INDIRA AGUSTIN


Berpacu menjadi yang terbaik

Regionalisme dan Ide ASEAN Community

Negara-negara di kawasan Asia Tenggara dipersatukan oleh sebuah organisasi regional yang disebut dengan ASEAN (Association of South East Asian Nations) yang dibentuk pada tahun 1967. ASEAN dibentuk untuk meningkatkan kerjasama antar negara-negara anggotanya secara multidimensional. Dalam perkembangannya, muncul keinginan diantara negara-negara tersebut untuk membentuk suatu komunitas regional, yang kemudian disebut sebagai ASEAN Community yang ditargetkan terbentuk pada tahun 2015. Sebagai sebuah komunitas yang dicita-citakan, perlu adanya pendekatan-pendekatan yang lebih intens dan komprehensif untuk mengkondolidasikan realisasi ASEAN  Community, berdasarkan tujuan awal dibentuknya ASEAN.

Future direction for ASEAN as a concert of Southeast Asian nations, outward-looking, living in peace, stability and prosperity, bonded together in partnership in a just, democratic, and harmonious environment, dynamic development and ever-closer economic integration and in a community of caring societies, conscious of its ties of history, aware of its shared cultural heritage and bound by a common regional identity” (www.aseansec.org).

Merujuk pada tujuan jangka panjang ASEAN tersebut, maka ASEAN Community disini dapat dikatakan sebagai sebuah usaha untuk memperoleh kembali apa yang dulu disebut sebagai semangat awal didirikannya ASEAN oleh para Founding Fathers untuk menciptakan suatu organisasi yang dapat membantu menciptakan kondisi yang aman, damai, sejahtera, dan leluasa bagi masyarakat di kawasan Asia Tenggara. Perencanaan pembentukan ASEAN Community sendiri sebelumnya telah melalui suatu proses yang panjang. Mulai dari diadakannya Bali Concord II pada tahun 2003, Viantinne Action Programme pada 2004, Penandatanganan ASEAN Charter di tahun 2007 di Singapura, Pendeklarasian ASEAN Charter di tahun 2007 di Jakarta, hingga Deklarasi Road Map ASEAN Community itu sendiri di tahun 2009. Dari sini kemudian dihasilkan tiga pilar utama dari ASEAN Community, yaitu APSC (ASEAN Political and Security Community), AEC (ASEAN Economic Community), dan ASCC (ASEAN Socio-Cultural Community). Ketiganya memiliki mekanisme masing-masing dalam mewujudkan tujuan ASEAN Commmunity. APSC memfasilitasi kerjasama dalam bidang politik, keamanan dan hukum. Seperti dengan membantu proses penguatan ARF serta menjamin implementasi Perjanjian Zona Bebas Senjata Nuklir Asia Tenggara (SEANWFZ). AEC berusaha untuk membangun kawasan yang kompetitif dalam hal ekonomi, sekaligus untuk membendung pengaruh kuat ekonomidari China dan India. Sementara ASCC berusaha mengembangkan isu-isu soisal seperti pemberdayaan manusia, kesejahteraan sosial, keadilan sosial, dan sebagainya yang termasuk di dalamnya adalah membangun identitas ASEAN.

Akan tetapi kemudian muncul sebuah kritik dari pembentukan ASEAN Community ini dari penstudi Jones dan Smith (2002) dalam artikelnya ASEAN’s Imitation Community. Bermula dari Michael Oakeshott yang mengistilahkannya sebagai imitation state, yakni negara-negara yang baru merdeka usai masa kolonialisme. Jones dan Smith kemudian mengungkapkan bahwa pembentukan ASEAN Community tersebut seolah merupakan imitation community, yang dianggap hanya merupakan perwujudan dari euforia sesaat dan meniru cara-cara yang telah diterapkan sebelumnya oleh negara-negara maju, dimana hal ini sebenarnya dapat menunjukkan bahwa ASEAN masih memiliki ketergantungan terhadap negara-negara di kawasan lain, Hal ini kemudian terlihat dari adanya seperangkat manajerial organisasi seperti pertemuan tingkat tinggi, sekretariat, serta birokrasi. Hal ini terlihat jika kemudian dibandingkan dengan komunitas regional lain seperti Uni Eropa. Uni Eropa menyelesaikan suatu masalah kawasan melalui sebuah konsensus. Sementara ASEAN dengan birokrasi dan perangkat-perangkat manajerial lain hanya dapat menghasilkan sedikit keputusan yang pada akhirnya dapat dijalankan.

Mengenai prospek kedepannya, ASEAN Community masih memiliki beberapa kelemahan. Salah satu hal yang paling terlihat adalah masih lemahnya kejelasan pembagian antara aturan bersama dengan legitimasi domestik suatu negara. Belum ada sebuah otoritas yang dapat terlegitimasi oleh semua pihak. Hal ini pula yang kemudian menyebabkan belum cukup kuatnya identitas regional ASEAN. Selain itu, ASEAN sendiri pada saat ini masih banyak bergantung pada kekuatan eksternal. dalam hal ekonomi misalnya, dalam AFTA (Asean Free Trade Agreement), negara-negara justru saling berkompetisi satu sama lain, bukannya saling bekerja sama agar dapat terintegrasi. Tantangan lain berada pada norma ASEAN itu sendiri. Prinsip non-intervensi membuat ASEAN sulit untuk dapat menyelesaikan masalah internalnya. Contoh kasus yang terjadi akhir-akhir ini adalah ASEAN Summit di Kamboja pada April 2012 lalu. Dimana sebgai tuan rumah, Kamboja berhak untuk menentukan masalah yang akan diagendakan dalam pembahasan. Akan tetapi karena kedekatannya dengan China membuatnya tidak mengangkat permasalahan Laut China Selatan ke dalam agenda pembahasan pertemuan tersebut. Dari contoh kasus ini dapat dikatakan bahwa ASEAN masih belum memiliki kerjasama regional dalam hal keamanan seperti terorisme dan perompakan.

Sebagai solusi atas tantangan yang ada, Adler dan Bernett (1998) menawarkan sebuah constructivist project. Pertama, perlu adanya community-building yang dibuat secara sadar oleh anggota-anggota di dalamnya untuk melakukan pembelajaran dan pembentuk an sebuah identitas kolektif. Kedua, proses pembelajaran ini dapat dimulai dalam sebuah illiberal domestic dan regional political-economic setting. Ketiga, pembentukan komunitas dapat dilakukan dengan mengesampikan perbedaan-perbedaan. Kemudian yang keempat adalah komunitas dapat dibentuk melalui sebuah kesengajaan dari kreasi dan ketaatan terhadap norma-norma, simbol-simbol dan kebiasan, yang terakhir adalah komunitas tidak membutuhkan kehadiran dari ancaman pihak luar (Adler dan Bernett, 1998: 218).

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa ASEAN Community merupakan langkah lanjutan dari pembentukan organisasi kawasan ASEAN, dalam rangka untuk mewujudkan perdamaian dan kesejahteraan masyarakat di kawasan tersebut. Namun hal ini tidak dapat begitu saja berjalan dengan mulus. Masih banyak hal yang perlu dipersiapkan oleh ASEAN. Banyak tantangan yang masih harus diselesaikan terkait dengan integrasi negara-negara ASEAN sendiri. Penulis setuju dengan solusi yang ditawarkan oleh Adler dan Bernett (1998). Dengan demikian perlu bagi negara-negara di kawasan Asia Tenggara untuk menguatkan integrasi di antara mereka melalui kerjasama-kerjasama multidimensional.

 

 

Referensi:

Acharya, Amitav. 2005. Do Norms and Identity Matter? Community and power in Southeast Asia’s Regional Order, dalam The Pacific Review, Vol. 18 No. 1 Maret 2005. London: Taylor & Francis Ltd.

Adler, E., & Barnett, M. (1998). Security Communities. London: Cambridge University Press.

Jones, David Martin dan Smith Micheal. 2002. ASEAN Imitation Community. Foreign Policy Research Institute. Published by Elsevier Schience Limited.

Haacke, Jürgen. 1999. The Concept of Flexible Engagement and The Practice of Enhanced Interaction : Intramural Challenges to The ‘Asean way’, dalam The Pacific Review, Vol 12 No. 4 1999. London: Taylor & Francis Ltd.

Narine, Shaun. 2002. ASEAN in the Twenty-First Century, dalam Explaining ASEAN: Regionalism in the Southeast Asia. London: Lynne Rienner Publisher, Inc.

Roadmap for ASEAN Community 2009-2015. Tersedia pada http://www.aseansec.org/publications/RoadmapASEANCommunity.pdf [diakses pada 23 Maret 2012]

 

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :