INDIRA AGUSTIN


Berpacu menjadi yang terbaik

Memahami Masyarakat dan Kebudayaan Amerika Latin

Amerika Latin merupakan kawasan kultural terbesar di dunia dengan luas area sebesar 20,5 juta kilometer persegi. Luas tersebut lebih dari dua kali lipat luas wilayah Amerika Serikat. Amerika Latin juga merupakan kawasan dengan rentang latitudinal terbesar diantara berbagai kawasan di dunia yang terbentang dari 32 lintang utara hingga 56 lintang selatan. Oleh karenanya kawasan tersebut memiliki keragaman ekologi karena meskipun secara umum beriklim beriklim tropis tetapi juga terdapat pengaruh dari garis katulistiwa yang membentang melewati kawasan ini sehingga terdapat keragaman fisiografi, iklim, vegetasi, fauna, karakter tanah dan kandungan mineral dalam kawasan tersebut.

Istilah Amerika Latin mulai digunakan pada abad ke 19 untuk menyebut kawasan di selatan negara Amerika Serikat, dikarenakan kawasan tersebut dipengaruhi oleh bahasa dan budaya Roma. Hal ini disebabkan karena budaya dan bahasa tersebut dibawa oleh orang-orang Spanyol, Portugis, dan Perancis dari Eropa yang datang ke wilayah Amerika Selatan sejak abad ke 16 (http://www.historyworld.net). Oleh sebab itu budaya dan bahasa yang mayoritas digunakan adalah bahasa Spanyol, Portugis, dan Perancis.

Karakter Geografis

Secara geografis, Amerika Latin memiliki banyak keistimewaan. Seperti pegunungan Andes dimana merupakan barisan pegunungan tertinggi di dunia dimana membentang sejauh 7000 kilometer. Di Amerika Latin juga terdapat Sungai Amazon, sungai terbesar di dunia dimana juga merupakan sungai dengan volume, arus, dan jalan air terbesar di dunia. Air terjun terbesar dengan volume terbanyak terletak di Amerika Selatan. Dua dari tiga air terjun tertinggi di dunia terdapat di dataran tinggi Guiana, dan lima dari tujuh air terjun dengan volume terbesar di dunia berada di dataran tinggi Brazil. Meskipun potensi tenaga air di Amerika Latin masih lebih rendah daripada di Asia, namun seperlima dari potensi tenaga hidroelektrik terdapat di Amerika Latin. Amerika Latin juga memiliki kekayaan fauna yang meskipun masih kalah oleh keragaman fauna di Afrika, namun di Amerika Latin terdapat berbagai macam spesies burung dan kompleksitas famili mamalia. Region fauna Amerika Latin termasuk dalam Neotropical Zoological Realm yang mencakup Amerika Latin kecuali dataran tinggi Brazil bagian utama dan tengah serta kepulauan Bahama.

Amerika Latin memiliki proporsi kawasan dengan hutan terbesar di dunia, yakni hampir setengah dari seluruh kawasan di Amerika Latin merupakan kawasan hutan. Kawasan Amazon dan dataran tinggi Guiana merupakan kawasan hutan hujan tropis terbesar di dunia. Amerika Latin juga merupakan kawasan dengan hutan terbesar di dunia, yaitu seperempat dari total hutan di dunia. Akan tetapi hanya sepertiga dari luas hutan tersebut yang produktif secara ekonomis yang mengakibatkan Amerika Latin menjadi importir produk perhutanan. Selain itu reduksi kawasan hutan terjadi secara signifikan sejak tahun 1990an terutama di kawasan Amerika Selatan dan Mexico.

Amerika Latin memiliki beberapa keunikan dalam hal iklim. Beberapa kawasan pantai dan dataran rendah di Amerika Latin tercatat dalam rekor dunia dimana hanya memiliki perbedaan temperatur sebesar 13 antara suhu terendah dan tertinggi. Kawasan terkering di dunia terdapat di gurun Peruvian-Antacama terutama di sebelah utara Chile, namun daerah selatan Chile merupakan kawasan terbasah di dunia dimana hujan turun sepanjang tahun.

Kawasan Amerika Latin rutin mengalami bencana alam yang bersifat destruktif. Gempa bumi dengan frekuensi yang besar sering terjadi di tepi selatan kawasan tersebut. Lebih dari 50 gunung berapi yang masih berstatus aktif juga terdapat di kawasan tersebut, merupakan seperempat dari total jumlah gunung berapi aktif di seluruh dunia. Angin topan seringkali muncul di Karibia dan pantai Pasifik di Mexico. Tanah longsor terbesar pernah terjadi di kawasan Andean, Peru.

Karakter Populasi

Populasi dan pola masyarakat di Amerika Latin juga tergolong unik. Amerika Latin merupakan satu-satunya kawasan di dunia dimana pertumbuhan penduduknya lebih tinggi daripada rata-rata pertumbuhan penduduk dunia. Pertumbuhan penduduk terbesar terjadi di sisi utara Amerika Tengah dan Amerika Selatan Andean (Andean South America). Pertumbuhan penduduk paling lambat terjadi di Argentina dan Uruguay yang diikuti oleh Chile, Antilles, Brazil dan beberapa negara kecil yang lain. Kawasan yang berpotensi untuk meningkatkan populasi adalah negara-negara yang memiliki tingkat kematian yang tinggi, seperti Haiti.

Struktur usia penduduk di Amerika Latin secara general menunjukkan karakter kawasan tersebut sebagai kawasan yang terbelakang (underdeveloped) dimana proporsi penduduk usia muda lebih tinggi dibandingkan proporsi penduduk usia tua. Rasio dependensi (proporsi penduduk usia muda dan tua terhadap penduduk usia produktif) sangat tinggi serta hanya dua perlima dari total jumlah penduduk tergolong aktif secara ekonomi, dimana menambah beban ekonomi kawasan tersebut. Akan tetapi angka kematian di kawasan ini merupakan yang terendah dan merupakan populasi dengan tingkat harapan hidup tertinggi diantara kawasan terbelakang (underdeveloped) yang lain). Selain itu, masih terdapat kesenjangan tingkat kehidupan yang cukup signifikan di kawasan tersebut.

Komposisi masyarakat Amerika Latin memiliki keunikan tersendiri, dimana ia tersusun atas beberapa kelompok ras yang berbeda, yaitu orang asli Indian, orang kulit putih Eropa, dan orang kulit hitam Afrika, dan yang paling mendominasi adalah Mestizo, keturunan dari pasangan orang Indian dan kulit putih Eropa. Orang kulit putih Eropa datang dan menetap di Amerika Latin ini pada masa kolonisasi Spanyol dan Portugis pada abad 16. Sementara itu orang-orang Afrika yang berada di Amerika Latin ini pada umumnya dibawa oleh orang-orang kulit putih Eropa yang datang ke Amerika Selatan sebagai budak.

Di lihat dari tingkat densitas, Amerika Latin merupakan wilayah yang tidak terlalu padat penduduknya. Dari total luas wilayah yang hampir mencapai 18 juta km2, jumlah penduduk yang di data oleh World Bank adalah sebanyak 582,6 juta jiwa, dengan pertumbuhan penduduk hanya sebesar 1% tiap tahunnya (http://web.worldbank.org). Hal ini menunjukkan bahwa Amerika Latin bukanlah sebuah wilayah yang padat penduduknya.

Mayoritas orang asli Indian tinggal di daerah pedesaan sementara orang-orang Eropa tinggal di kota-kota besar. Perpaduan antara pengaruh masyarakat Indian lokal dengan pengaruh asing menyebabkan beragamnya kebudayaan yang ada di Amerika Latin. Pengaruh orang Eropa terutama Spanyol dan Portugis dapat dilihat mulai dari hasil seni, arsitektur, hingga gaya hidup yang masih terbawa hingga saat ini. Misalnya adalah gaya cowboy yang ada di Mexico. Disamping itu gaya hidup yang diperkenalkan adalah melalui bahasanya serta agama yang dibawa, yaitu Katolik Roma, yang pada saat itu cenderung dipaksakan pada masyarakat lokal (http://geography.howstuffworks.com). Sementara itu orang-orang kulit hitam membawa kebudayaan yang berbeda pula dengan statusnya sebagai budak. Mereka memperkenalkan banyak jenis karya seni, tarian, dan musik. Pengaruh kebudayaan orang kulit hitam terlihat jelas di Brasil, Kuba, dan Haiti hingga saat ini. Orang Afrika tersebut memperkenalkan budaya juga sebagai bentuk adaptasi mereka dengan kebudayaan lokal Amerika, dimana proses adaptasi tersebut kemudian disebut sebagai creolization (http://www.aaregistry.org). Sedangkan orang Indian sendiri meski banyak dipengaruhi oleh banyak kebudayaan asing yang masuk, tetap dapat mempertahankan kebudayaan aslinya. Mereka yang tetap bertahan dengan kebudayaan asli itu adalah para petani yang umumnya tinggal di wilayah pedesaan. Mereka tetap berbicara dengan bahasa asli Indian, dengan hanya sedikit atau bahkan sama sekali tidak memiliki pengetahuan mengenai bahasa asing yang masuk. Pada awal masuknya penjajah Eropa yang membawa budaya dan bahasa Eropa ke wilayah Amerika Latin, kebudayaan asli Indian dan orang-orang kulit hitam Afrika menjadi minoritas. Akan tetapi setelah abad ke 19, kebudayaan mereka mulai mendapatkan apresiasi (http://geography.howstuffworks.com).

Hal yang menarik lain dari masyarakat di kawasan ini adalah banyaknya aksi-aksi pemberontakan di beberapa negara. Banyaknya pemberontakan di kawasan ini tidak lepas dari “kesalahan” bangsa Spanyol yang telah menjajah kawasan tersebut dalam kurun waktu yang cukup lama, tanpa membekali ilmu mengenai tata cara pengelolaan negara yang baik. Hasil dari hal tersebut adalah banyak munculnya caudillos, atau pemimpin dari masyarakat, yang nantinya memimpin beberapa kelompok untuk memberontak kepada pemerintahan, yang dinilai tidak efektif dalam menjalankan tugasnya. Salah satu contoh dari caudillos tersebut adalah Fidel Castro dan Ernesto “Che” Guevarra, yang memimpin masyarakat Kuba dalam melawan dan menggulingkan rezim kepemimpinan Batista.

Selain itu, isu tentang demokrasi dan demokratisasi merupakan topik hangat yang sering dibicarakan mengenai kawasan selatan negara Amerika Serikat ini. Negara-negara di kawasan Amerika Latin banyak yang menganut paham sayap kiri, yang pada dasarnya bertentangan dengan Amerika Serikat. Hugo Chavez, Evo Morales, Fidel Castro, dan Raul Castro adalah beberapa tokoh yang berasal dari Amerika Latin, yang cukup terkenal di dunia ini. Hal ini disebabkan karena para tokoh tersebut memiliki pengaruh yang cukup kuat di negara asal masing-masing tokoh tersebut, serta mereka memiliki pemikiran yang berseberangan dengan Amerika Serikat. Oleh karenanya, tidak jarang beberapa negara di kawasan Amerika Latin memiliki masalah dengan negara-negara barat, terutama Amerika Serikat, terkait dengan perbedaan ideologi tersebut.

Amerika Latin dan Globalisasi

            Sejak tahun 1970, bangsa Amerika Latin mulai mencoba untuk melakukan restrukturisasi di bidang ekonomi. Di tahun tersebut, Chile, merupakan negara pelopor di kawasan Amerika Latin, yang melakukan perubahan struktur ekonomi, dari terpusat menjadi market oriented (Teichman, 2001). Hal ini merupakan bukti bahwa negara-negara di sebelah selatan negara Amerika Serikat ini mulai memasuki era globalisasi, terutama di bidang ekonomi. Tahapan awal yang terjadi di kawasan tersebut adalah menciptakan kawasan yang berorientasi pada pasar, dengan harapan akan muncul aktor-aktor yang kompetitif, yang akan membawa pengaruh yang positif terhadap perekonomian setiap negara di kawasan tersebut. Setelah itu, banyak pemerintah dari negara-negara lain di kawasan ini yang mengikuti “resep” tersebut, yang ditandai dengan banyaknya reformasi struktural yang dilakukan terkait dengan kegiatan perekonomian negara, seperti liberalisasi dan privatisasi. Tujuan dari tindakan ini adalah untuk menumbuhkan dan meningkatkan sifat kompetitif di sektor ekonomi, yang nantinya akan memberikan pertumbuhan ekonomi yang masiv serta meningkatkan kemakmuran setiap warga.

            Sayangnya, mayoritas dari masyarakat di kawasan Amerika Latin belum siap dalam memasuki globalisasi ekonomi tersebut. Sebagai indikasi adalah banyaknya “aturan main” yang tidak ditepati oleh aktor-aktor yang bermain di dalam perekonomian negara. Salah satu “aturan main” tersebut adalah kebebasan dalam persaingan bisnis. Di beberapa negara, seperti Meksiko dan Argentina, trend globalisasi ekonomi yang terjadi adalah banyaknya konglomerat yang muncul, yang membeli sejumlah sektor publik, dan menjadikannya keuntungan bagi pihaknya sendiri. Sehinga, yang terjadi adalah konglomerat-konglomerat tersebut (atau korporasi-korporasi yang ada) seakan-akan “membeli” pemerintah, dan mereka mampu menggunakan uang yang dimilikinya untuk membiayai sejumlah urusan politik demi mencapai keuntungan ekonomi (Teichman, 2001). Hal ini mengakibatkan tidak tercapainya pertumbuhan ekonomi yang sehat, melainkan justru mengakibatkan tidak terciptanya persaingan-persaingan yang sehat dalam ekonomi, yang kemudian mengakibatkan gagalnya proses globalisasi ekonomi tersebut.

            Hal itulah yang mengakibatkan terjadinya dampak yang kurang baik atas proses globalisasi ini di kawasan Amerika Latin. Hanya terdapat beberapa aktor saja yang mampu menikmati “buah” daripadanya, sementara mayoritas dari warga tidak mendapatkan peningkatan yang signifikan, terutama di bidang ekonomi.

            Kawasan Amerika Latin pada dasarnya merupakan kawasan yang kaya akan SDA. Sayangnya, negara-negara di kawasan tersebut memiliki masalah yang sama, yaitu pengelolaan negara yang kurang baik, sehingga mayoritas masyarakat Amerika Latin hanyalah seperti beggar on top of a gold mountain. Selain dikarenakan banyaknya masalah pemberontakan, pemerintahan yang korup juga ikut menyumbang peran atas terjadinya hal tersebut. Oleh karenanya, kawasan yang kaya akan SDA tersebut, hingga di era globalisasi seperti saat ini, masih memiliki banyak masalah, terutama di bidang ekonomi.

 

Referensi:

Teichman, Judith. 2001. Latin America in the Era of Globalization : Inequality, Poverty, and Questionable Democracies. University of Toronto.

Gonzalez, Alfonso. 2005. Landscape and Settlement Patterns. In Black, Jan Knippers. 2005. Latin America : Its Problem and Its Promise, pp 22-40.

Anonym. n.d. History of Latin America. Tersedia pada http://www.historyworld.net/wrldhis/PlainTextHistories.asp?historyid=aa87 [diakses pada 3 Maret 2012]

Anonim. n.d. Blacks in Latin America, a Brief History. Tersedia pada http://www.aaregistry.org/historic_events/view/blacks-latin-america-brief-history [diakses pada 3 Maret 2012]

http://web.worldbank.org/WBSITE/EXTERNAL/COUNTRIES/LACEXT/0,,contentMDK:22117191~pagePK:146736~piPK:146830~theSitePK:258554,00.html [diakses pada 3 Maret 2012]

Anonim. 2010. Generalizations About People in America. Tersedia pada http://central-america-forum.com/forum-topic/generalizations-about-people-latin-america [diakses pada 4 Maret 2012]

Latin America. Tersedia pada http://geography.howstuffworks.com/terms-and-associations/latin-america1.htm [diakses pada 4 Maret 2012] vbcc

 

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :