INDIRA AGUSTIN


Berpacu menjadi yang terbaik

Pengantar Globalisasi: Krisis-Krisis Globalisasi

Interupsi-Interupsi Globalisasi

 

Oleh: Indira Agustin (071012006)

Dalam pandangan kaum historis, globalisasi sudah pernah terjadi sejak ribuan tahun lalu dimana manusia dapat melintas antar wilayah tanpa ada yang membatasi. Berbeda dengan saat ini ketika unuk melintasi wilayah suatu negara kita direpotkan oleh adanya birokrasi-birolrasi yang mensyaratkan berbagai macam hal untuk dilalui terlebih dahulu. Banyak scholar pun setuju bahwa adanya globalisasi saat ini pernah beberapa kali mengalami interupsi. John Ralston Saul (2005) mengatakan bahwa terjadi banyak sekali interupsi globalisasi di banyak tempat seperti Amerika Latin, Meksiko, dan Asia utamanya Asia Timur. Meskipun sempat mengalami kemajuan dalam hal perekonomian dengan bantuan globalisasi, namun faktanya perekonomian di beberapa tempat justru mengalami kemerosotan, bahkan hingga menimbulkan kekacauan. Adanya peristiwa-peristiwa tersebut ditengarai silatarbelakangi oleh sikap-sikap antiglobalis yang skeptis dengan adanya neoliberalisasi ekonomi yang memicu tumbuhnya kapitalisme dimana-mana. Apa yang terjadi pada Meksiko ialah ia mengalami devaluasi Peso besar-besaran akibat kebijakan moneter serta fiskalnya tidak berjalan dengan baik setelah ia bergabung dengan NAFTA dan OECD (Saul, 2005). Perekonomiannya benar-benar menemui jalan buntu pada tahun 1995. Krisis ini lalu menyebar ke negara-negara di Amerika Latin seperti Brazil dan Argentina. James Wolfsohn yang sudah lama berkarir di perbankan dunia pada tahun 2000 mengatakan bahwa kesenjangan ekonomi yang terjadi di Amerika Latin amatlah parah, yakni mencapai lebih dari 40 juta orang berada di bawah garis kemiskinan. Negara-negara Amerika Latin ini awalnya pernah bergabung dengan IMF serta terlibat dalam perekonomian negara-negara barat dan bank-bank swasta sehingga perekonomiannya berkembang. Namun semakin lama mereka juga mengalami kehancuran ekonomi akibat adanya liberalisasi, privatisasi, dan stabilisasi untuk mereformasi kehancuran tersebut. Sementara yang terjadi Asia adalah krisis yang diakibatkan oleh tidak seimbangnya nilai tukar mata uang Asia dengan Dollar AS. Dapat dianalogikan negara-negara dengan perekonomian besar merupakan kaum otoriter sementara negara-negara berkembang yang perekonomiannya terbelakang, dalam hal ini Asia merupakan pasar sumber daya dan tenaga kerja yang dapat dengan murah dieksploitasi. Kapitalisme yang bersifat state-directed mempersulit proses internasionalisasi modal. Amerika Serikat disini menginginkan global free enterprise system  yang memungkinkan para investor dari berbagai perusahaan transnasional untuk dengan mudah dapat menanamkan modalnya sehingga dapat dengan mudah pula ia memegang kendali serta memperoleh keuntungan yang lebih besar (Soros, 2002). Negara-negara berkembang di Asia mengalami krisis yang parah, kecuali Malaysia. Dalam hal ini Perdana Menterinya Mahathir Mohammad pada tahun 1998 menarik ringgit dari pasar global, meninggikan ekspor dan membatasi ekspor kapital asing, serta menetapkan tarif yang tinggi. Dengan demikian Malaysia berhasil menstabilkan perekonomiannya, berlawanan dengan prediksi-prediksi kaum neoliberal dan idealisme kaum globalis.

Selanjutnya adalah interupsi yang disampaikan oleh George Soros (2002), yang dalam tulisannya ia mengatakan bahwa pertama, banyak kaum yang termarjinalkan oleh pasar global disebabkan ketidak punyaan atas modal untuk bersaing dalam konteks global. Kedua, globalisasi mengaburkan sumber daya,sulit untuk membedakan mana yang pribadi dan mana yang publik. Ketiga, pasar keuangan global rawan krisis, terutama bagi negara berkembang. Meskipun globalisasi banyak menimbulkan kerugian –bagi kaum antiglobalis, namun setidaknya globalisasi berusaha untuk membantu memprbaiki kekurangan yang ada di sana-sini meskipun tidak banyak.

Dalam situs resmi IMF pun dinyatakan bahwa globalisasi pernah mengalami interupsi, yakni pada permulaan abad ke-20, yang disebabkan gelombang proteksionisme dan nasionalisme yang agresif, yang selanjutnya memicu timbulnya Great Depression dan Perang Dunia (www.imf.org).

Dalam tulisannya The Geopolitics of the Asian Crisis, Stephen Gill (2008) mengatakan bahwa terdapat  restrukturisasi dan rekonstruksi pada tatanan dunia, dimana perubahan ideas serta institusi-institusi baru telah mneyebabkan munculnya elites baru dalam globalisasi. Dalam hal ini yang dimaksud elites adalah para aparat, ilmuwan dalam transnasional kapitalis yang merupakan puncak dari hirarki sosial yang membentuk karakteristik world order yang baru. Disamping itu Gill (2008) juga berpendapat bahwa salah satu inetrupsi globalisasi adalah adanya krisis yang terjadi di banyak tempat negara-negara yang perekonomiannya belum kuat. Dan hal ini merupakan salah satu dari proses strategi dari Amerika Serikat untuk mendominasi, melalui modal-modal asing yang ia masukkan ke dalam negara-negara berkembang yang umumnya kesulitan modal.

Menurut opini penulis, mungkin yang dibutuhkan saat ini adalah adanya pendekatan pada globalisasi yang benar-benar dapat menjamin kesejahteraan masyarakat dunia. Karena pada kenyataannya globalisasi memang mengalami banyak interupsi, utamanya menyebabkan krisis-krisis pada negara-negara yang perekonomiannya belum sekuat negara-negara seperti Amerika Serikat dan Eropa Barat.

Referensi:

Soros, George. 2002. “Introduction: the Deficiencies of Global Capitalism”, George Soros on Globalization, New York: Public Affairs Book, pp. 1-29

Soros, George.  1998. “the Global Financial Collapse”, dalam the Crisis of Global Capitalism”, New York: Public Affairs, pp. 135-174

Saul, John Ralston. 2005. “A Chronology of Decline: the Malaysian Breakout”, dalam the Collapse of Globalism and the Reinvention of the World, London: Atlantic Book, pp. 157-170

Gill, Stephen, 2008. “the Geopolitics of the Asian Crisis” , dalam Power and Resistence in the New World Order, New York: Palgrave Macmillan, pp. 149-160

International Monetary Funds. (2002). Globalization : A Framework for IMF Involvement. (http://www.imf.org/external/np/exr/ib/2002/031502.htm). Diakses tanggal 23 Juni 2011.

 

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :