INDIRA AGUSTIN


Berpacu menjadi yang terbaik

Etnografi Masyarakat Afrika bagian Selatan: Suku Shona dan Zulu

Benua Afrika secara umum terbagi dalam lima kawasan, yaitu Afrika Utara, Selatan, Barat, Timur, dan Tengah. Di mana pada pembahasan kali ini akan difokuskan kawasan Afrika Selatan dan karakteristik masyarakat yang mendiaminya. Negara-negara kawasan Afrika Selatan yang terdaftar oleh PBB (Persatuan Bangsa-Bangsa) antara lain Lesotho, Boswana, Namibia, Republik Afrika Selatan serta Swaziland. Sementara yang belum mendapat pengakuan adalah Zimbabwe, Namibia, Malawi, Angola, Mozambique dan Zambia. Benua Afrika sendiri dipercaya merupakan benua di mana manusia pertama kali ada dan kemudian menyebar ke segala penjuru dunia berdasarkan penelitian dari James Watson dan Alan Wilson terhadap DNA manusia dari berbagai wilayah di dunia. Dalam hal keadaan lingkungan alam dan geografis, serupa dengan bagian lain Afrika, kondisi iklim didominasi oleh iklim gurun yang kering dan tandus, serta kurang mendapat curah hujan yang memadai bagi kesuburan tanah.

Beberapa negara di kawasan Afrika Selatan tergabung dalam sebuah Komunitas Pengambangan Afrika Selatan (SADC, Southern African Development Community) yang didirikan pada tahun 1992. Masyarakat kawasan ini didominasi oleh ras negroid yang masih terbagi lagi ke dalam sub-sub ras yang lebih kecil dan beragam. Di Afrika Selatan sendiri terdapat sub-ras Khoisan yang memiliki banyak kemiripan dengan ras negroid dengan ciri fisik berkulit hitam, berambut keriting, dengan tubuh yang tidak terlalu tinggi namun tegap dan bibir yang tebal. Perbedaannya adalah bentuk tengkorak sub-ras Khoisan adalah bulat, sementara ras negroid cenderung persegi.

Sama halnya dengan wilayah lain di benua Afrika,  isu yang menonjol terkait wilayah ini adalah isu kesehatan HIV/AIDS yang mana dikenal merupakan daerah asal penyebaran virusnya. Hal ini sangat berhubungan dengan budaya yang mereka anut seperti satu raja yang memiliki 200 istri yang tinggal dalam satu kota. Selain itu, pola hidup yang kurang sehat juga semakin memperburuk keadaan mereka yang semakin terancam olah virus HIV/AIDS. Selain itu, isu yang menonjol adalah mengenai sistem Apharteid yang merupakan pilitik rasis orang kulit putih terhadap orang kulit hitam yang kemudian berhadil dihapuskan oleh presiden Afrika Selatan, Nelson Mandela.

Di kawasan Afrika bagian Selatan terdapat dua suku yang dianggap sebagai suku tertua dan mendominasi, yakni suku Shona dan suku Zulu. Suku tersebut merupakan mayoritas yang jumlahnya mencapai 80% dari seluruh Zimbabwe dan banyak terdapat di wilayah Masgonaland. Mereka berbicara dengan bahasa Shona yang merupakan bahasa resmi di Zimbabwe. Sejarah peradabannya dapat menunjukkan bagaimana cara hidup suku Shona pada zaman dahulu. Suku Shona sudah menetap di wilayah Zimbabwe sejak awal abad ke-13 dan mengawali peradaban dengan membangun kota pemujaan Great Enclosure. Pada masa itu raja yang memimpin memiliki istri sebanyak 200 orang yang tinggal dalam sebuah kota yang sama. Pekerjaan yang mendominasi adalah gembala sapi dan domba, karena wilayah yang meliputi [adang rumput yang luas dan berada di lembah di antara sungal Zambesi dan Limpopo. Kepercayaan mereka pada awalnya merupakan animisme dan dinamisme. Akan tetapi masuknya bangsa Barat pada era kolonialisme dan imperialisme dengan membawa serta kebudayaan dan agama berbeda turut mempengaruhi kepercayaan serta kebudayaan mereka. Mereka mulai menganut Kristen meski tetap berpegang teguh pada adat istiadat lokalnya, seperti menggunakan ember berisi air untuk melamar dalam acara pernikahan. Sebagai suku mayoritas di Zimbabwe, suku Shona telah mengenal sistem pengetahuan, perlengkapan hidup, dan teknologi yang cukup mapan untuk sekedar menjalankan sistem pemerintahan dan perekonomian di Zimbabwe.

Berbeda dengan suku Shona, suku Zulu banyak mendiami wilayah Kwazulu, diperkirakan sejak 10.000 tahun yang lalu setelah sekian lama hidup nomaden atau berpindah-pindah dan menemukan wilayah yang cukup subur dan nyaman untuk ditinggali. Wilayah yang subur membuat mereka menjadikan gembala sebagai sebuah profesi, selain bertani dan berburu. Dan meskipun perlengakapan hidup yang digunakan masih sederhana, namun mereka telah dapat menciptakan rumah berbentuk gubuk yang disebut kraal, sebagai rumah tinggal mereka sekaligus kandang bagi hewan ternak. Sistem sosial yang berlaku telah mengenal sistem pembagian kerja. Pria dewasa bertugas untuk berburu, membuat karya seni berupa pahatan, sedangkan wanita bertugas memasak dan memperbaiki kraal yang rusak, sementara anak-anak mengumpulkan jerami untuk memperbaiki kraal. Dalam kehidupan sehari-hari wanita sangat dihormati. Dapat terlihat pada saat prosesi pernikahan, yaitu laki-laki Zulu wajib mempersembahkan 11 ekor sapi dan sebuah bantal kayu sebagai mahar. Di samping itu suku Zulu dikenal terampil dalam membuat karya seni pahat dan seni lainnya yang terbuat dari kayu, kulit, dan bulu untuk kemudian ditukar dengan barang-barang kebutuhan sehari-hari.

Sementara itu dalam hal sistem religi, suku Zulu masih memegang teguh kepercayaan tradisional, dengan menyembah Tuhan yang disebut Unkulunkulu sebagai pencipta. Di samping itu mereka juga percaya bahwa seluruh makhluk hidup yang ada saat ini berasal dari lautan. Ilmu dalam kehidupan sehari-hari seperti membuat api, bercocok tanam, dan membuat makanan merupakan ajaran dari Tuhan. Akan tetapi suku ini juga tersentuh oleh modernitas, di mana para pemuda banyak yang berurbanisasi menuju wilayah perkotaan untuk memperoleh penghidupan yang lebih baik dan layak.

Suku Zulu dikenal memiliki karakteristik yang pemberani dan gemar berperang, utamanya setelah kedatangan bangsa Spanyol ke wilayah mereka. Senjata yang khas adalah tongkat kayu, yang pada masa sekarang biasa digunakan da;am seni bela diri yang disebut Nguni. Sementara dalam hal kesenian, yang paling menonjol adalah tarian La Picara Sonadora, yang bertujuan untuk memanggil hujan. Dalam percakapan sehari-hari suku Zulu menggunakan bahasa yang namanya sama dengan seni beladiri mereka, yaitu bahasa Nguni.

Dari penjelasan di atas dapat kita simpulkan bahwa masyarakat di kawasan Afrika bagian Selatan ini didiami oleh ras negroid, sama halnya dengan kawasan lain di Afrika, namun didominasi oleh sub-ras Khoisan dengan ciri fisik yang hampir sama. Suku mayoritas yang mendiami kawasan ini adalah suku Shona dan suku Zulu yang keduanya memiliki ciri khas dan keunikan tersendiri. Akan tetapi masalah yang cukup pelik yang masih belum dapat terselesaikan hingga saat ini adalah berkembangnya virus HIV/AIDS.

 

Referensi:

Chanda, N., 2007. The African Beginning. dalam Bound Together. New Haven and London: Yale University Press.

Clapham, Christopher. 1996. Africa and the International System. Cambridge: Cambridge University Press.

Koentjaraningrat. 2000. Pengantar Ilmu Antropologi.

CIA.2012. South Africa [online] tersedia di https://www.cia.gov/library/publications/the-world-factbook/geos/sa.html [diakses pada 1 Juni 2012]

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :