INDIRA AGUSTIN


Berpacu menjadi yang terbaik

Etnografi Masyarakat Eropa Timur: Suku Tatar

Dalam peradaban masyarakat Eropa Timur, terdapat sebuah suku yang hingga saat ini masih tetap bertahan dalam menjaga tradisinya dengan pengaruh nilai-nilai universalisme di tengah derasnya arus globalisasi. Dalam analisis tujuh unsur kebudayaan menurut Cliffort Gertz, yang mencakup sistem religi, organisasi sosial, sistem pengetahuan, sistem perekonomian dan mata pencaharian, sistem perlengkapan hidup dan teknologi, bahasa, dan kesenian. Dan seperti pada umumnya, setiap suku memiliki keunikan tersendiri, begitu pula dengan suku Tatar. Wilayahnya yang mencakup wilayah Eropa Timur menjadikannya seperti hasil perpaduan dari tiga masyarakat wilayah, yaitu Eropa, China, dan Timur Tengah.

Ciri fisik mayarakat suku Tatar adalah berkulit kuning langsat, sebagian berambut pirang dan sebagian lain berambut hitam, bermata biru dan berwajah Eropa. Perpaduan tersebut membuat paras wanitanya sangat elok karena telah bercampur dengan ras kaukasoid. Sistem religi yang berlaku di suku Tatar dapat dibilang unik. Sebab mereka memluk agama Islam Sunni meski berada di wilayah Eropa Timur. Hal ini tidak dapat dilepaskan dari catatan sejarah suku Tatar sendiri. Di mana pada masa sebelumnya mereka berasal dar Gurun Ghobi yang kemudian dikuasai oleh Jengish Khan, yang menjadikan mereka sebagai prajurit, dan turut berpartisipasi dalam ekspansi ke Barat hingga mencapai Eropa Timur dan menetap disana. Dan pada saat suku ini berinteraksi dengan masyarakat Turki, mereka mengadopsi agam berikut denngan kebudayaan Turki yang pada saat itu merupakan pusat peradaban Islam di Eropa. Bahasa yang digunakan adalah bahasa Altai yang ditulis dalam huruf Arab, meski juga terdapat beberapa bahasa lain seperti  Xinjiang, Uygurs, dan Kazakhs yang kemudian memunculkan dialek lokal.

Sistem perekonomian dan mata pencaharian suku Tatar ini dipengaruhi oleh keadaan geografis yang berupa stepa dan padang rumput, yakni berdagang dan berternak. Namun pada masa sebelumnya ketika masih masa kekuasaan Jengish Khan, mayoritas dari mereka menjadi tentara bayaran. Sementara itu dari segi sistem pengetahuan, pendidikan mulai dikenalkan dengan mempelajari Al-Quran dan aritmatika sejak abad ke-19. Namun pada saat ini, juga dipengaruhi kedekatan geografis dengan Polandia, sistem pendidikan yang diterapkan hampir sama dengan kelompok mayoritas di Polandia. Sistem teknologi dan perlengakapan hidup mereka berkembang seiring dengan berkembangnya zaman. Akan tetapi sebelum mengenal modernitas barat, mereka tinggal di kota dengan rumah beratap datar dan cerobong asap yang berfungsi sebagai penghangat ruangan. Pakaian yang digunakan cenderung bercorak dan berwarna-warni meki tetap rapi, dengan paduan kemeja putih bodir dan topi hitam pendek  dan celana, serta gaun panjang dengan topi berbulu hitam bagi kaum perempuan di musim dingin. Pada acara pesta, kesenian yang mereka tonjolkan biasanya adalah tarian yang hampir sama dengan tarian orang Turki dengan menonjolkan gaun dengan pernak-pernik sebagai perhiasan dan dansa berputar-putar. Akan tetapi pada saat ini mereka mulai berbusana seperti orang Barat.

Poin penting yang didapat selama diskusi di dalam kelas adalah bahwa suku Tatar memeluk agama Islam tidak lain karena banyaknya interaksi dengan kebudayaan Turki, baik karena adanya perpindahan pada masa Jengish Khan maupun karena melalui hubungan dagang yang banyak dilakukan. Di samping itu juga di dekatuhi bahwa suku Tatar ini merupakan suku minoritas, yang sempat mengalami diskriminasi oleh banyak suku lain yang berada di sekitarnya, yang menuntut adanya asimilasi dan tidak mentoleransi adanya perbedaan kebudayaan, dan berniat untuk menghilangkan kebudayaan asli mereka. Akan tetapi suku Tatar ini tetap dapat mempertahankan eksistensinya, utamanya pada saat Uni Soviet meluaskan pengaruhnya beserta dengan ideologi komunisnya, hingga akhirnya Uni Soviet mengalami keruntuhan pada tahun 1990-an yang juga berakibat pada munculnya negara-negara yang memerdekakan diri dan beberapa mendirikan negara berdasarkan suku bangsanya masing-masing.

 

Referensi:

Geertz, Clifford. 1973. “The Interpretations of Culture”. New York : Basic Books.

Koentjaraningrat. 2000. Pengantar Ilmu Antropologi.

Anonim.t,t. Eropa [online] tersedia di  http://misi.sabda.org/book/export/html/1953 [diakses pada 10 Mei 2012]

The Guardian.2011. Muslim Eropa [online] tersedia di http://indonesian.irib.ir/sosialita/-/asset_publisher/QqB7/content/id/4962867  [diakses pada 10 Mei 2012]

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :