INDIRA AGUSTIN


Berpacu menjadi yang terbaik

Masyarakat, Budaya dan Politik Guyana: Guyana (British Guiana)

Guyana merupakan sebuah negara yang berada di wilayah timur laut Amerika Latin. Masyarakatnya didominasi oleh penduduk yang berasal dari India Timur. Masyarakat di sana mengalami dua masa kolonialisasi yang berbeda, yakni oleh Belanda pada 1580-1803 dan oleh Inggris pada 1803-1966. Usaha atas pemenuhan kebutuhan mulai terlihat dalam skala besar pada tahun 1613, dimana masyarakat mulai menanam tembakau sebagai komoditas utama, yang kemudian bergeser menjadi gula pada 1637. Dalam sistem produksi gula sebagai komoditas utama tersebut, mereka memanfaatkan tenaga kerja orang-orang Afrika sebagai budak. Selang beberapa abad kemudian terjadi penghapusan sistem perbudakan orang Afrika yang berakibat pada menurunnya tingkat produksi pertanian. Dari sini kemudian pemanfaatan lahan bergeser menjadi desa-desa kecil dan muncullah pemilik-pemilik tanah. Orang-orang India disini kemudian mencari alternatif tenaga kerja lain, yakni selain Afrika yaitu orang-orang Cina dan Portugis. Populasi mereka pun berkembang dengan seimbang hingga akhirnya di ujung abad ke-20 terjadi penurunan populasi orang Afrika dan naiknya ras campuran di Guyana. Gibson (2006) dalam artikelnya yang berjudul The Dualism of Good and Evil and East Indian Insecurity in Guyana menyebutkan bahwa hal ini disebabkan oleh adanya dehumanisasi terhadap orang-orang kulit hitam akibat dominasi orang-orang India dalam politik pemerintahan pada tahun 1992 melalui People’s Progressive Party (PPP). Dari sini terlihat adanya sisi rasisme, yang diartikan sebagai the prejudication of decisions and policies on considerations of race for the purpose of subordinating a racial group and maintaining control over that group (Carmichael & Hamilton, 1967 dalam Gibson, 2006:365).

Guyana merupakan salah satu negara yang beberapa nilai kebudayaan dan ideologinya dipengaruhi oleh ajaran agama Hindu. Sayangnya, walaupun memiliki dasar agama, masyarakat Guyana memiliki nilai-nilai yang pada taraf tertentu tidak memiliki sifat humanis. Pengaruh agama Hindu yang dibawa oleh orang-orang India yang kemudian mengakar kuat menjadi budaya sering kali menimbulkan masalah-masalah politik yang dalam praktiknya mengatasnamakan ketuhanan.

Secara umum, manusia, dalam kehidupan yang dijalaninya sehari-hari, memang selalu memandang adanya sisi baik dan buruk atas segala sesuatu. Asumsi atas nilai kebaikan dan keburukan ini didominasi oleh nilai-nilai yang diajarkan suatu agama yang dianutnya. Ironisnya, dalam perkembangan sejarah dunia, banyak sekali ditemukan tindakan-tindakan politis yang mengatasnamakan agama atau Tuhan, yang malah menuntun manusia ke arah kekacauan (chaos). Misalnya adalah Amerika Serikat yang memposisikan dirinya sebagai bangsa yang memposisikan dirinya sebagai bangsa yang ditunjuk oleh Tuhan; Hitler yang mengatakan bahwa tugasnya membantai Yahudi adalah atas nama Tuhan; serta Al-Qaeda yang mengatasnamakan ketuhanan dalam melancarkan segala tindak terorisme. Sehingga, hal ini menjadikan agama dianggap memiliki sifat dualism terhadap nilai kebaikan dan keburukan yang diterapkannya, dimana di satu sisi keburukan dilarang untuk dilakukan, tetapi ia akan menjadi sah apabila diterapkan demi tegaknya agama tersebut.

Dalam ajaran agama Hindu dikenal adanya sistem kasta, yaitu pembagian kelas sosial yang cenderung statis. Sistem kasta dalam ajaran agama Hindu tersebut dinekal juga dengan istilah Chatur Varna. Dalam system kasta tersebut, masyarakat terbagi ke dalam empat kelas yang berbeda. Keempat kelas tersebut adalah Brahmana yang diwakili oleh warna putih bertugas sebagai pemuka agama; Ksatria yang diwakili oleh warna merah bertugas sebagai pejuang; Waisya yang diwakili oleh warna kuning bertugas sebagai pedagang; dan Sudra yang diwakili oleh warna hitam bertugas untuk membantu kelompok-kelompok kasta lain (Gibson, 2006:368). Semakin putih warna kelas mereka maka semakin suci kelas tersebut.

Di Guyana asumsi ini berimplikasi besar. Kasta Sudra, yang diwakili oleh warna “hitam”, didefinisikan dan diaplikasikan secara objektif kepada semua orang di Guyana, baik yang berkulit hitam maupun yang non-Hindu, serta mereka dianggap sebagai bukan manusia—they are perceived as being outside the pale of humanity (Gibson, 2006:368). Kaum Sudra tidak memilikki hak sipil dan hak beragama, apalagi moral. Di sisi lain, kaum Brahma berwenang atas segala yang ada di dunia, dimana selain mereka hidiup di dunia atas kedermawanan mereka. Sistem kasta ini kemudian dipandang Gibson (2006) memiliki sifat dualism, terkait dengan asumsi terhadap baik dan buruk. Di satu sisi, keburukan, atau hal-hal yang dianggap buruk oleh agama, tidak diperkenankan untuk dilakukan. Namun di sisi lain, keburukan tersebut diperbolehkan demi menegakkan agama tersebut. Dalam hal ini, kelompok yang dianggap baik selalu merasa berhak untuk memaksa mereka yang buruk dalam rangka menuntut mereka pada kebaikan dengan kekuatan dan hak yang dimilikinya. Kelompok yang “baik” tersebut didominasi oleh kelas Brahma, yang kemudian kelompok yang “buruk” diaplikasikan pada masyarakat yang beragama lain.

Sementara itu orang-orang kulit hitam Afrika dianggap mengancam keamanan orang-orang India Timur. Dalam kisah Hindu, Lord Rama membunuh iblis Rahwana, karena Rahwana telah berbuat kejahatan dengan menculik istri dari Rama, yaitu Sinta. Orang-orang berkulit hitam (orang-orang ras Afrika) di Guyana dianggap oleh orang-orang ras India di sana sebagai demonic species, which are by nature full of lust, violent, hateful, and unclean, and gradually they sink to become dogs and hogs (Gibson, 2006:371). Masalah rasisme ini menjadi sebuah ironi di masyarakat Guyana, karena pada pertengahan abad ke-20 sempat terjadi persatuan di antara semua penduduk Guyana, baik yang berasal dari ras India  maupun kulit hitam Afrika untuk melawan kolonialisme Inggris. Namun, dengan cepat persatuan tersebut berubah menjadi permusuhan dan bentrok akibat keduanya saling mendukung pemimpin dari kelompok rasnya masing-masing, ras India mendukung Cheddi Jagan dan Afrika mendukung Forbes Burnham. Akan tetapi kemenangan dapat dengan mudah diraih oleh orang-orang dari ras India karena jumlah mayoritas masyarakatnya. Dari sini partai pergerakan orang Afrika People’s Natinal Congress (PNC) seketika menjadi oposisi dan mulai menjadi otoriter selama 1968-1992 (Gibson, 2006:374).

Orang ras India tidak senang atas kuasa yang dimiliki oleh orang Afrika dalam pemerintahan. Maka untuk mencegahnya, orang-orang Afrika kemudian didehumanisasi, dicap sebagai musuh terburuk, didiskreditkan sebagai kriminal, pembunuh, dan bahkan pencabul. Ras Afrika dianggap sebagai ancaman terhadap keamanan dan bahkan eksistensi orang-orang ras India. Hal ini dimasukan ke dalam kebijakan nasional dimana Presiden—tidak hanya membenarkan adanya yang baik dan yang buruk—membenarkan bahwa pembunuhan terhadap warga dari ras Afrika adalah suatu kebenaran. Hingga memasuki abad ke-21 perlakuan terhadap orang kulit hitam Afrika mengarah pada genosida. Perlakuan orang India Timur kepada orang kulit hitam Afrika ini bukannya tanpa sebab, Gibson (2006) mengemukakan,

”That East Indian perceive themselves as a group under siege is indicated by their definitions of Africans but by their definition of themselves as innocent victims whose existence is threatened by the Black African-Guyanese who are perceived as the source of evil” (Gibson, 2006:376).

Sementara itu dari sudut pandang orang kulit hitam sendiri dilihat sebagai pencuri,” the only thing them coolie boys want is some food to put in they stomach and to be in position to thief the money” (Gibson, 2006:377). Hal tersebut tidak lepas dari diskriminasi, yang secara legal, baik secara agama maupun hukum yang berlaku di Guyana, yang diterapkan terhadap kelompok ras Afrika tersebut. Keberadaan ras Afrika di Guyana akan selalu dianggap sebagai demonic creature, yang dapat mengancam eksistensi dari kelompok ras India di sana, sehiingga selamanya kelompok ras Afrika ini akan terus ditempatkan dalam kasta terbawah di dalam sistem kasta yang ada.

Kuatnya pengaruh agama Hindu telah menuntun masyarakat Guyana ke dalam jurang ketidakmanusiawian. Nilai-nilai humanis dan kesetaraan derajat seakan-akan tergerus oleh ideologi Hindu tersebut, sehingga masyarakat Guyana melegalkan diskriminasi terhadap kelompok ras Afrika. Kelompok ras India menggunakan ajaran agama sebagai legitimasi dalam menerapkan kebijakan-kebijakan dehumanisasi tersebut. Walaupun legalisasi atas kebijakan-kebijakan diskriminatif tersebut berdasarkan agama, tindakan tersebut menurut kami adalah salah. Agama, seharusnya, menuntun manusia pada suatu moral dan kebaikan yang hakiki, walaupun pada titik tertentu kebaikan tersebut bersifat sangat subyektif. Agama seharusnya membawakan berkah bagi semua alam semesta. Adanya dualism dalam penerapan agama di dalam kehidupan adalah dikarenakan atas ulah manusia itu sendiri, yang salah dalam menerapkan konsep-konsep yang ada di dalam suatu agama.

 

 

Referensi:

Gibson, K. 2006, “The dualism of good and evil and east Indian insecurity in Guyana,” in Journal of Black Studies, Vol. 36, No. 3, pp 362-381.

 

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :