka secara otomatis akan timbul benih-benih dari rasa ingin menentukan nasib sendiri tersebut.

Sehingga dapat dikatakan bahwa dalam kondisi yang bagaimanapun, nasionalisme merupakan hal yang penting unu\tuk menjaga kesatuan suatu negara. Konsep borderless yang dibawa oleh globalisasi tidak seharusnya mampu memecah belah suatu negara. Jika disesuaikan dengan konsep kosmopolitanisme maka hal ini menjadi mungkin, yaitu adanya persatuan namun dengan tetap menghargai adanya perbedaan.

 

Referensi:

“Ethnonationalism”, dalam http://imej.wfu.edu/articles/1999/1/02/demo/Glossary/glossaryhtml/ethnonationalism.html [online] diakses pada 29 Maret 2012

http://www.nationalismproject.org

Mann, Michael. 1997. “Has globalization ended the Rise and Rise of the Nation-State?” in Review of International Political Economy vol. 4 No.3, pp 472-496

Nikolas, Margareta Mary. 1999. False Opposites in Nationalism: An Examination of the Dichotomy of Civic Nationalism and Ethnic Nationalism in Modern Europe.

Nussbaum, Martha C. 1996. “Patriotism and Cosmopolitanism”, in For Love of Country, Boston: Beacon Press, pp 2-17

“The Enduring Power of Ethnic Nationalism”, dalam http://www.foreignaffairs.com/articles/63217/jerry-z-muller/us-and-them [online] diakses pada 29 Maret 2012

Webb, Adam K. 2006. “The Escape from Place and Past”, in Beyond the Global Culture War, London: Routledge, pp 117-131

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :