INDIRA AGUSTIN


Berpacu menjadi yang terbaik

Masyarakat, Budaya, dan Politik Argentina

Argentina merupakan salah satu negara yang terletak di bagian selatan benua Amerika dan menjadi negara terbesar ke-8 di dunia. Dengan luas wilayah yang mencapai 2.767.000 km2, Argentina bukanlah negara yang pada penduduknya, mengingat populasinya hanya terdapat 38 juta jiwa pada tahun 2003. Secara umum Argentina merupakan negara agrikultur, dengan kondisi geografis yang mendukung pertanian dengan sangat baik oleh adanya wilayah “pampa” yang cukup luas.

Dalam sejarahnya, Argentina mengalami banyak gejolak utamanya dalam hal ekonomi dan politik. Di mulai pada awal abad ke-19 ketika terjadi disintegrasi di sana. Disintegrasi ini terjadi antara kota Buenos Aires dengan provinsi-provinsi lain. Adanya struktur yang menghasilkan sentralisasi oleh dominasi Buenos Aires membuat provinsi lain menginginkan adanya restrukturisasi dan membentuk negara federal (Calvert, 2005:542). Selain itu perbedaan yang mencolok dalam hal kesejahteraan masyarakat di Buenos Aires dengan yang berada di provinsi-provinsi lain. Dimana kemakmuran yang ada di Buenos Aires berkebalikan dengan yang terjadi di provinsi lain, yang jauh tertinggal.

Pada tahun 1835, muncul seorang caudillos Juan Manuel de Rosas yang memenuhi keinginan provinsi-provinsi yang ada dengan memberikan otonomi bagi masing-masing wilayah. Maksud lain dari hal ini pada awalnya adalah usaha pencapaian legitimasi sebagai pemimpin nasional, yang rupanya kemudian dapat mempersatukan provinsi-provinsi tersebut dalam satu kesatuan. Pemerintahannya berlangsung hingga pertengahan abad 19 hingga akhirnya ia diasingkan ke Inggris oleh oposisinya, yang kemudian mengambil alih pemerintahan dan menciptakan sebuah konstitusi federal yang membentuk negara Republik Argentina. Unifikasi Argentina oleh de Rosas sempat mengalami pasang surut. Dimana beberapa kali terjadi konfrontasi militer antar beberapa provinsi. Dan dari hal tersebut, pada akhirnya Buenos Aires dapat menggantikan Rosario sebagai ibukota federal. Pada masa sebelumnya, perekonomian didominasi oleh pengembangan bidang agrikultural. Dimana kemudian dilakukan beberapa kebijakan yang berpengaruh pada sebuah transformasi ekonomi yang berlangsung hingga pertengahan abad 20, yakni berupa (1) masuknya investasi Inggris, (2) imigrasi penduduk Eropa, (3) perluasan jalur kereta api dan peningkatan produksi daging, gandum, dan wol untuk kemudian di ekspor (Calvert, 2005:542). Transformasi ekonomi tersebut pada awalnnya menguntungkan bagi para tuan tanah atau Baron yang mendominasi dunia politik, akan tetapi kemudian muncul adanya dua kelas dalam masyarakat, yaitu kelas professional yang terdiri dari para banker, makelar, dan pengacara; dan kelas pekerja yang umumnya merupakan imigran. Meski demikian ekonomi Argentina mengalami kejayaan pada saat itu.

Memasuki penghujung abad 19 mulai muncul partai dalam dunia politik Argentina, seperti Partai Radikal dan Partai Sosialis. Namun demikian pada awalnya pembentukan partai tidak menyebabkan perubahan pada pemerintahan, yakni tetap didominasi oleh para pemilik tanah dan dengan sistem yang oligarki. Di awal abad 20 baru mulai terlihat adanya usaha pencapaian demokrasi oleh Presiden Roque Saenz Pena yang konservatif, yang ingin mengurangi adanya electoral corruption melalui pemilu secara tertutup dan menggunakan surat suara yang dirahasiakan. Hasilnya kemudian terlihat pada pemilu selanjutnya yang memenangkan Presiden Hipolito Yrigoyen dari partai Union Civica Radical (UCR) dengan perolehan suara terbanyak.

Demokrasi yang mulai terbentuk itu kemudian mengalami degradasi memasuki era Perang Dunia II. Dimana ketika itu Argentina turut memasok daging dan gandum untuk piohak aliansi. Yang mana hal ini kemudian memecah masyarakat Argentina. Sebagian dari mereka mendukung pihak Aliansi, sebagian lagi mendukung pihak Axis dan mengagumi keahlian militer Jerman, dan sebagian menjadi isolasionis. Pada masa ini pemerintahan kembali menjadi oligarki, hasil koalisi dari para konservatif dan antiradikalis, yang didukung oleh kekuatan militer.

Titik balik dari hal tersebut kemudian adalah pada tahun 1943, dengan terpilihnya Colonel Juan Domingo Peron, yang berbasis militer sehingga masih membawa sifat diktatornya dalam pemerintahan. Ia melakukan reformasi terhadap buruh dan mendorong unionisasi tanpa oligarki. Ia berkuasa hingga 1955 dengan melakukan berbagai amandemen terhadap konstitusi. Di sisi lain, selama pemerintahannya terjadi peningkatan kesejahteraan sosial, oleh adanya kontrol pemerintah terhadap industrialisasi. Akan tetapi ada hal yang dialalikan oleh Peron, yakni pengembangan bidang agrikultural, yang  merupakan salah satu ciri khas Argentina. Dan sejak 1951, perekonomian mulai menurun dan terjadi inflasi. Di tahun 1954 semakin banyak modal asing yang masuk dan ia kian ditentang oleh banyak kalangan. Meski akhirnya ia diasingkan ke Spanyol pada September 1955, namun warisan dan pergerakan politiknya tetap bertahan dan kemudian membentuk dasar politik pada masa selanjutnya di Argentina (Calvert, 2005:544).

Peron kemudian digantikan oleh Gen Pedro Aramburu yang menghabisi dan memblokade segala akses Peronist dan Radikalis ke dalam politik pemerintahan. Masa pertengahan hingga penghujung ini silih berganti menghasilkan presiden baru seperti Arturo Illia (1963), Juan Carlos Ongania (1966), Gen Roberto (1970), Gen Alejandro Lanusse (1971), Hector Campara (1973), Isabelita (1974), namun tidak membawa perkembangan yang cukup signifikan seperti yang dilakukan Peron. Mereka datang dengan latar belakang partai yang berbeda-beda –Radikalis, Peronis atau Montoneros. Dalam hal politik, banyak terjadi pemberontakan oleh gerakan-gerakan gerilya yang menghindari adanya represi militer. Dimana militer sendiri sempat terpecah namun dapat menggalang kembali kekuatan mereka dan merebut kekuasaan pemerintahan pada 1976. Sementara secara ekonomi perkembangannya pun tidak lebih baik.

 Periode berikutnya adalah periode junta dan Dirty War. Yakni pada masa pemerintahan Gen Jorge Videla pada 1978 yang berusaha mere-organisasi negara dan membasmi terorisme melalui terror-teror. Akibatnya justru banyak korban berjatuhan yang konon mencapai puluhan ribu jiwa. Hingga akhirnya kekacauan yang dilakukan oleh para Montoneros dan Radikalis yang berusaha mengalihkan perhatian pemerintah dan militer dari terror yang dilakukan. Pada 1981 pemerintahan diambil alih oleh Roberto Viola yang pada masanya perekonomian semakin menurun. Sehingga di tahun yang sama ia digantikan oleh Gen Lopoldo Fortunato Galtieri.

Masa pemerintahan Galtieri diwarnai permusuhan antara demonstran dengan pemerintah, dimana pada saat itu Argentina kalah dengan Inggris dalam memperebutkan Kepulauan Falklands dengan strategi kelautan, dan membuat masyarakat Argentina merasa terhina (Calvert, 2005:546).  Hingga kemudian Galtieri digantikan oleh Reynaldo Bignone pada 1983 yang juga hanya sesaat dan digantikan oleh Raul Alfonsin di tahun yang sama. Di sini Alfonsin tidak berusaha melanjutkan usaha demokratisasi, dan menghadapi permasalahan negerivyang sangat banyak. Dengan hutang luar negeri sebesar US$ 40 miliar, hiperinflasi, stagnansi ekonomi, juga tuntutan penyelesaian kasus Dirty War. Dan terdapat dua isu yang paling mendominasi selama masanya, yakni hubungannya dengan militer dan pemulihan ekonomi. Namun pada akhirnya Alfonsin gagal memulihkan ekonomi. Persatuan perdagangan dikuasai oleh Peronist. Berbagai usaha dilakukan hingga Austral Plan yang kedua, yang berisi devaluasi, penaikan upah dan harga, dan menurunkan suku bunga. Akan tetapi usaha ini tetap gagal dan justru membuat negara defisit. Hingga akhirnya Bank Dunia menangguhkan bantuan keuangan pada Argentina.

Pada 1989 pemilu dimenangkan oleh seorang Peronist, Carlos Saul Menem. Strategi ekonomi yang digunakan adalah popular market capitalist country, yang menghasilkan gelombang kedua hiperinflasi (Calvert, 2005:549). Usaha lain yang dilakukan adalah pengurangan personel militer, sehingga memangkas anggaran negara. Pada 1991 Menem membuat Convertibility Plan, yang isinya antara lain (1) dolarisasi ekonomi, penetapan nilai tukar, (2) privatisasi, dan (3) memperbaiki keuangan pemerintah dengan mengumpulkan pajak. Alhasil hutang berkurang dari US$ 60 miliar menjadi US$ 48 Miliar. Hal ini menjadikan Partai Peronist semakin kuat.

Pada bulan Agustus 1994 dilakukan perubahan terhadap konstitusi. Dan Peronist tetap kuat hingga 1999, dimana pemilu dimenangkan oleh koalisi UCR dan Frepaso, memenangkan Fernando De la Rua sebagai presiden, sementara Peronist menguasai Senat. Pada masa ini pengangguran sangat berlimpah. Solusi yang diterapkan De la Rua tidak berhasil dan akhirnya mengambil jalan keluar dengan berhutang pada IMF sebanyak US$ 8 miliar.

Tahun 2001 krisis semakin parah, dimana banyak terjadi demonstrasi hingga pemerintahan digantikan oleh Eduardo Duhalde dari Peronist. Pada masa ini Peso mengalami penurunan nilai yang drastis, hingga pada April 2003 IMF tidak mau lagi membantu, banyak bank yang ditutup, inflasi, dan sebagian besar penduduk hidup di bawah garis kemiskinan. Kriminalitas meningkat dan polisi tidak berdaya karena mereka sendiri tidak memperoleh upah yang layak dari negara. Perubahan ke arah yang  lebih baik mulai terlihat di masa Nestor Kircher. Ia melakukan pembangunan dengan dasar yang realistis dan menjanjikan.

Adanya economic collapse dalam jangka wajtu yang cukup lama rupanya berpengaruh terhadap hubungan luar negeri Argentina. Pemerintah menjadi tidak mempercayai neoliberalisme dan segala kebijakan politik yang mengarah pada adanya kreditur. Lebih jauh Argentina beraliansi dengan Brasil untuk memperkuat MERCOSUR dan bersama dengan negara-negara dunia ketiga lainnya utamanya yang berada di kawasan Amerika Latin untuk menentang WTO (World Trade Organizations) dan FTAA (Free Trade Agreements of the Americas).

 

Referensi:

Calvert, Peter. 2005. “Argentina Decline and Revival,” in Black, Jan Knippers. Latin America: Its problem and Its Promise, pp 541-555.

 

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :