INDIRA AGUSTIN


Berpacu menjadi yang terbaik

Siapa mengatakan apa pada siapa tentang rezim-rezim?

Oleh: Indira Agustin (071012006)

Seperti yang dikatakan oleh Haas, mempelajari rezim itu adalah suatu cara untuk memahami interaksi-interaksi manusia dengan alam dan budayanya. Maka jika dalam rezim internasional yang dipelajari adalah interaksi aktor-aktor internasional dengan alam dan kebudayaan di sekitar mereka. Dalam jurnal ini nantinya akan dibahas mengenai pendekatan organic dan metafora yang didalamnya berbicara bagaimana kedua hal diatas dapat berpengaruh pada manusia. Membangun ataupun mengubah rezim yang sudah ada  adalah salah satu bentuk pemecahan masalah manusia yang memerlukan para aktor untuk mempelajari konsep yang ada (Ernst B. Haas).

Dalam mempelajari rezim, ada tiga kata yang identik namun maknanya berbeda, yaitu keteraturan (order), sistem, dan rezim itu sendiri. Rezim merupakan bagian dari sistem, dimana sistem mencakup keseluruhan. Sebagai contoh, dalam sebuah sistem, inputnya adalah negara yang didalamnya terdapat rezim sehingga menghasilkan output berupa keteraturan (order). Sehingga dapat dikatakan bahwa untuk menciptakan atau menghasilkan sebuah keteraturan, negara membutuhkan rezim. Ketika rezim tersebut berada dalam konteks internasional, maka terdapat unsur saling ketergantungan antar aktor-aktor yang berperan. Dan oleh sebab itu pula  negara jarang ada yang benar-benar mandiri dalam mengatasi suatu masalah karena ada rasa tergantung pada aktor lain. Biasanya sebelum bergabung pada rezim tertentu, negara melakukan perhitungan akan biaya kesempatan atau untung dan rugi yang akan didapatnya, dan mengantisipasi agar sesedikit mungkin terjadi kerusakan hubungan. Karena negara sebagai aktor mempunyai otonomi dalam struktur sebuah rezim.

 Akan tetapi rezim itu bukan suatu yang selalu tetap, karena ia bergantung dari apa yang ia keluarkan dan dapatkan, maka kebijakan yang dihasilkan juga tidak menentu.  Arthur Stein membagi kebijakan yang tidak menentu tersebut menjadi dua berdasarkan kesamaan para aktornya. Yang pertama yaitu adanya kesamaan kepentingan, dalan mencapai tujuan yang sama alam rezim tersebut, para aktor melakukan kolaborasi. Mereka dengan senang hati berkolaborasi dan memberi hak atau kuasa pada institusi rezim tersebut untuk mengawasi dan dan menjadi mediator mereka jika terjadi konflik (dilemma of common interests). Yang kedua adalah kesamaan kebencian atau ketakutan. Para aktor aktor tidak mau bekerjasama untuk mencapai tujuan yang sama, rezim ini malah mensyaratkan kebijakan koordinasi (dilemma of common aversion). Institusi melarang suatu perbuatan tertentu, tetapi tidak melakukan pengawasan dan memberi solusi pada permasalahan yang ada, dan jarang mengusahakan kerjasama dalam kebijakan yang positif.

Terdapat dua dasar metafora dalam rezim, yakni metafora mekanik dan metafora organik yang memandang rezim secara konseptual dan semantik. Para ahli metafora mekanik berusaha meminimalisir gangguan pada sistem dan mengembalikannya pada keseimbangan. Metafora mekanik ini berfokus pada pemeliharaan diri yang konsep utamanya adalah hegemoni, dan dasarnya adalah politik dan ekonomi. Para ahli metafora mekanik ini pesimis, memandang dunia sebagai negara yang kukuh, tertutup (pilihan-pilihan manusia sudah ditentukan), dan masa depannya ditentukan oleh elemen konstituen dan hukum yang mengatur mereka. Terdapat tiga pendekatan dalam metafora mekanik ini, antara lain liberal, merkantilis, dan mainstream. Masing-masing pendekatan ini memiliki tujuan, kepentingan aktor, rezim, harga dan keuntungan yang berbeda-beda. Pendekatan liberal bertujuan pada peningkatan pembagian kerja global, kepentingannya hanya untuk jangka pendek, rezimnya memaksimalkan efisiensi, stabilitas, dan hirarki. Sedangkan pendekatan merkantilis bertujuan pada peningkatan kapasitas nasional, kepentingan aktornya untuk jangka panjang, dan rezimnya menjamin keuntungan dengan pembagian tanggungan biaya yang sesuai. Dan pendekatan mainstream bertujuan pada kepentingan-kepentingan koalisi hegemoni, kepentingan aktornya sama dengan liberal, yaitu jangka pendek, rezimnya mengurangi ketidakpastian, memaksimalkan keuntungan dengan meminimalisasi biaya. Namun ketiga pendekatan ini mengedepankan egoismenya dalam mengejar kepentingannya, dan keanggotannya berdasarkan isu per isu.

Sedangkan metafora organik sifatnya terbuka, dinamis, dan maju. Ia mengedepankan pertumbuhan dan perkembangan. Dengan cerdasnya metafora organik mencari keuntungan dari ketidakseimbangan  untuk menjamin keberlanjutan adaptasi pada kenyataan yang selalu berubah. Ia berfokus pada pengorganisasian diri. Sebagai dasarnya adalah teori evolution dan gambaran suatu bidang yang sedang kacau. Seperti metafora mekanik, dalam metafora organik pun terdapat tiga pendekatan, yaitu eko-environmental, eko-reformis, dan egalitarian. Eko-environmentalis berfokus pada keberlangsungan hidup manusia. Bagi mereka, krisis kemanusiaan merupakan sebab dari kompleksnya permasalahan yang terjadi. Sehingga dengan mengatasi krisis tersebut, permasalahan yang lain akan mudah diselesaikan. Sedangkan eko-reformis berfokus pada permasalahan yang menyebabkan ketidakteraturan. Dalam menyelesaikan permasalahan tersebut, rezim diperlukan untuk mengatur norma-norma fisik dan biologis supaya kualitas hidup global meningkat. Dan menurut pendekatan egalitarian, semua orang harus diperlakukan sama, tanpa memandang status. Sehingga rezim harus mengatasi masalah pembedaan, supaya semua orang diperlakukan sama, berdasarkan nilai partisipasi, hak untuk menentukan nasib sendiri, serta harga diri.

Dari sini dapat dikatakan bahwa para ahli metafora mekanik berfokus pada masa depan manusia, tetapi hanya membuat tatanan atau pengaturan politik jangka pendek dari yang seharusnya dibutuhkan untuk menjamin masa depan manusia yang panjang. Dan para ahli metafora mekanik hebat dalam hal politik dan ekonomi, namun gagal dalam menunjukkan ketertarikannya pada problem yang nyata, maksudnya bagaimana mereka mengaplikasikan keahlian mereka pada problema yang ada. Sehingga pemecahan masalah belum bisa maksimal. Salah satu solusinya adalah dengan mencoba manyintesiskan kedua metafora tersebut, apakah bisa menyelesaikan masalah yang terjadi.

Referensi:

B. Haas,Ernst, ‘Words can hurt you; or, who said what to whom about regimes’ dalam D. Krasner, Stephen(ed), International Regimes, Cornell University Press, Ithaca and London, hal.22-59.

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :