INDIRA AGUSTIN


Berpacu menjadi yang terbaik

Politik dan Ekonomi Amerika Latin

            Kawasan Amerika Latin memiliki sumber-sumber alam yang melimpah. Hal ini tidak lepas dari keadaan geografis di kawasan tersebut yang bervariasi, dari dataran-dataran tinggi, hutan, hingga pantai. Selain itu, Amerika Latin juga memiliki wilayah yang luas. Dengan luas wilayah yang sangat besar, ditambah dengan adanya kondisi geografis yang bervariasi seperti demikian, negara-negara di kawasan selatan negara Amerika Serikat ini memiliki potensi alam yang sangat tinggi. Secara normatif, melimpahnya sumber-sumber alam berbanding lurus dengan pertumbuhan perekonomian negara-negara yang memilikinya. Namun, apa yang terjadi tidaklah demikian.

            Mayoritas negara di kawasan Amerika Latin memiliki tingkat perekonomian yang buruk. Bahkan, negara-negara di kawasan ini digolongkan sebagai kelompok negara-negara periphery. Hal ini jelas menimbulkan tanda tanya besar, terkait dengan kontradiksi yang terjadi antara kondisi alam di kawasan tersebut dengan tingkat perekonomian di kawasan tersebut. Padahal, sejak tahun 1970-an, negara-negara di kawasan ini telah mulai menerapkan resep kapitalisme, yang telah diberlakukan, dan relatif berhasil, di negara-negara barat (Teichman, 2001). Usaha-usaha yang dilakukan adalah melakukan restrukturisasi sistem ekonomi, dari sistem yang terpusat pada State, menjadi yang terpusat pada kapital dan market. Dengan kata lain, sejak era tersebut, liberalisasi ekonomi telah diterapkan demi mencapai kemajuan tingkat ekonomi, seperti yang terjadi di negara-negara barat. Jelas, dalam hal ini, terdapat perbedaan antara das sollen dan das sein, yang memunculkan permasalahan di kawasan tersebut, yang pada akhirnya memerlukan adanya suatu analisis yang komprehensif demi terpecahkannya permasalahan tersebut. (ง'̀⌣'́)ง

            Cardoso (1997), melalui penelitian yang dilakukannya, berusaha untuk menjelaskan mengenai fenomena ini. Ia, dalam artikel yang berjudul Current Theses on Latin American Development and Dependency : A Critique, mencoba melakukan dekonstruksi terhadap tesis-tesis yang membawa ide tentang kapitalisme. Ia berpendapat bahwa tesis-tesis tersebut kurang dapat dalam menyajikan informasi, yang mana kekurangan tersebut akan dapat membawa dampak kehancuran bagi suatu kehidupan sosial.

            Tesis pertama yang dicoba untuk didekonstruksi adalah “Di negara periphery, Kapitalisme tidak akan dapat untuk hidup”. Tesis ini berangkat dua hal, yaitu pertama adanya keberadaan borjuis lokal. Keberadaan borjuis lokal dapat menghalangi terciptanya suatu pasar yang memiliki tingkat kompetitif yang tinggi, sehingga kemajuan ekonomi tidak akan dapat diraih[1]. Keberadaan borjuis lokal, dianggap, akan dapat mencegah terjadinya pasar kompetitif. Dan yang kedua adalah mengenai industrialisasi yang akan berdampak pada keadaan labor-saving. Industrialisasi dianggap akan membawa pada keadaan dimana labor tidak akan lagi dibutuhkan, karena peranannya digantikan oleh teknologi, padahal di negara-negara periphery, labor adalah sumber daya utama.

            Cardoso menolak tesis tersebut. Ia beranggapan bahwa kapitalisme dapat diterapkan di mana saja. Faktor dominan yang akan menentukan apakah ia akan berhasil atau tidak adalah prinsip dinamisme yang dimiliki oleh kapital itu sendiri. Artinya, prinsip dinamis dari kapital masih terjaga, maka kapitalisme akan mampu untuk “menjalankan tugasnya” dalam upaya peningkatan ekonomi suatu negara. Yang terjadi di kawasan Amerika Latin dari penerapan resep kapitalisme adalah terfokusnya kapital pada satu kawasan tertentu saja. Kapital, baik dari nasional maupun dari investasi asing, hanya terpusat di tempat tertentu, yang mengakibatkan ia berkembang dalam satu spriral yang statis. Konstelasi ini mengakibatkan penyebaran kapital tidak setara, sehingga kemajuan ekonomi yang dijanjikan pun tidak menyeluruh, hanya meliputi kawasan dan kalangan tertentu saja. Ketimpangan inilah yang kemudian mengakibatkan tetap kerdilnya tingkat ekonomi di kawasan ini meski telah menerapkan resep yang telah berhasil di negara-negara barat.

            Tesis kedua adalah “Esensi dari kapitalisme adalah eksploitasi buruh dan pemberian upah yang minimum”. Tesis ini berangkat dari prinsip efisiensi di dalam teori ekonomi, yang mengatakan bahwa setiap kegiatan ekonomi ditujukan untuk memaksimalkan keuntungan dan meminimalkan cost. Untuk memaksimalkan keuntungan, buruh sebagai salah satu faktor penting dalam kegiatan produksi, dituntut untuk menampilkan kinerja yang optimal, sehingga produktivitas dari suatu perusahaan akan meningkat dan pada akhirnya keuntungan yang didapat oleh perusahaan tersebut akan meningkat pula. Sedangkan untuk meminimalkan cost, perusahaan-perusahaan melakukan kebijakan pemberian upah minimal.

            Tesis ini memiliki dua kelemahan. Pertama adalah ia menegasikan pentingnya peranan saving. Di sini, tesis ini hanya melihat aspek ekonomi dari kacamata perusahaan, tidak pada buruh atau masyarakat di wilayah tersebut. Sehingga, bagi perusahaan, hal tersebut dinilai menguntungkan. Namun, bagi pihak masyarakat, tentu tidak. Masyarakat hanya akan mendapatkan upah minimal, yang hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan primernya saja, tanpa memiliki kemampuan untuk melakukan saving. Padahal, dengan saving, suatu negara dapat mengembangkan kapitalnya sendiri, sehingga tidak perlu mengandalkan investasi atau utang dari luar negeri untuk mengembangkan ekonominya.

Kelemahan kedua adalah mengenai kemampuan pasar dalam menyerap hasil produksi. Dengan meminimalkan upah, maka mayarakat hanya akan memenuhi kebutuhan primernya saja. Kemudian, apa yang terjadi pada perusahaan-perusahaan yang memproduksi barang-barang tersier, seperti perusahaan mobil atau perhiasan misalnya. Perusahaan-perusahaan ini akan kesulitan untuk memasarkan produknya, karena pada dasarnya kemampuan masyarakat untuk membelinya sangat kurang dikarenakan upah yang minimal. Akibatnya adalah perekonomian akan bersifat statis, dan oleh karenanya ia tidak akan berkembang ke arah yang diinginkan.

Pemberian upah buruh yang minimal hanya dibutuhkan dalam proses awal dari restrukturisasi ekonomi ke arah kapitalisme saja[2]. Hal ini dikarenakan perusahaan memang diharapkan untuk berkembang. Namun, setelah sistem ekonomi ini diimplementasikan, hal ini harus dihapuskan, demi terciptanya suatu pasar yang kondusif bagi sistem perekonomian tersebut.

Tesis ketiga adala “Hilangnya peranan tokoh borjuis lokal di dalam kehidupan sosial”. Tesis ini beranggapan bahwa di era kapitalisme, peranan dari tokoh-tokoh borjuis lokal, yang sebelumnya merupakan tokoh pemimpin dari masyarakat, akan tergantikan oleh borjuis-borjuis baru, yaitu para korporasi atau perusahaan besar. Bahkan di dalam struktur politik, perusahaan-perusahaan besar lah yang memiliki suara terbesar dalam penentuan kebijakan di dalam suatu negara.

Dalam hal ini, perlu dipahami mengenai konsep borjuis lokal. Borjuis lokal merupakan kelompok-kelompok yang mendominasi elit-elit politik di negara-negara di kawasan Amerika Latin. Mereka adalah kelompok yang memiliki perkebunan (hacienda) yang juga kemudian mengatur kehidupan sosial di wilayahnya masing-masing. Cardoso menolak asumsi tesis tersebut. Terlebih, Cardoso beranggapan bahwa kelompok borjuis lokal telah bertransformasi menjadi sebuah birokrasi yang masih cukup dominan dalam bidang politik dan kontrol sosial. Sehingga, peranannya di kehidupan tidak akan hilang, walaupun terdapat suatu indikasi bahwa kelompok-kelompok ini, secara praktis, tidak menolak adanya perubahan struktur ekonomi. Sebaliknya, kelompok ini bertransformasi menjadi kelompok Internationalized Bourgeoisies.

Tesis keempat adalah “penetrasi dari perusahaan multinasional akan membuat State berorientasi pada kegiatan ekspansi pasar”. Masuknya investasi asing sebagai akibat dari globalisasi ekonomi akan membuat suatu negara, di manapun negara tersebut berada, akan terinvasi secara ekonomi oleh perusahaan-perusahaan besar multinasional. Di sini, perusahaan-perusahaan asing yang mengekspor barangnya ke suatu negara, akan bersaing dengan perusahaan-perusahaan lokal. Trend yang terjadi di sini adalah perusahaan-perusahaan asing akan memiliki kesempatan yang lebih besar dalam meraih keuntungan dan keberhasilan dalam persaingan tersebut daripada perusahaan lokal, karena mereka pada dasarnya memiliki kapital yang jauh lebih besar daripada perusahaan-perusahaan lokal. Dengan kapital yang besar, perusahaan-perusahaan asing membuka cabang di berbagai negara, sehingga keuntungan yang diraih akan semakin besar pula.

Cardoso menyangkal tesis tersebut. Dalam pendapatnya, Cordoso menjelaskan bahwa untuk masuk ke tahap ekspansionis, suatu negara harus mengkonsentrasikan keunggulan komparatifnya, sehingga ia akan meraih keuntungan ekonomis yang sangat signifikan[3]. Sementara, apa yang terjadi di Brasil, sesuai dengan penelitian yang dilakukan olehnya, menunjukkan hal yang sebaliknya. Di Brasil, penyumbang angka tertinggi dari hasil kegiatan ekonomi yang paling banyak datang dari produk-produk yang tidak terkonsentrasi untuk ekspor. Artinya adalah suatu negara tidak selalu perlu untuk melakukan konsentrasi suatu produk untuk kemudian dikembangkan ke arah ekspansionis ke pasar internasional demi mengejar keuntungan ekonomi. Keuntungan ekonomis dapat diperoleh melalui cara lain, seperti dengan menciptakan suatu keadaan yang “sehat” bagi seluruh pihak yang berperan di dalamnya, terutama bagi pihak lokal. Sehingga, perekonomian lokal akan ikut terangkat, tanpa perlu melakukan ekspansi pasar.

Tesis yang kelima, yang coba untuk disangkal oleh Cardoso adalah mengenai “Politik di Amerika Latin hanya ada dua ideologi, Fasisme atau Sosialisme”. Pada dasarnya, kedua ideologi tersebut berseberangan dengan ideologi liberalisme, yang mendukung adanya revolusi ekonomi ke arah yang lebih bebas berdasarkan pada asas kapitalisme. Oleh karenanya, sering kali sistem politik yang demikian dianggap tidak demokratis dan sering kali ditentang oleh pihak negara-negara barat. Sistem politik di negara-negara di kawasan Amerika Latin, oleh beberapa kalangan, dianggap terjebak diantara dua pilihan, Fasisme atau Sosialisme. Fasisme merupakan suatu bentuk pemerintahan diktator oleh satu orang tokoh, sedangkan Sosialisme merupakan suatu sistem pemerintahan komunisme, yang mendasarkan tindakannya berdasarkan pada asas sama rata dan sama rasa.

Cardoso beranggapan bahwa munculnya trend tersebut dikarenakan adanya arus balik dari liberalisasi ekonomi yang diterapkan, yang mana arus balik tersebut tidak membawa dampak yang positif melainkan malah mebawa dampak yang negatif. Liberalisasi ekonomi yang pada dasarnya ditujukan pada perkembangan dan pencapaian kemakmuran malah membawa dampak yang sebaliknya, yaitu adanya kemiskinan dan ketimpangan di mana-mana. Oleh karenanya, di saat yang krisis seperti itu, muncul kaum-kaum revolusioner yang ingin mendobrak dan mendekonstruksi sistem yang ada. Namun pada saat tidak terjadi krisis, gelombang arus balik tersebut hampir tidak tampak dalam kehidupan sehari-hari.

Selain itu, terminologi “fasisme” dan “sosialisme” yang muncul di sini tidak serta merta menyebabkan suatu negara di Amerika Latin menerapkan prinsip tersebut di setiap kehidupan yang ada. Yang terjadi adalah otoritas lokal memegang kontrol pada suatu aspek tertentu yang produktif untuk kemudian dikelola secara maksimal oleh negara, tanpa mengganggu aspek-aspek ekonomi yang lain. Hal ini dikarenakan oleh banyak hal, seperti otoritas asing tetap diberikan ruang gerak pada sektor-sektor tertentu, dan sektor yang diambil alih oleh otoritas lokal adalah yang dianggap paling produktif dan strategis saja. Dengan demikian, adanya kebijakan tersebut tidak serta merta menjadikan negara-negara di kawasan ini sebagai negara yang anti demokrasi.

Tulisan dari Cardoso ini ditujukan untuk memberikan pertimbangan-pertimbangan lain mengenai gambaran tentang apa yang sebaiknya dilakukan untuk menyelesaikan masalah, terutama masalah ekonomi, di kawasan Amerika Latin. Hal ini dianggap sangan penting, karena pemahaman yang salah akan suatu akar masalah serta tidak tepatnya suatu solusi akan memperburuk suatu keadaan. Hal ini sesuai dengan kalimat terakhir pada artikel tersebut yang ditulis oleh Cardoso, “The pieces of the puzzle are the same, but the way they go together is different”.

 

Referensi :

Teichman, Judith. 2001. Latin America in the Era of Globalization : Inequality, Poverty, and Questionable Democracies. University of Toronto

Cardoso, F.H. 1977. Current Theses on Latin American Development and Dependency : A Critique, in Boletin des Etudios Latinoamericanos y del Caribe.  No. 22, pp 53-64c



[1] Dalam teori liberal klasik oleh Adam Smith, dijelaskan bahwa suatu negara dapat berkembang tingkat ekonominya dengan cara menciptakan suatu pasar yang bebas dan kompetitif, tanpa campur tangan dari pihak otoritas, seperti negara. Otoritas tertinggi di ekonomi adalah “Invisible Hand”, yang tercipta dari keadaan kompetitif di dalam kegiatan ekonomi

[2] Amerika Serikat pernah melakukan hal tersebut, dengan kebijakan yang dikenal dengan Fordism. Namun, kebijakan tersebut sekarang tidak lagi digunakan, dengan bukti standar upah di Amerika Serikat jauh lebih tinggi daripada upah buruh di negara-negara berkembang. Kebijakan tersebut dilakukan oleh Amerika Serikat dalam rangka mengatasi depresi ekonomi yang melanda pada saat itu.

[3] Hal ini sesuai dengan teori Comparative Advantage dari David Ricardo, yang menyebutkan bahwa suatu negara akan dapat mengoptimalkan keuntungan ekonomisnya apabila ia memaksimalkan keunggulan komparatifnya. Dengan demikian, jika setiap negara melakukan hal yang sama, maka trade akan terjadi, dan masing-masing negara akan meraih keuntungan dari trade tersebut.

 

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :