INDIRA AGUSTIN


Berpacu menjadi yang terbaik

Masyarakat, Budaya dan Politik Andes: Venezuela

Bagaimanakah kondisi kontemporer negara-negara di Andes Apakah prospek dan tantangan yang dihadapi?

 

Venezuela merupakan salah satu negara demokrasi yang mempunyai banyak partai politik dengan jumlah partai politik yang memiliki massa dalam jumlah yang besar. Perpolitikan Venezuela dapat dikatakan termasuk salah satu yang unik, dimana ia hampir sama dengan negara-negara Amerika Latin yang lain dimana dalam pemerintahan perlu dilakukan suatu pemberontakan untuk menggantikan rezim yang sedang berkuasa, baik sejak pada kolonialisme Spanyol hingga masa pemerintahan oleh orang-orang lokal. Namun ia juga dapat dikatakan berbeda dengan perpolitikan di negara-negara lain di Amerika Latin, dimana ketika pada pertengahan abad ke-20 pemerintahan di hampir semua negara Amerika Latin didominasi oleh kekuatan militer, di Venezuela justru proses demokrasi tengah berlangsung.

Dimulai pada masa kolonialisme Spanyol, dimana saat itu, di abad 18 hingga 19, otoritas Spanyol dalam pemerintahan sangat lemah, dimana hal ini justru menguatkan keberadaan elit-elit politik lokal yang menimbulkan sikap responsive terhadap seluruh masyarakat. Lebih jauh hal ini kemudian mendorong adanya usaha pencapaian kemerdekaan.

Segera setelah mencapai kemerdekaan, Venezuela dipimpin oleh Ezequiel Zamora pada 1859-1863, seorang liberal, yang memungut pajak sebesar 5% dengan alasan pembangunan. Jatuhnya Zamora adalah karena diberontak oleh seorang yang anti demokrasi liberal Antonio Guzman Blanco. Guzman Blanco yang memerintah pada 1870-1888, merupakan seorang yang korup namun tetap memperhatikan adanya pembangunan. Dalam masa pemerintahannya ia mewajibkan sekolah dasar dan membangun banyak diantaranya serta melegalisasi pernikahan, dan lain sebagainya.

Periode selanjutnya adalah masa pemerintahan dengan slogan “New Men, New Ideals, New Methods” oleh Cipriano Castro pada 1899-1908 dan Juan Vicente Gomez pada 1908-1935. Castro merupakan seorang pemimpin yang diktator sementara Gomez merupakan seorang pemimpin yang kejam dan bengis. Meski demikian ia tetap melaksanakan pembangunan. Mulai dari membangun national army, hingga membuat Venezuela menjadi negara pengekspor minyak terbesar di awal 1920an. Akan tetapi dari sini pula muncul adanya kelas-kelas menengah dan kelas pekerja yang membentuk gerakan demorasi politik, yang nantinya menentang diktatorial Gomez.

Selanjutnya yaitu pemerintahan Eleazar Lopz Contreras pada 1936-1941 dan Isaias Medina Angarita pada 1941-1945. Keduanya memberontak terhadap pemerintahan Gomez yang diktator kemudian menjalankan pemerintahan yang demokratis. Terlihat dari adanya legalisasi partai politik dan persatuan buruh, kebebasan berpendapat, dan pembaruan terhadap sistem pemilihan. Lopez juga membentuk Hukum Keamanan Sosial pada tahun 1940 dan Instistusi Keamanan Sosial Venezuela oleh Medina pada 1944.

Setelah adanya legalisasi partai politik di Venezuela, muncullah  dua partai yang mendominasi di Venezuela, yaitu Democratic Action (AD) dan Social Christian (COPEI). Kekuasaan yang diperoleh AD pasca pemerintahan Medina pada 1945-1948, dirasa cukup singkat. Namun AD berhasil memperdalam langkah menuju reformasi, modernisasi, dan demokrasi di Venezuela. Untuk selanjutnya pemimpin silih berganti berasal dari parta AD dan COPEI. Pada tahun 1958 ada Romulo Bentacourt yang berasal dari AD. Pada 1963 terdapat Raul Leoni yang juga berasal dari AD. Dan pada tahun 1968 terdapat Rafael Caldera yang berasal dari COPEI. Diantaranya pada tahun 1961 dibuatlah sebuah konsep konstitusi nasional. Pasca 1958 juga dilakukan pembangunan dan diversifikasi ekonomi.

Kemudian pada tahun 1974, pemerintah diambil oleh Carlos Andres Perez yang melakukan banyak hal dalam pembangunan. Dalam hal ekonomi, ia menasionalisasi industri besi dan minyak, strategi yang disebut sebagai “Evolutionary Socialism”. Hal ini disebabkan pemikiran yang neoliberalis justru ia anggap akan membawa stagnansi ekonomi. Menurut Ellner (2005) terdapat beberapa hal yang menyebabkan demokrasi di Venezuela tidak dapat membawa kemajuan ekonomi secara signifikan. Alas an yang oertama adalah kebijakan politik mengenai intervensi Venezuela yang bias, kadangkala berlawanan dengan tujuan pembangunan negara. Alasan yang kedua yaitu banyaknya korupsi dan nepotisme oleh partai-partai yang dominan, yang seharusnya bertanggung jawab atas produksi negara dalam tingkat yang rendah pada berbagai bidang, yang pada akhirnya memudahkan pengambil-alihan oleh pihak swasta. Alasan yang ketiga adalah pasca 1958, pemerintah gagal menbuat prioritas-prioritas atas tujuan-tujuan yang ada, disebabkan oleh ketergantungan terhadap modal asing dan adanya kemajuan teknologi. Alas an terakhir yaitu meskipun sudah memiliki hard currency yang berlimpah akibat harga minyak yang melambung, namun hutang luar negerinya juga naik, yang akhirnya memakan anggaran negara untuk tahun-tahun selanjutnya.

Pemerintahan demokratis di Venezuela hanya berlangsung pada pertengahan abad ke-20. Di penghujung abad 20, tepatnya pada 27 Februari 1989, terjadilah Caracazo, sebuah kejadian yang kemudian mengubah banyak hal di kemudian hari. Tidak hanya mengakhiri kekuasaan dan hegemoni kedua partai dominan tadi, Caracazo juga membuat banyaknya privatisasi yang terjadi dalam berbagai bidang seperti telekomunikasi, industri baja, penerbangan nasional, dan lain sebagainya untuk menggantikan intervensi negara khususnya dalam perekonomian. Perez dijatuhkan.

Sejak saat itu pula krisis politik di Venezuela makin terlihat. Dimana diversifikasi ekonomi yang berlangsung sejak lama kemudian berubah. Harga minyak jatuh, banyak prang semakin miski akibat kehilangan pekerjaan yang hampir mencapai 60%. Sehingga akhirnya Perez dan AD kehilangan kredibilitasnya. Kemudian pada 1993, Rafael Caldera yang memenangi pemilu, masih mempertahankan kebijakan intervensionis seperti Perez. Namun hal ini tidak berlangsung lama. Neoliberalisme mulai diberlakukan memasuki tahun ketiga pemerintahannya. Hal ini tidak lain dilakukan setelah diadakannya negosiasi dengan IMF.

Pada tahun 1998, terpilihlah Hugo Chavez sebagai pemimpin dengan memperoleh 56% suara, dimana sebelumnya ia telah populer dengan memimpin pemberontakan melawan kedua partai dominan. Meski tetap mempertahankan demokrasi, namun yang diterapkannya adalah model demokrasi partisipan. Pemerintahan Chavez ini juga menyebabkan Venezuela makin menjauh dari AS. Puncaknya ialah ketika Chavez dengan para pengikutnya membuat konsep konstitusi yang baru dan menolak konstitusi tahun 1961. Tentu hal ini tidak berjalan mulus, ada beberapa oposisi seperti AD, COPEI, MAS (Movements towards Socialism), dan CTV (Confederation of Venezuelan Workers), yang kemudian beraliansi menjadi FEDECAMARAS yang dipimpin oleh Pedro Carmona. Dalam pandangan mereka, konstitusi yang baru ini akan menguatkan posisi eksekutif dan merusak sistem check and balances yang ada.

 

Referensi:

Ellner, Steve. 2005. “Venezuela A Model Democracy in Crisis,” in Black, Jan Knippers. 2005. Latin America: Its problem and Its Promise, 4th edition, Chapter 21.

 

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :