INDIRA AGUSTIN


Berpacu menjadi yang terbaik

Separatisme Islam di Asia Tenggara

Bagaimana pengaruh ideologi Islam di kawasan Asia Tenggara? Konflik apa saja yang menyertai ideologi tersebut? Sebut dan jelaskan! Apakah ada hubungan anta jaringan-jaringan kelompok separatisme antar negara Asia Tenggara dan di luar Asia Tenggara? Bagaimana reaksi atau tindakan dari ASEAN terhadap konflik terhadap konflik tersebut?

 

Penyebaran Islam di Asia Tenggara tidak lepas dari peran para pedagang dari semenanjung Arab dan Persia yang turut membawa agama Islam berikut dengan budayanya. Pada masa kontemporer, hal ini terlihat dari banyaknya masyarakat yang beragama Islam yang terlibat di negara-negara Asia Tenggara baik sebagai mayoritas maupun minoritas. Variasi jumlah komunitas muslim di Asia Tenggara ini terlihat pada beberapa negara dan bahkan seringkali menimbulkan permasalahan, seperti yang terjadi di Indonesia, Filipina, dan Thailand, meski tidak selalu dengan skala yang sama. Komunitas muslim Asia Tenggara yang merupakan minoritas di negaranya antara lain di Myanmar, Kamboja, Vietnam, Filipina dan Thailand. Sementara itu Islam menjadi komunitas muslim yang mayoritas di Indonesia, Malaysia, dan Brunei. Mayoritas masyarakat yang muslim membuat posisinya kuat dalam hal politik dan pemerintahan (Jones, 2005). Selain itu juga terdapat banyak organisasi Islam yang berkembang pesat, seperti Nadhlatul Ulama dan Muahammadiyah di Indonesia.

Sementara Malaysia sedikit berbeda dengan Indonesia, dimana Islam menjadi agama resmi meskipun agama-agama lain masih diakui dan diterima. Hal ini menjadikan banyak partai Islam yang cukup besar dan peranannya yang signifikan dalam pemerintahan. Contohnya adalah UMNO (United Malays National Organization) dan PAS (Partai Islam se-Malaysia). Di Malaysia Islam menjadi landasan kehidupan sehari-hari masyarakat dan memberikan harmoni bagi pemerintah Malaysia yang berhasil menyeimbangakn nilai-nilai Islam dengan nilai-nilai kenegaraannya. Besarnya agama Islam di Malaysia tidak lain karena besarnya pengaruh kesultanan yang juga melampaui batas negara Malaysia itu sendiri. Sehingga agama Islam ini kemudian juga dianut oleh mereka yang wilayahnya berdekatan dengan perbatasan Malaysia yang pengaruh ke-islamannya masih sangat kuat.

Kondisi yang berbeda kemudian terjadi pada komunitas muslim pada negara yang agama Islam merupakan minoritas. Hampir semua dari mereka memperoleh perlakuan diskriminatif justru dari pemerintahan pusat, yang dikuasai oleh mereka yang selain beragama Islam dan menginginkan adanya asimilasi. Hal ini kemudian menimbulkan berbagai konflik dan ketegangan. Hal yang paling ekstrim yang mungkin terjadi adalah munculnya gerakan separatisme oleh komunitas muslim, akibat menginginkan adanya kebebasan, baik dalam berpolitik maupun kehidupan sehari-hari, berupa pemisahan diri dari negara asalnya. Konflik yang terjadi kemudian tidak jarang justru menimbulkan pertumpahan darah sehingga menarik perhatian masyarakat internasional.

Chalk (2001) menganalisa tiga akar permasalahan separatisme yang terjadi pada komunitas muslim yang menjadi mayoritas di negara-negara Asia Tenggara. Sebab yang pertama adalah kurangnya sensitivitas pemerintah lokal terhadap berbagai kepentingan yang ada, dimana perhatian pemerintah hampir selalu terpusat pada pembangunan dan prioritas pada wilayah-wilayah di pusat, sehingga terjadi pengabaian terhadap komunitas minoritas, utamanya yang berada di wilayah perbatasan. Sebab yang kedua yaitu adanya represi militer terhadap mereka yang ingin melakukan perlawanan terhadap pemerintah pusat. Dan sebab yang ketiga adalah adanya tekanan dari Islam itu sendiri, dimana ia memegang teguh ideologi dan ajarannya sendiri dengan mengabaikan pandangan kelompok lain (Chalk, 2001).

Kasus yang terjadi di Thailand misalnya. Wilayah selatan Thailand berbatasan langsung dengan Malaysia, sehingga kebanyakan mayoritas masyarakat yang tinggal di wilayah selatan seperti Pattani, Yalta, dan Marithiwat memeluk agama Islam. Terjadi diskriminasi terhadap masyarakat yang berada di selatan –yang cenderung dekat dengan wilayah kekuasaan Kerajaan Kelantan, Malaysia—oleh pemerintah pusat, yang berada di bagian utara.  Disparitas yang terjadi kemudian membuat masyarakat yang didiskrisminasi menjadi gerah dan menginginkan separatisme. Hal ini kemudian semakin jelas terlihat pada saat mulai terbentuk organisasi-organisasi perjuangan muslim Thailand, yaitu PULO (Patani United Liberation Organization) dan PNLF (Patani National Liberation Front) yang memperjuangkan hak-hak muslim Selatan. Konflik yang terjadi di perbatasan Malaysia ini kemudia menimbulkan kecaman dari Malaysia yang merasa dirugikan karena banyaknya pengungsi yang masuk ke Malaysia. Selain itu terdapat hal lain yang terjadi dan menyebabkan separatisme yang terjadi. Yaitu tidak adanya pemerataan pembangunan di seluruh wilayah Thailand serta adanya keinginan pemerintah Thailand untuk mengintegrasikan Thailand utamanya dalam satu bahasa dan agama yang kemudian sangat ditentang oleh minoritas Islam di Thailand

Kasus lain yang terjadi adalah konflik Moro di Filipina. Suku Moro berjumlah sekitar 4 juta jiwa dan memeluk agama Islam serta menjadi minoritas di Filipina. Letaknya yang juga berdekatan dengan Malaysia juga menyebabkan adanya pengaruh Islam yang cukup kuat disana. Kecenderungan masalah yang terjadi pun hampir sama dengan masyarakat Pattani di Thailand, yakni adanya diskriminasi dan marjinalisasi oleh pemerintah pusat yang mengingikan adanya integrasi agama dan bahasa, juga ingin mensekulerkan masyarakat Filipina (Chalk, 2001). Kemudian masyarakat marjinal tersebut mendirikan Moro Islamic Liberation Front (MILF) yang ingin menerapkan hukum syariah seperti dakwah dan jihad sebagai hukum nasional dengan membentuk negara Mindanao Islamic Republic (MIR), dan semakin gencar melakukan gerakan separatis dan pemberontakan yang kemudian menimbulkan ketidakstabilan pemerintahan Presiden Arroyo. Selain MILF, juga terdapat organisasi lain yang juga bertujuan untuk melakukan pemberontakan terhadap pemerintah, yaitu Abu Sayyaf Group (ASG), yang menekankan fundamentalisme dan tidak segan-segan menerapkan hukum Islam dengan pengaruh yang cukup kuat dan mendominasi dan ingin membentuk Islamic Theocratic State in Mindanao atau MIS (Chalk, 2001).

Kasus yang ketiga terjadi di Aceh, Indonesia. Masyarakat di Aceh membentuk Gerakan Aceh Merdeka dan ingin memisahkan diri dari Indonesia. GAM ingin membentuk pemerintahan yang adil dan berlandaskan nilai-nilai Islam. Kemunculannya diasumsikan karena pemerintah
yang memprioritaskan pulau Jawa sebagai wilayah pembangunan industri. Di samping itu sekularisasi yang tidak sesuai dengan nilai-nilai keislaman juga menyebabkan Aceh ingin memerdekakan diri. Sementara masyarakat Aceh sendiri menginginkan pemerintahan yang menggunakan syariah Islam. Selain itu juga terdapat kecemburuan sosial masyarakat Aceh terhadap masyarakat Jawa, yang pembangunannya pesat sementara Aceh  dan wilayah lain tidak seberapa. Dan faktor terakhir yang juga sempat menjadi sebab terjadinya separatisme adalah adanya kebencian terhadap militer Indonesia yang sering bertindak represif (Chalk, 2001).

Peran ASEAN dalam gerakan-gerakan separatisme Islam di Asia Tenggara tidak begitu signifikan. Hal ini disebabkan sikap ASEAN yang non-intervensi terhadap urusan negara-negara anggotanya. Sehingga kebanyakan dari kasus dan ketegangan yang terjadi di negara-negara Asia Tenggara diselesaikan melalui cara mediasi.

Dengan demikian, dapat dilihat bahwa perkembangan Islam di Asia Tenggara telah melewati masa-masa penyebaran dan perkembangan sehingga yang terjadi sekarang adalah masa survivalitas tergantung apakah Islam menjadi mayoritas atau minoritas. Di negara dengan penduduk muslim sebagai mayoritas seperti Indonesia, Malaysia, dan Brunei, pengaruh nilai-nilai Islam sangat kental dan tercermin dalam berbagai aspek kehidupan termasuk sosial, politik, dan pemerintahan sehingga sangat berpengaruh dalam pengambilan keputusan dan kebijakan. Sedangkan di negara dengan penduduk muslim sebagai minoritas seperti Thailand, Filipina, Kamboja, Vietnam, dan Laos, Islam justru dipandang sebagai ideologi yang menyebarkan terorisme karena menimbulkan gerakan-gerakan separatis yang memicu konflik dan mengancam stabilitas keamanan dalam negara.

 

Referensi:

Chalk, Peter. 2001. Separatism and Southeast Asia: the Islamic Factor in Southern Thailand, Mindanao, and Aceh. Studies in Conflict and Terrorism, 24: 241-269

Jones, Lindsay. 2005. Islam: Islam in Southeast Asia, dalam Encyclopedia of Religion, Second edition . Farmington Hills: Thomson&Gale


1. Leo

pada : 10 March 2014

"Dihimbau agar para muslim bertindak & berperilaku yg sopan & santun! Hindari hal-hal yg: Sadist, kejam, provokasi, pencilaan, perusakan & mengganggu ummat agama lain. Terutama ummat Kristen, Katholik & Yahudi dimanapun mereka berada. Cukup sudah mudarat, kesedihan, bencana, kesusahan, neraka yg dialami oleh ummat Islam akibat hasutan/provokasi/bujukan para pemimpin/ulama/ustadz yg tidak patut dicontoh selama ini! Oleh karena itu, bertobatlah hari ini…karena nanti malam sudah terlambat!

Wassalam,

Leo"


Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :