INDIRA AGUSTIN


Berpacu menjadi yang terbaik

Apa Itu Geopolitik?

Dalam kehidupan sehari-hari kita tidak pernah lepas dari pengambilan keputusan. Hampir setiap saat yang kita lalui adalah tentang mengambil keputusan atas berbagai macam pilihan yang ada dihadapan kita. Dimana keputusan yang diambil tidak dapat serta merta dibuat tanpa melalui berbagai pertimbangan. Apalagi ketika keputusan tersebut dibuat oleh seorang pemimpin yang dapat mempengaruhi kehidupan banyak orang yang dipimpinnya. Keputusan yang diambil oleh seseorang tentu dipengaruhi oleh berbagai macam faktor, baik internal maupun eksternal. Faktor internal yaitu bagaimana sifat dan kepribadian pemimpin tersebut akan mempengaruhi pemikirannya. Sementara faktor eksternal yakni bagaimana lingkungan di sekitarnya dapat mempengaruhi perilaku dan keputusan yang akan diambil. Dalam lingkup suatu negara, seorang kepala negara dalam mengambil sebuah kebijakan akan terpengaruh oleh apa yang disebut dengan geopolitik. Kajian awal mengenai geopolitik sendiri hanya berkutat pada nature directed dan nature oriented. Dimana dalam konsep modern yang membedakan adalah konsep dari geografi.

Terdapat dua penulis awal mengenai hal ini. Yang pertama adalah Aristoteles. Ia mengemukakan bahwa lingkungan dan alam dapat membentuk karakter dan kecenderungan manusia. Sementara yang kedua, Bodin, beranggapan bahwa alam tidak hanya membatasi dan memberikan manusia kapasitas untuk melakukan suatu hal, namun juga menentukan kemauan manusia untuk melakukannya (Kristof, 1960:18). Sehingga dari pandangan Aristoteles dapat disimpulkan bahwa kecenderungan dan karakter manusia akan menentukan bentuk negara yang ideal bagi manusia yang tinggal di tempat tersebut. Sementara dari pandangan Bodin dapat dikatakan bahwa perbedaan kemungkinan bagi alam untuk mempengaruhi manusia di lingkungan yang berbeda akan menghasilkan sebuah rezim yang saling berbeda satu sama lain.

Dalam dunia kontemporer, kita tidak lagi dapat melihat bahwa lingkungan atau alam lah yang semata-mata membentuk sifat, karakter, dan kecenderungan manusia. Akan tetapi, dengan semakin kompleksnya dunia kontemporer menyediakan berbagai macam permasalahan yang kompleks pula. Akibatnya sifat manusia tidak hanya dapat sekedar ditentukan dari kondisi alam dan lingkungan sekitarnya. Alam tidak lagi menentukan apa saja yang harus manusia lakukan, melainkan menyediakan pilihan-pilihan untuk digunakan oleh manusia (Kristof, 1960:19).

Dari uraian diatas masih sulit utuk menentukan apa definisi yang pasti dari geopolitik. Hal ini juga disebabkan geopolitik bukanlah sebuah kajian yang umum, melainkan irisan dari ilmu politik dengan geografi. Secara konvensional geopolitik memang tidak lepas dari urusan geografi politik internasional yang memoengaruhi kebijakan luar negeri suatu negara. Mackinder (1904) menyebutkan bahwa geopolitik adalah studi yang menganalisa tujuan dari usaha memperjuangkan kekuasaan, wilayah, sumber-sumber daya, atau lainnya yang memiliki keistimewaan. Kristof sendiri memandang geopolitik sebagai studi mengenai fenomena politik yang dalam hubungan spasial memiliki ketergantungan terhadap faktor budaya yang dipengaruhi oleh faktor geografi sebagai pembelajaran bagi manusia (Kristof, 1960:34).

Di abad 19, muncul sebuah teori baru yang mengatakan bahwa negara itu ibarat sebuah organism hidup yang terus tumbuh dan berkembang. Teori ini diungkapkan oleh Frederick Ratzel, dan disebut dengan Teori Negara Organik. Teori ini percaya bahwa semua komponen yang ada pada negara tersebut berpadu untuk tumbuh dan berkembang sebagai satu kesatuan (Kristof, 1960:21). Terdapat tiga hal dasar yang menurut teori ini harus dikembangkan oleh negara, yakni diplomasi negara, berusaha untuk saling tidak menggantungkan diri antar negara terutama pada negara yang imperialis, dan mengembangkan perdagangan (Faisal, 2010).

Hal ini juga disetujui oleh Kjellen. Ia menganggap bahwa negara harus bertahan dalam keadaan apapun, sebab ia merupakan simbol kekuatan yang bertanggung jawab atas warga negaranya. Selain itu, Mackinder juga mengemukakan teori lain, yakni teori Heartland. Dalam teori ini ia berasumsi bahwa tiap-tiap sumber daya yang dimiliki oleh suatu negara akan menentukan posisinya dalam perdagangan internasional, dan aksestabilitas dalam perdagangan dan transportasi adalah kunci untuk polarisasi dunia (Faisal, 2010). Namun, berbeda dengan Mackinder dan Kjellen, Haushover justru menganggap bahwa masalah utama bukan berada pada sisi geografis, namun politik dan moral (Kristof, 1960:31).

Kristof kemudian menyebutkan bahwa perbedaan antara geografi politik dan geopolitik tidak terlalu besar. Geografi politik lebih mempelajari interpretasi politik dari fenomena geografis yang ada. Sebaliknya geopolitik lebih mempelajari interpretasi geografis dari fenomena politik yang ada (Kristof, 1960:36). Sehingga dapat muncul ketimpangan antara keduanya.

Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa kajian mengenai geopolitik sebenarnya telah muncul sejak jaman pra-modern yakni Aristoteles, yang mengemukakan bahwa sifat dan karakter manusia dipengaruhi atau bahkan dapat ditentukan oleh alam. Akan tetapi dengan semakin berlalunya waktu, banyak geopoliticians yang mengkaji bahwa karakter manusia juga dipengaruhi oleh kompleksnya permasalahan pada kehidupan modern. Dan juga geopolitik tetap berperan dalam pengambilan kebijakan suatu negara, yang harus membuatnya tetap bertahan dan terus berkembang.

 

Referensi:

Ahmed, Faisal. 2010. From Resource to Trade Diplomacy – Revealing the Hierarchical Nature of Geopolitics. The Romanian Economic Journal

Kristof, Ladis KD. 1960. “The Origin and Evolution of Geopolitics” in Journal of Conflict Resolution (4) 1, page 15-51


1. bopi saputra dawata

pada : 04 January 2014

"saya mau tanya ni kak, bagaimana geopolitik pada saat berliin wal runtuh???geopolitik yang terjadi pada negara tersebut/"


Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :