INDIRA AGUSTIN


Berpacu menjadi yang terbaik

Hubungan ASEAN dengan China Pasca Perang Dingin

Kawasan Asia Tenggara merupakan salah satu dari hampir seluruh kawasan di dunia yang terkena imbas dari pengaruh ideologi Perang Dingin. Kedekatan geografis kawasan Asia Tenggara dengan China ikut mempengaruhi kedekatan ideologis pula. Di samping itu perhatian yang diberikan Amerika Serikat (AS) pada negara-negara Asia Tenggara terkait dengan isu memerangi terorisme di kawasan atas adanya gerakan Islam radikal membuat China tidak mau kalah dalam menyebarkan pengaruhnya di Asia Tenggara. Akan tetapi hal tersebut dirasa wajar sebagai konsekuensi dari dinamika ekonomi China (Vaughn & Morrison, 2006). Akan tetapi negara-negara Asia Tenggara, melalui ASEAN berupaya untuk tidak berpihak pada keduanya, dan hal ini kemudian menjadi salah satu penyebab menurunnya hubungan ASEAN dengan China.

Semasa Perang Dingin, China hadir sebagai aktor baru yang sedang dalam mengembangkan ekonomi dan memperkuat militer, dan banyak menyebarkan pengaruh komunis di Asia Tenggara, yang dekat secara geografis. Dalam hal ini AS khawatir apabila China menjadi sebuah polar kekuatan baru dengan pertumbuhan ekonomi dan militernya yang dapat mengganggu tatanan dunia pada saat itu (Goh, 2007). Di samping itu Friedberg (1993) memandang bahwa berakhirnya Perang Dingin memunculkan dua kelompok scholar, yakni yang berpikiran optimis dan pesimis. Mereka yang optimis beranggapan bahwa kebangkitan ekonomi di China adalah bentuk cerminan dari bangkitnya negara-negara di Timur, sementara mereka yang pesimis beranggapan bahwa China akan menjadi kekuatan polar baru yang tidak stabil akibat terkena pengaruh dari runtuhnya Soviet (Friedberg, 1993).

China mulai mengintensifikasi hubungan dengan negara-negara kawasan Asia Tenggara pasca Perang Dingin melalui banyak bentuk kerjasama utamanya dalam bidang ekonomi, dan pembentuka ASEAN + 3 (ASEAN, China, Jepang, Korea Selatan). Juga dalam bidang keamanan, China bergabung dalam Forum Regional ASEAN (ARF, ASEAN Regional Forum) yang didirikan pada tahun 1994 bersama dengan beberapa negara Pasifik lainnya. ARF memberikan kesempatan bagi para Menteri Luar Negeri dari 17 negara kawasan Asia Pasifik dan perwakilan dari Uni Eropa (EU, European Union), untuk duduk bersama membicarakan masalah keamanan kawasan. Dalam hal ini China berusaha untuk mewujudkan Security Policy Conference dalam kerangka kerja ARF tersebut. Di mana dengan demikian China dapat menjadi salah satu posisi kunci yang penting dalam ARF. Kemudian pengklasifikasian ini akan memiliki fokus multilateral yang akan menawarkan alternatif arsitektur keamanan ASEAN yang selama ini secara tradisional telah didominasi oleh aliansi bilateral dengan AS (Vaughn & Morrison, 2006).

Dalam bidang sosial budaya, dibentuk pula Komunitas Sosial Budaya ASEAN (ASCC, ASEAN Sosio-Cultural Community) yang bertujuan untuk, “promote a people-oriented ASEAN in which all sectors or society are encouraged to participate in, and benefit from, the process of ASEAN integration and community building” (Piagam ASEAN, pasal 1 ayat 13). Sementara itu dalam bidang ekonomi, peran penting China terhadap ASEAN dipengaruhi oleh masuknya imigran China ke wilayah Thailand dan Burma. Dalam hal ini terlihat bahwa terdapat pergeseran fundamental hubungan pada dari kerjasama ekonomi Asia Pasifik (APEC, Asia Pacific Economic Cooperation) yang juga melibatkan AS, ke arah ASEAN plus three, yakni dengan China, Jepang, dan Korea Selatan, yang lebih menuju ke arah perdagangan bebas antara ASEAN dengan China.

Akan tetapi tidak berhenti pada pengembangan kerjasama ke arah yang lebih positif, China juga dipandang menjadi ancaman bagi negara-negara Asia Tenggara. Terlihat dari adanya dukungan China pada pemberontakan komunisme di masa lalu serta konflik klaim teritori Laut China Selatan pada tahun 1990-an. Di mana China memiliki kepentingan dan berambisi untuk dapat menguasai Spartly Island dan diakui sebagai miliknya. Akan tetapi negara-negara ASEAN yang secara langsung berbatasan dengan Laut China Selatan seperti Malaysia, Brunei Darussalam, Filipina, dan Vietnam merasa terganggu akan hal ini. Konflik ini akhirnya menimbulkan bentrok angkatan laut antara Vietnam dan China pada tahun 1988 yang menewaskan 70 personil angkatan laut Vietnam. Jua pada tahun 1995 China berhasil merebut Mischief Reef yang juga diklaim oleh Filipina. Kemudian solusi yang muncul adalah dibuatnya sebuah peraturan (CoC, Code of Conduct) yang mengatur segala hal mengenai sengketa wilayah laut tersebut. Namun pada pembentukannya sendiri timbul perbedaan pendapat di antara sesama anggota ASEAN. Di satu sisi Filipina dan Vietnam menginginkan agar seluruh anggota ASEAN menyetujui sebuah konsep CoC untuk kemudian disodorkan dan dinegosiasikan dengan China. Sementara sebagian lain beranggapan perlu bagi ASEAN untuk melibatkan China dalam proses perumusan CoC sejak awal. Dari sini terlihat bahwa ASEAN masih memiliki permasalahan integritas yang cukup serius. Hingga akhirnya China mau bersikap lebih kooperatif, ketika ARF mulai campur tangan meski sangat terbatas. Pada tahun 2002 China setuju untuk menandatangani The Declaration on the Conduct of Parties in the South China. Dan akhirnya Vietnam dan China menegaskan kembali kedaulatan mereka atas kepulauan melalui pernyataan publik pada tahun 2004 (Vaughn & Morrison, 2006).

Selain itu pengaruh China dalam hal ekonomi yang mulai mendominasi ASEAN melalui dukungannya terhadap persebaran komunisme di kawasan Asia Tenggara juga dianggap sebagai ancaman. Meski kemudian pada akhirnya persepsi tersebut mulai berubah saat terjadi krisis finansial di Asia pada tahun 1997/1998, di mana China menolak untuk mendevaluasi mata uangnya sementara nilai mata uang negara-negara lain di Asia turun secara tajam. Kemudian di akhir 2004, China dan ASEAN secara bertahap sepakat untuk menghilangkan tarif dalam perdagangan dan mulai menciptakan area perdagangan bebas –free trade area—pada tahun 2010 dengan membentuk ACFTA (ASEAN-China Free Trade Area).

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa hubungan negara-negara ASEAN dengan China saat ini telah mengalami perkembangan ke arah yang lebih baik dibandingkan pada masa Perang Dingin. Terlihat dari kerjasama yang terjadi dalam berbagai bidang. Dalam bidang ekonomi adalah kerjasama melalui ACFTA. Dalam bidang keamanan melalui keterlibatan China dalam ARF. Penulis berpendapat bahwa dalam kerjasama ekonomi, China lebih banyak mengambil keuntungan daripada negara-negara ASEAN. Hal ini terlihat dari produk-produk China yang lebih banyak membanjiri pasaran. Dan hal ini justru menjadi tantangan bagi ASEAN untuk mencari strategi supaya tidak kalah oleh China, dan dapat mengambil keuntungan dari kerjasama tersebut.

 

Referensi:

Buku:

Goh, Evelyn. 2007.Great Powers and Hierarchical Order in Southeast Asia: Analyzing Regional Security Strategies, dalam International Security, Vol. 32 hal.113-157.

Jian, Chen. 2001. Mao's China and the Cold War. The University of North Carolina Press.

Yamada, Yasuhiro. 2007. “Changing Faces of East Asian International Relations and the U.S.-China-Japan Triangular Relations”.

Yamada, Yasuhiro. 2009. International Relations of East Asia in Transition, and ASEAN, China, the United States and Japan. Discussion Papers in Contemporary China Studies, Osaka University Forum on China No.2009-3, hal. 1-12.

Internet:

Vaughn, Bruce & Morrison, Wayne M. 2006. China-Southeast Asia Relations: Trends, Issues, and Implications for the United States. [pdf]. Terdapat dalam: http://www.fas.org/sgp/crs/row/RL32688.pdf. [diakses pada 5 Juni 2012].

Yani, Yanyan Mochamad. 2010 “PIAGAM ASEAN, ASEAN SOCIO-CULTURAL COMMUNITY (ASCC) BLUEPRINT DAN INDONESIA (dalam http://pustaka.unpad.ac.id/wp-content/uploads/2010/06/piagam_asean_asean_socio_cultural_community.pdf, diakses pada 6 Juni 2012).

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :