INDIRA AGUSTIN


Berpacu menjadi yang terbaik

Geopolitik dan Geostrategi di Era Kekinian

Apa yang menjadi konteks dan lingkup geopolitik saat itu? Bagaimana tantangan Geopolitik dan Geostrategi saat itu? Bagaimana resiko atau faktor yang memperngaruhi stabilitas situasi dan kondisi saat itu? Bagaimana strategi dalam arena geopolitik yang demikian?

 

Pada masa berakhirnya Perang Dingin menandai munculnya banyak negara-negara baru seiring dengan runtuhnya Uni Soviet yang secara bersamaan juga mengakhiri masa kekuatan dua blok besar. Hingga abad ke-21, terjadi berbagai macam perubahan yang terjadi terhadap arena geopolitik dunia. Yang pertama adalah adanya transformasi dari elemen tradisional kekuatan nasional. Dimana konsep kekuatan yang pada masa sebelumnya didominasi oleh hardpower bergeser menjadi softpower. Hal ini kemudian juga turut menggeser isu-isu yang menonjol dalam dunia internasional. Dari isu-isu high politics seperti militer menjadi isu-isu low politics seperti ekonomi dan lingkungan. Perubahan isu ini kemudian juga menimbulkan timbulnya jenis konflik baru yang terjadi, menyesuaikan dengan isu yang berkembang.

Bergesernya isu internasional juga menghasilkan tantangan baru bagi geopolitik. Berdasarkan apa yang dikemukakan oleh Huntington (1993) dalam tesisnya Clash of Civilization, bahwa konflik antara dua poros pada Perang Dingin lebih lanjut akan meluas pada konflik budaya dan agama. Oleh karena itu, ketika Perang Dingin berakhir, banyak negara yang kemudian memerdekakan diri, dengan membawa identitas budaya dan agamanya masing-masing. Di sini Huntington (1993) menganggap akan terjadinya benturan dari banyaknya peradaban baru yang mencuat. Dan hal inilah yang kemudian menjadi tantangan bagi arena geopolitik dunia. Terlihat dari beberapa kasus yang ada, diantaranya The “Kin – country syndrome” yang cenderung membentuk aliansi dengan peradaban yang sama, misal: perang Teluk; The “West“ versus the “Rest”, dimanaworld community” dan “the free world” adalah semata-mata kepentingan barat; The Torn countries, yakni ada beberapa peradaban di suatu negara yang berbenturan, seperti Meksiko, Turki, Russia; dan Confucian – Islamic connection, yang disoroti akibat pengembangan senjata nuklir, yang sangat ditentang oleh negara-negara barat.

Pada masa Perang Dingin, pengaruh Soviet yang semakin meluas pada wilayah Eurasia membuat Amerika Serikat Serikat semakin gerah. Presiden AS, Kennan kemudian mengeluarkan kebijakan pembendungan. Hal ini dikarenakan Kennan merasa bahwa keamanan Amerika Serikat sangat dipengaruhi oleh adanya keseimbangan kekuatan di wilayah Euraisa, bukan oleh adanya dominasi Soviet. Mengingat Eurasia merupakan wilayah Heartland, menurut Mackinder. Adanya dominasi Soviet di tanah Eurasia pasca Perang Dunia II akan meyebabkan ketidakseimbangan, dimana hal ini hanya dapat diseimbangkan kembali dengan mudah oleh AS. Spykman mengungkapkan bahwa hal ini adalah penindaklanjutan dari apa yang sebelumnya telah terjadi pada masa Perang Dunia, yaitu perebutan kekuasaan atas Eurasia oleh landpowers dan seapowers. Lebih lanjut Skypman mengatakan bahwa, “because the first line of defense of the United States lies in the preservation of balance of power in Europe and Asia” (Sempa, 2002:94). Maka dari itu, bukan sesuatu yang mengherankan apabila kemudian AS menggunakan strategi containment policy untuk membendung kekuatan Soviet yang menyebar di daratan Eropa dan Asia. Wilayah tersebut merupakan wilayah kunci pertahanan AS dan ini bukanlah hal yang baru. Konsep pembendungan Kennan ini juga dianggap oleh Sempa sebagai timeless geopolitical concepts, bahkan hingga pada masa Post Cold War. Dimana meskipun usai Perang Dingin Uni Soviet telah runtuh, muncul kekuatan-kekuatan baru di wilayah Eropa dan Asia. Di Eropa, Jerman yang telah bersatu seiring dengan berakhirnya Perang Dingin menjadi jauh lebih makmur, potensi-potensi ekonomi berkembang dan menjadi salah satu yang terkuat di Eropa. Di Asia, China dan Jepang muncul sebagai kekuatan baru. China meskipun tetap bertahan dengan komunisme dan total powernya, memanfaatkan teknologi barat untuk modernisasi ekonomi. Jepang dengan jumlah populasi yang cukup besar namun terdidik dengan baik, membuat mereka dapat memanfaatkan sumber daya alamnya yang melimpah dengan peningkatan teknologi secara mandiri. Jepang merupakan the economic powerhouse of Asia (Sempa, 2002:97). AS kini merupakan satu-satunya penguasa ekonomi dan militer. Komitmen keamanannya menjadi lebih luas yang dijalin dengan Eropa, Asia, Amerika Tengah, Karibia, Mediterania, Teluk Persia, India, Pasifik, dan Samudera Atlantik.

Secara geopolitics, kemenangan AS dalam Perang Dingin tidak terlalu berdampak signifikan. Hal ini disebabkan Rusia tetap menguasai wilayah strategis Heartland, kejatuhan Rusia justru menyebabkan reunifikasi jerman, pembagian politik di Asia justru menyebabkan beberapa negara yang saling berkonflik saat ini –pakistan dan India, China dan Vietnam. Atau dengan kata lain Sempa mengatakan, “In short, there is no Eurasian power or alliance of Eurasian powers which can at this time counterbalance a revived Heartland power” (Sempa, 2002:99).

Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa kebijakan pembendungan AS pasca Perang Dunia II yang pertama kali dikeluarkan oleh George F. Kennan, mempunyai fokus geografis secara implisit, yaitu membendung pengaruh komunis Soviet dalam batasan geografis usai Perang Dunia. Hingga akhirnya terbentuklah beberapa pakta pertahanan seperti NATO dan SEATO yang dimaksudkan untuk membendung ekspansi Soviet menuju wilayah Eurasia. Memasuki abad baru, Amerika Serikat menemui semakin banyak masalah yang mendesak dan kompleks. Dengan terbatasnya sumber daya alam, kemauan yang besar, dan perubahan kondisi politik domestik maupun internasional dalam era prkembangan teknologi yang serba pesat, AS harus membuat pilihan yang sulit dalam formula strategi global.

 

Referensi:

Sempa, Francis. 2002. Geopolitics, from Cold War to the 21st Century. Transaction Publishers.

Huntington, Samuel P. 1993. The Clash of Civilization. From Foreign Affairs dalam Geraroid O Tuathail, Simon Dalby and paul Routledge “Geopolitics Reader”. London: Routledge

 

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :