INDIRA AGUSTIN


Berpacu menjadi yang terbaik

Pelajaran-Pelajaran dari Analisis-Analisis Induksi

Oleh: Indira Agustin/071012006

Istilah rezim membuat kita harus memahami seperangkat aktivitas yang diatur dan dipahami secafra berbeda. Sifat rezim yang memaksa serta mengatur perilaku para aktornya mempengaruhi isu-isu diantaranya, dan menentukan aktivitas mana yang telegitimasi dan mana yang tidak, kemudian bagaimana aktivitas tersebut berpengaruh terhadap penyelesaian sebuah konflik. Terdapat lima ciri utana rezim. Yang pertama adalah fenomena sebuah perilaku (Donald P. & Raymond H., 1983). Perilaku para aktor melekat pada prinsip-prinsip, norma-norma, aturan-aturan, yang terkadang bersifat resmi. Namun rezim itu sendiri subjektif, karena muncul sebagai realisasi dari adanya kepentingan, harapan, maupun moral. Dan perilaku salah satu aktornya pun tak lepas dari pengaruh aktor-aktor lain yang terdapat dalam rezim tersebut. Yang kedua ialah rezim internasional berprinsip pada prosedur pembuatan keputusan yang tidak hanya menghasilkan norma pokok yang utama, tapi juga norma-norma yang lebih luas yang dapat menghasilkan aturan-aturan. Kemudian yang ketiga yaitu sebuah penjelasan mengenai rezim harus benar-benar mencirikan prinsip-prinsip utama yang dijunjungnya sebagaimana norma ditegakkan –membenarkan apa yang baik dan melarang yang menyimpang. Deskripsi tersebut khususnya digunakan untuk memperkirakan prioritas prinsip dan prospek untuk pemberlakuan norma, yang dapat mencegah kemungkinan terjadinya perubahan. Yang keempat adalah rezim memiliki seperangkat aktor-aktor utama yang mempunyai peranan lebih dibanding yang lain. Anggota yang resmi dari sebuah rezim internasional biasanya adalah pemerintah sebuah negara, namun tidak menutup kemungkinan aktor nonnegara seperti perusahaan multinasional dan organisasi internasional juga berperan. Tapi utamanya dalam sebuah rezim, pembuat keputusan adalah para birokrat atau orang-orang yang punya peranan dalam pemerintahan sekaligus sebagai pelaksananya. Sehingga merekalah yang menciptakan serta mempertahankan eksistensi sebuah rezim. Terakhir adalah rezim terdapat dalam hampir semua bidang yang ada kesamaan dalam perilaku aktornya dalam hubungan internasional. Dalam meskipun dari perilaku yang terbentuk tadi terdapat satu kekuasaan yang mendominasi, namun rezim menyamakan nilai, objektivitas, maupun prosedur pembuatan keputusan terhadap semua anggotanya. Ia tidak mengikuti satu per satu kepentingan para anggotanya karena kekuatan suatu rezim disangga oleh seluruh aktor didalamnya. Sehingga, ketika terdapat peselisihan antar aktor maka kekuatan sebuah rezim akan melemah.

Para penstudi rezim memperhatikan prinsip-prinsip dan norma-norma  yang akan membentuk perilaku yang baik maupun menyimpang beserta konsekueni yang akan diterima para aktor atas tindakannya. Ada pengkategorian terhadap aktor mana yang diuntungkan dengan adanya rezim tersebut dan mana yang tidak, sehingga dapat dijelaskan apakah mereka menyukai rezim tersebut atau tidak dalam sebuah teori yang objektif. Teori itu membedakan rezim-rezim dalam empat ciri, antara lain spesifik vs menyebar, formal vs inormal, evolusioner vs revolusioner, dan penyebaran yang tidak seimbang (Donald P. & Raymond H., ). Yang pertama adalah mengenai rezim yang spesifik atau menyebar. Rezim dapat dibedakan berdasarkan fungsi dalam serangkaian jarak dari yang spesifik atau isu tunggal, hingga menyebar atau multiisu. Bisa jadi dikategorikan berdasarkan jumlah pelaku yang mengikuti prinsip-prinsip atau norma-norma tersebut. Tidak ada rezim internasional yang menganut prinsip atau perintah yang sama secara universal. Banyak rezim spesifik yang cenderung menyebar dan rezim difusi justru cenderung pada satu isu. Yang kedua antara rezim yang formal dan informal. Beberapa rezim diatur oleh organisasi internasional, dipelihara oleh dewan-dewan, dan diawasi oleh para birokrat internasional. Yang demikian merupakan rezim yang formal. Sednagkan yang informal berfokus secara objektif pada para aktor, dilaksanakan berdasarkan kepentingan yang sama, dan iwasai secara bersama pula. Yang ketiga mengenai perubahan secara evolusioner atau revolusioner. Secara evolusi atau lambat, biasanya terjadi karean sudah terdapat perbedaan visi, misi, maupun tujuan diantara para aktornya. Disebut evolusioner karena tidak terjadi secara signifikan dan prosedural. Sedangkan perubahan revolusioner terjadi karena ada pihak-pihak yang tidak diuntungkan, dimana mereka bermaksud untuk mendominasi sehingga keberadaannya dalam sebuah rezim diperhitungkan dan memiliki kekuasaan lebih. Sehingga rezim tersebut akhirnya jatuh karena ada perubahan struktur kekuasaan didalamnya. Pihak yang telah menggulingakan tadi mentransformasi rezim tersebut dan mendominasinya berdasarkan kepentingan mereka. Terakhir yaitu yang keempat yakni distributive bias atau penyebaran yang tidak seimbang. Hirarki-hirarki nilai menitikberatkan pada yang kuat dan menguntungkan sehingga actor yang lemah didominasi, dan tidak memiliki legitimasi. Lebih jauh lagi, akan timbul perbedaan dalam norma sebuah rezim dengan adanya pergerakan tingkat keuntungan yang dihasilkan dengan  naiknya actor yang lemah menjadi lebih kuat dalam perekonomian internasional. Padahal rezim berdiri atas dasar persamaan yang mendorong timbulnya rasa solidaritas terhadap aktor yang lemah  dan mengurangi potensi akan revolusi.

Dapat dikatakan bahwa rezim telah ada masa kolonialisme. Dalam konteks hubungan internasional, kekaisaran atau kerajaan yang kuat menguasai dan membuat regulasi-regulasi terhadap wilayah koloninya, yang didominasi oleh negara-negara Eropa pada sekitar 1870an (Donald P. & Raymond H., 1983). Dimana mereka berlomba-lomba untuk mendapatkan pendirian, perlindungan, dan perluasan terhadap wilayah koloninya. Orang-orang yang dijajah dieksploitasi secara baik ekonomi maupun politik. Mereka mengunakan tipu muslihat seolah-olah legitimasi dan hukuman bagi mereka itu adil, dan pengabdian terhadap kekuatan imperial itu tepat dan bemar demi mempertahankan sistem yang ada. Norma yang berlaku saat itu yaitu ketidaksamaan secara sosial adalah prinsip dari organisasi internasional. Hal itu wajar dan akan berlaku bagi siapapun bergantung pada ketegori mana status sosialnya.

Akan tetapi kejayaan itu semakin lama menghilang karena adanya perang dunia demi mempertahankan kehebatan kerajaan mereka yang akhirnya justru runtuh. Dari situ, timbullah antiimperialisme atau dekolonisasi. Kemudain superpower diambil alih oleh AS setelah Uni Soviet mengalami keruntuhan dalam susunan internalnya dalam perang dingin. Sehingga rezim colonial hilang dan tergantikan.

Kemudian mengenai rezim makanan internasional. Rezim makanan internasional mengatur aktivitas internasional mengenai produksi, distribusi, dan konsumsi makanan yang efeknya mempengaruhi hamper semua negara di dunia (Donald P. & Raymond H., 1983). Rezim makanan itu formal karena jelas terdapat organisasi yang mengaturnya, yaitu FAO. Makanan (gandum) diekspor oleh negara-negara utara, Australia, dan Argentina lalu diimpor oleh sebagian besar negara di Asia dan bebarapa negara miskin di Afrika. Namun negara-negara industry seperti angota OPEC biasanya melakukan bargaining dengan negara eksportir. Terdapat 8 norma rezim makanan ini yaitu, (1) penghormatan terhadap pasar bebas internasional, (2) penyesuaian terhadap penyerapan nasional yang diharuskan oleh pasar internasional –untuk mencegah mahalnya harga, (3) penerimaan yang memenuhi syarat dari susunan pasar ekstra dari persebaran makanan, (4) menghindari kelaparan, (5) bebasnya informasi ilmiah dan tanaman –panen, (6) prioritas rendah bagi yang tidak ketergantungan, (7) berdaulat secara nasional dan tidak melegitimasi penetrasi dari luar, dan (8)  kurang memperhatikan tentang kelaparan yang kronis yang bukan dari anggotanya (Donald P. & Raymond H., 1983).

Referensi:

Puchala. Donald J. dan Hopkins, Raymond F. 1983. International Regimes: Lessons from Inductive Analysis dalam Stephen D. Krasner (ed) International  Regimes. Ithaca and London: Cornell University Press. Page 61-92

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :