INDIRA AGUSTIN


Berpacu menjadi yang terbaik

Arus Balik Globalisasi

Oleh: Indira Agusin/071012006

Sejauhmana globalisasi mendapatkan penentangan umum selama ini? Mengapa muncul penentangan umum atas globalisasi? Siapa sesungguhnya para penentang globalisasi sejauh ini?

Globalisasi dibalik segala kebaikan yang dijanjikannya terdapat berbagai pihak yang menentang keberadaannya lantaran merasa dirugikan. Pada 1993 terdapat kelompok kecil petani yang pekerja agricultural yang berusaha memperjuangkan kedaulatan bagi makanan. Hal ini menjadi terkenal karena ada sebuah cerita mengenai Lee Kyung hae, petani Korea Selatan yang menentang WTO karena menyebabkan terancamnya mata pencaharian petani-petani lokal di berbagai wilayah di seluruh dunia, yang kemudian membuatnya bunuh diri si hadapan pendemonstrasi lain saat melakukan demonstrasi pada pertemuan rutin WTO (Chanda, 2007). Kisah kelam Lee Kyung hae tersebut kemudian membuat para antiglobalis lainnya menjadi solider dan terus memperjuangkan antiglobalisasi. Ada juga kisah Jose Bove dari Prancis yang memprotes mengglobalnya fastfood yang merugikan petani-petani lokal yang di wilayahnya terdapat gerai-gerai fastfood. Rata-rata pemrotes globalisasi ini adalah kaum skeptis, dan bagi mereka globalisasi merupakan sebuah ancaman yang hanya meningkatkan kemiskinan dan ketidakadilan, menyebarnya kriminalisasi yang dikendalikan dan disengaja melalui kebijakan-kebijakan yang dibuat oleh kelompok-kelompok, individu-individu, atau institusi-institusi tertentu seperti IMF, WTO, maupun World Bank, yang dengan kata lain adalah kepanjangan tangan dari kapitalisme dan pasar bebas (Chanda, 2007). Dimana para petani ini berusaha melawan perusahaan-perusahaan besar dunia demi mempertahankan keberlangsungan hidupnya. Bagi Bove, seperti yang dituliskan Chanda dalam artikelnya makanan adalah hal yang terlalu vital untuk diserahkan pertanggungjawabannya dalam perdagangan internasional.

Para pengkritik kapitalisme yang ada dalam globalisasi bukan hanya para petani yang merasa dirugikan. Namun pada awal kemunculannya globalisasi dipandang telah mengandung nilai-nilai kapitalisme oleh Karl Marx dan Friedrich Engels dalam karya mereka Communist Manifesto (Chanda, 2007). Yang mana intinya mengatakan bahwa adanya saling ketergantungan yang menyeluruh adalah cara pihak-pihak tertentu untuk mendapatkan keuntungan. Serta globalisasi merupakan nama lain dari eksploitasi oleh kapitalisme –meskipun hal ini diluar konteks sosialisme.

Dalam konteks masyarakat internasional secara empiris, globalisasi membuat kerugian besar, dimana dalam kasus Hitler, masyarakat yang pada saat itu bermigrasi secara bebas, mendapat perlawanan oleh Hitler. Padahal saat itu sudah ada Liga Bangsa-Bangsa, the Disarmament Conference, dan lain sebagainya (Chanda, 2007). Yang berarti adanya LBB yang fungsinya untuk mengatur keamanan internasional tidak dapat berfungsi secara maksimal. Kemudian adanya kebebasan untuk bermigrasi dapat menimbulkan penumpukan tenaga kerja yang dapat mengakibatkan pengangguran.

Kemudian para buruh di awal abad ke-21 merasa pekerjaannya terancam karena adanya pekerja dengan upah rendah yang umumnya berasal dari China dan India. The American Manufacturing Trade Action Coalition menyebabkan tutupnya 19 pabrik dan hilangnya 26000 pekerjaan (Chanda, 2007).

 Menurut Chanda, kesenjangan yang dihasilkan oleh globalisasi tidak hanya terdapat pada konteks internasional, hal ini juga terjadi pada keadaan dalam negeri antara kaum yang kaya dan miskin. Seperti yang terjadi dalam kasus Lee Kyung hae, bahwa ia merasa dirugikan atas perdagangan bebas makanan yang merugikan petani, namun tetap adap pihak-pihak yang diuntungkan karena ada variasi produk dan harganya menjadi lebih murah.

Dalam globalisasi, para aktivis lingkungan pun juga merasa dirugikan atas adanya globalisasi. Dalam hal ini globalisasi menghasilkan polusi dan kerusakan lingkungan. Dimana ada banyak perusahaan multinasional yang mengeksploitasi sumber daya alam secara berlebihan yang letaknya di negara-negara berkembang, dimana regulasi-regulasi mengenai lingkungan tidak terlalu ketat. Kemudian perdagangan yang meluas telah menyebabkan juga banyaknya hutan yang digunduli, ikan-ikan yang diambil tanpa batas, serta polusi industri yang sangat berpengaruh buruk pada lingkungan. Sehingga jelaslah bahwa semakin berkembangnya perdagangan maka semakin globalisasi itu mendorong konsumsi global, yang akan lebih mendorong eksploitasi terhadap alam.

Penentangan terhadap globalisasi secara umum adalah karena ada pihak-pihak yang merasa dirugikan oleh adanya globalisasi tersebut, yang menurut mereka hanya pihak tertentu yang memperolah keuntungan atas globalisasi. Semakin global suatu hal, maka pengkritik atasnya akan semakin menentang.

Penentang atas globalisasi menurut artikel Chanda, 2007 sesungguhnya adalah kaum miskin atau negara-negara yang tidak kaya yang tidak mendapatkan keuntungan atas globalisasi. Karena globalisasi membawa ketidakadilan antar negara (Chanda, 2007).

Referensi:

Chanda, Nayan. 2007. “Who’s Afraid of Globalization”, dalam Bound Together: How Traders, Preachers, Adventurer, and Warriors Shaped Globalization, New Haven: Yale University Press, pp. 271-303

 

 

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :