INDIRA AGUSTIN


Berpacu menjadi yang terbaik

ASEAN-AS Pasca Perang Dingin

Amerika Serikat, yang merupakan salah satu pemenang dari berakhirnya Perang Dunia II bersama dengan kubu aliansinya tidak serta merta menciptakan perdamaian dunia. Kemenangannya tersebut justru menimbulkan ketegangan dengan Uni Soviet yang selain menjadi pemenang rupanya memiliki perbedaan pandangan dengan Amerika Serikat. Keduanya kemudian menjadi aktor utama internasional yang mendominasi perpolitikan dunia. Hal ini kemudian menyebabkan Amerika Serikat tak lepas dari peran pentingnya di negara-negara lain, tak terkecuali negara-negara Asia Tenggara yang pada saat pertengahan abad ke-20 itu baru merdeka. Ketidaksukaan Presiden baru Amerika, Truman, terhadap ideologi komunis Uni Soviet yang tengah menyebar ke berbagai wilayah dunia membuatnya mengeluarkan kebijakan containment policy untuk menghadang ekspansionisme ideologi tersebut, termasuk juga di Asia Tenggara.

Selain melalui kebijakan containment, Amerika juga menggunakan cara lain, yaitu proxy war. Salah satu negara yang menjadi korban adalah Vietnam. Kedekatan wilayah Vietnam bagian utara membuat pengaruh komunis Cina—yang juga dekat dengan Uni Soviet—menjadi kuat di sana. Menanggapi hal ini Amerika pun menyerang Vietnam dengan bekerja sama dengan Vietnam bagian selatan. Perang ini pun disebut dengan Vietnam War. Selain itu Amerika juga membentuk sebuah pakta pertahanan seperti yang dibuatnya dengan negara-negara Atlantik Utara—NATO (North Atlantic Treaty Organization)—yaitu SEATO (South East Asian Treaty Organization), yang ternyata kemudian hanya diikuti oleh dua negere Asia Tenggara saja, yaitu Filipina dan Thailand. Keanggotaan kedua negara ini membuat hubungan Amerika dengan mereka semakin dekat, khususnya di bidang pertahanan, dan dibuktikan dengan didirikannya pangkalan militer Amerika di Filipina, serta dibentuknya pakta keamanan antara Amerika dan Thailand (Weather & Emmes, 2005).

Akan tetapi adanya rasa traumatis akan kolonialisme menjadi kemudian salah satu penyebab negara-negara di Asia Tenggara tidak ingin memihak pada salah satu pihak, baik blok barat atau Amerika maupun blok timur atau Uni Soviet. Dimana kemudian terbentuklah sebuah gerakan non blok oleh negara-negara dunia ketiga sebagai bentuk netralitas mereka. Gerakan non blok inilah yang kemudian menjadi cikal bakal terbentuknya organisasi regional Asia Tenggara, yakni ASEAN (Association of South East Asian Nations) pada 1967.

Berakhirnya Perang Dingin di penghujung abad 21 ikut menjadi penanda bagi berubahnya kebijakan luar negeri Amerika, termasuk terhadap negara kawasan Asia Tenggara. Perubahan tersebut kemudian mempengaruhi beberapa aspek seperti politik, ekonomi, sosial, budaya, hingga keamanan. Di bidang ekonomi, Amerika memberikan pengaruh yang cukup signifikan. Masa berakhirnya Perang Dingin yakni pada tahun 1990an merupakan masa krisis bagi negara-negara Asia Tenggara, kecuali Singapura. Perekonomian jatuh hampir di semua negara Asia Tenggara, yang pada saat itu sedang berada dalam fase berkembang, menggantungkan diri pada IMF. Amerika kemudian membentuk EAI (Enterprise for ASEAN Initiative) di tahun 2002 dengan tujuan untuk memudahkan proses negosiasi perdagangan bebas anggota WTO (World Trade Organization) di Asia Tenggara. Sehingga tak lama kemudian Amerika menjalin hubungan dan kerjasama ekonomi yang kuat dengan hampir semua negara di Asia Tenggara. Hal ini kemudian membuat Amerika menjadi mitra dagang terbesar ASEAN. Di samping itu kerjasama ini juga terjalin dalam KTT APEC (Konferensi Tingkat Tinggi Asia-Pacific Economic Cooperation) yang diselenggarakan di Busan, Korea Selatan pada November 2005 yang menghasilkan ASEAN-US Enhanced Partnership yang isinya berupa kesepakatan untuk bekerjasama dalam bidang politik, keamanan, ekonomi, dan sosial budaya.

Dalam bidang sosio-kultural, Amerika memanfaatkan rasa traumatis negara-negara di Asia Tenggara yang merupakan korban kolonialisme dan imperialisme yang identik dengan penindasan, dengan mengembangkan isu HAM (Hak Asasi Manusia). Pengaruh ideologis cukup mendominasi. Kemenangannya dalam Perang Dingin seolah melegitimasi hal ini. Mengingat HAM kental dengan nilai-nilai liberalisme seperti perdamaian dan hak kebebasan individu. Akhirnya tak pelak isu HAM pun berkembang di semua negara Asia Tenggara. Dalam hal politik pemerintahan, hal ini terlihat dari banyaknya penggulingan rezim pemerintahan yang diktator dan dianggap banyak melanggar HAM warga negaranya. Misalnya adalah digulingkannya Soeharto di Indonesia pada 1998, Thaksin Sinawatra di Thailand pada 2006, dan yang paling baru adalah Thein Sein di Myanmar pada 2012. Sementara dalam bidang keamanan, berakhirnya Perang Dingin tidak lagi membuat Amerika menggebu untuk menciptakan sebuah pakta pertahanan atas alasan keamanan dengan negara-negara Asia Tenggara. Bentuk kerjasama lebih kepada bentuk partner militer, perdagangan senjata, dan bentuk kerjasama lain yang saling mneguntungkan kedua pihak. Dalam hal ini keduanya berusaha untuk menciptakan keamanan dan stabilitas kawasan.

Daru uraian singkat di atas dapat disimpulkan bahwa hubungan antara  Amerika Serikat dengan negara-negara Asia Tenggara sudah terjalin sejak masa Perang Dingin. Meski dalam perkembangannya hubungan tersebut seolah berada dalam sebuah hirarki dimana Amerika Serikat berada dalam tingkatan yang lebih tinggi sehingga dapat menguasai dan menentukan banyak hal strategis di kawasan Asia Tenggara. Penulis beropini bahwa seharusnya negara-negara Asia Tenggara tidak begitu saja dapat dikuasai oleh negara lain yang memiliki power lebih seperti Amerika. Meskipun pada akhirnya yang menjadi tujuan adalah kerjasama yang menguntungkan kedua pihak. Dan Amerika sendiri—sebagai negara dengan power lebih—seharusnya juga dapat menyediakan forum-forum yang dapat mewadahi pengembangan diri dari negara-negara ini supaya dapat terus berkembang dan menjalin hubungan dengan negara-negara kawasan lain dengan tujuan kerjasama pula.

 

Referensi:

Acharya, Amitav. 2005. Do Norms and Identity Matter? Community and power in Southeast Asia’s Regional Order, dalam The Pacific Review, Vol. 18 No. 1 Maret 2005. London: Taylor & Francis Ltd.

Haacke, Jürgen. 1999. The Concept of Flexible Engagement and The Practice of Enhanced Interaction : Intramural Challenges to The ‘Asean way’, dalam The Pacific Review, Vol 12 No. 4 1999. London: Taylor & Francis Ltd.

Narine, Shaun. 2002. ASEAN in the Twenty-First Century, dalam Explaining ASEAN: Regionalism in the Southeast Asia. London: Lynne Rienner Publisher, Inc.

 

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :