INDIRA AGUSTIN


Berpacu menjadi yang terbaik

Introduction: Sebab-Sebab Struktural dan Konsekuensi Adanya Rezim Internasional

Oleh: Indira Agustin (071012006)

            Kata rezim seringkali dikaitkan dengan kekuasaan, otoritarian,diktator,dan hal-hal lain yang buruk dan jahat. Seperti rezim Soeharto, Khadafi, dan Marcos. Padahal sebenarnya bukan. Bisa jadi hal itu disebabkan pengaruh media yang menamakan pemerintahan seorang pimpinan negara yang berkepanjangan. Keohane dan Nye mengatakan bahwa rezim adalah seperangkat pemerintahan yang memiliki jaringan aturan-aturan, norma-norma, dan prosedur-prosedur yang menghasilkan sikap suatu negara dan mengontrol efek-efeknya. Sedangkan Haas berkata, rezim itu mencakup seperangkat persamaan prosedur-prosedur, aturan-aturan, dan norma-norma. Dan Hedley Bull pun berpendapat bahwa rezim adalah makna dari aturan-aturan dan institusi-institusi dalam masyarakat internasional, dengan bentuk-bentuk prinsip perintah (pemerintahan) yang umum yang mensyaratkan negara untuk berperilaku seperti yang telah ditentukan. Sehingga dapat disimpulkan bahwa rezim adalah sekelompok orang atau kelompok yang mempunyai kesamaan prinsip-prinsip, norma-norma, aturan-aturan, dan prosedur-prosedur pengambilan keputusan, sehingga seolah-olah terjadi suatu kesepakatan. Rezim internasional berbeda dengan hukum internasional maupun organisasi inernasional. Rezim memiliki skala formalitas, yang dalam tingkat formalitas tertentu bisa menjadi sebuah organisasi.

            Dalam perkembangannya, rezim terbagi menjadi 5. Yang pertama yaitu egoistic self interest, yaitu memaksimalkan fungsi kepemilikan yang dimiliki, sedangkan fungsi kepemilikan pihak lain tidak termasuk. Bagi kaum liberalis, pihak-pihak yang sama-sama memaksimalkan fungsi kepemilikan, pada suatu titik tertentu akan ada persamaan kepentingan yang bertemu sehingga mereka melakukan kolaborasi. Sedangkan kaum realis, masing-masing pihak selalu memiliki rasa tidak setuju dorongan untuk saling mengelak (aversion), dan karena perbedaan skala kemampuan yang dimiliki oleh masing-masing pihak, akan menghasilkan koordinasi dari masing-masing pihak. Kedua, yakni political power. Maksudnya suatu pihak dapat menggunakan kekuatan (power) yang dimilikinya untuk melayani kebaikan bersama. Tapi disisi lain pihak tersebut juga dapat menggunakan kekuatan (power) yang dimilikinya untuk melayani atau mendahulukan kepentingan pribadinya diatas kepentingan umum, dengan cara mempengaruhi strategi yang akan dipilih oleh pihak lain. Yang ketiga adalah norma-norma dan prinsip-prinsip, yaitu beberapa atau sekelompok pihak sudah dapat dikatakan sebagai sebuah rezim hanya dengan memiliki norma-norma dan prinsip-prinsip yang sama. Yang keempat yaitu Adat dan Kebiasaan. Meskipun adat dan kebiasaan merupakan fakor dari luar, tapi sangat mempengaruhi rezim yang dijalankan oleh suatu pihak. Karena tiap individu dari dari berbagai kelompok tentu memiliki adat dan kebiasaan yang berbeda-beda. Yang kelima, pengetahuan. Semakin luas pengetahuan yang dimiliki suatu pihak, maka semakin besar kemampuannya untuk menghalangi maupun mencampuri urusan pihak lain.

            Ada dua pandangan mengenai keefektifan sebuah rezim. Yakni rasionalis dan reflektivis. Rasionalis mengedepankan efisiensi dengan hasil akhir berupa rules base atau dasar hukum. Sedangkan reflektivis mengutamakan legitimasi yang dengan konstruktif akan meghasilkan konstitusi. Rezim muncul sekitar 1970an, dimana pasca Perang Dunia II muncul Hegemonic Stability, diawali dengan Bretton Wood (1944) yang kemudian menghasilkan IMF, GATT, dan World Bank atau IBRD. Konon ketiganya dapat berjalan karena ditopang oleh AS yang memiliki hegemonic stabiity. Yang kemudian antara 1970-1975 AS mengalami deklinasi, dan ternyata ketiga organisasi tersebut tidak mengalami deklinasi.

            Ciri utama rezim yaitu adanya spesific issue area, ada issue tertentu yang dibahas seperti sepakbola, penerbangan, perdagangan, dll. Contoh pada isu perdagangan yaitu bergantinya GATT menjadi WTO pada 1994/1995. Ketika masih GATT, negara-negara berkembang beroposisi terhadap perdagangan bebas. Namun kemudian setelah berganti menjadi WTO negara-negara berkembang menjadi pro terhadap perdagangan bebas , sama seperti negara-negara maju. Terdapat unsur-unsur konstruktif disini, yaitu adanya kesamaan ide dan identitas diantara negara-negara berkembang dan maju. Karena WTO berprinsip perdagangan bebas, normanya tidak membeda-bedakan (persamaan), aturannya rules of origin, pengambilan keputusannya secara bersama, maka WTO merupakan sebuah rezim perdagangan internasional. Karena terdapat empat unsur rezim didalamnya, yaitu: prinsip-prinsip, norma-norma, aturan-aturan,dan  prosedur-prosedur pengambilan keputusan.

            Konvergensi harapan atau harapan orang-orang yang diperintah terhadap orang-orang yang memerintah, beserta formalitasnya mempengaruhi keberadaan suatu rezim. Apabila konvergensi harapannya tinggi dan formalitasnya rendah, maka itu merupakan sebuah rezim yang muncul secara diam-diam atau tacit regime. Sedangkan apabila konvergensi harapannya rendah namun formalitasnya tinggi, maka disebut dengan rezim dead letter regime. Jika konvergensi harapan maupun formalitasnya sama-sama tinggi, maka itu adalah sebuah rezim klasik. Dan apabila konvergensi harapan maupun formalitasnya sama-sama rendah, maka jelas tidak terdapat rezim didalamnya.

 

Referensi:

D.Krasner Stephen, "Structural causes and regime consequences: regime as intervening variables" dalam D.Krasner,Stephen (ed). International Regimes, Cornell University Press,hal 1-21.

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :