INDIRA AGUSTIN


Berpacu menjadi yang terbaik

Dinamika Rezim : Bangun dan Jatuhnya Rezim-Rezim

Oleh: Indira Agustin/071012006

Rezim merupakan sebuah institusi sosial yang implisit dan mengatur perilaku setiap anggotanya. Rezim formal dimana para anggotanya merupakan Negara(nation-state) yang berdaulat, selalu berkembang dan berubah menyesuaikan dengan situasi dan kondisi yang ada. perubahan tersebut tentu saja merupakan dampak dari perilaku para anggotanya. sehingga dapat rterhadap sesama anggotanya, dapat berupa hal positif yaitu harapan yang sama, maupun sebaliknya. Rezim beroperasi secara mandiri berdasarkan konvensi sosial. Konvensi sosial bisa menghasilkan perilaku, dan perilaku yang terus-menerus bisa juga menghasilkan konvensi sosial (Oran R. Young, 1982). Dalam hal ini anggota rezim menyadari bahwa konvensi sosial dapat mengalami kemerosotan, maka rezim berusaha mengatur dirinya untuk mecapai hasil yang diinginkan demi kebetahanannya dalam sistem sosial. Bagaimanapun rezim merupakan institusi internasional, yang merupakan produk dari perilaku sejumlah besar manusia, baik individu maupun kelompok. Maka tidak ada dominasi terhadap satu sama lain untuk mengatur karakter rezim(Oran R. Young, 1982). Namun bukan berarti rezim tidak pernah mengalami perubahan. Akan tetapi jika diinginkan terjadinya perubahan dalam rezim, maka dibutuhkan sebuah ketidaksesuaian atau kerusakan yang mengganggu eksistensinya, dan koordinasi terhadap hal-hal yang dibutuhkan sebagai pengganti (Oran R. Young, 1982).

Dalam formasinya, tipe-tipe rezim dibedakan menjadi tiga, yakni rezim spontan, rezim negosiasi, dan rezim paksaan. Rezim spontan tidak memerlukan kesadaran untuk berkoordinasi antar pelakunya dalam melakukan aktivitasnya. Para pelaku dalam rezim tipe ini sulit untuk menciptakan bahasa yang efektif untuk digunakan antar sesamanya. mereka dengan mudah membiasakan diri (konvensi) untuk menyatukan bahasa yang kompleks dan menggunakannya dengan baik tanpa harus ada kesadaran. Intinya, bahasa yang digunakan spontan, tanpa ada kesepakatan sebelumnya. Berbeda dengan rezim spontan, rezim negosiasi memiliki kesadaran dan usaha untuk menyetujui tujuan bersama. rezim negosiasi ini masih dibedakan lagi menjadi dua, yaitu konstitusional dan legislasi tawar-menawar (Oran R. Young, 1982). Dalam konstitusional, anggota rezim sebagai subjek terlibat langsung dalam negosiasi untuk membuat keputusan.Dan legislasi tawar-menawar, anggota rezim sebagai subjek tidak terlibat secara langsung dalam pembuatan keputusan, hanya diwakilli oleh yang bersangkutan. Sedangkan rezim paksaan, ia ada karena adanya kekuasaan (power). Sehingga rezim tidak dapat berkembang dengan bebas karena dikendalikan oleh anggota yang powernya dominan. Hegemoni dapat terjadi ketika aktor yang dominan secara terang-terangan mendorong actor-aktor  lain yang berada di bawahnya untuk menurutinya. Aktor yang menghegemon tersebut bertanggung jawab atas hasil dari rezim paksaan, yang tak dapat dihindari oleh aktor yang lain.

Penekanan pada rezim negosiasi adalah perwujudan dari konsep rasionalitas yang akan mempengaruhi kebijakan publik nantinya. Ia diharapkan dapat menjadi perantara dalam masyarakat internasional tanpa ada paksaan secara fungsional, sehingga terdapat saling ketergantungan antar aktor. Sifat saling ketergantungan tadi tidak tedapat dalam rezim paksaan. Dalam rezim spontan tidak ada konvensi secara formal, sehingga susah menghasilkan sebuah keputusan yang sama. Tidak seperti rezim negosiasi yang cenderung menghasilkan keputusan yang sama, yang merupakan hasil dari negosiasi mereka. Kelemahan rezim yang spontan ialah ketika teradi revolusi atau perubahan secara cepat, maka ada kemungkinan akan terjadi hilangnay rezim tersebut jika tidak segera diciptakan keteraturan baru yang kondusif. sedangkan rezim negosiasi dan paksaan lebih siap terhadap hal iini.

Transformasi rezim dapat disebabkan oleh kegagalan rezim ataupun kontradiksi internal yang menuju pada perubahan secara mayoritas. Di samping itu, struktur kekuasaan internasional juga berpengaruh dalam sistem internaasional, dalam hal ini rezim, dimana rezim tidak pernah netral dalam menghadapi kepentingan aktor-aktornya. Proses transformasi ada dua, yaitu berdasarkan pengalaman dan konsep. Berdasarkan pengalaman yaitu  seberapa jauh kekuasaan itu mempengaruhi rezim. Sedangkan berdasarkan konsep yaitu bagimana kekuasaan itu diartikan dalam sebuah rezim. seiring berubahnya rezim, perilaku manusia yang ada di dalamnya juga ikut berubah. Transformasi rezim dalam tiga tipe rezim juga berbeda-beda. Transformasi pada rezim spontan disebabkan oleh kontradiksi internal, pada rezim negosiasi pelanggaran persetujuan yang ada secara sengaja, dan rezim paksaan bertransformai karena perubahan struktur kekuasaan dalam sistem internasional.

Jadi dapat disimpulkan bahwa rezim merupakan sebuah institusi sosial yang implisit dan buatan manusia. Mereka terus-menerus berubah seiring dengan tanggapan rezim itu sendiri terhadap dinamika politik, sosial, ekonomi, dan berbagai bidang lainnya yang ada di sekitar mereka. Tiga jenis rezim yang berkembang saat ini menjelaskan perbedaan-perbedaan keteraturan yang ada di dalam berbagai rezim yang berbeda.

Referensi:

Young, Oran R. 1982. Regime Dynamics: the Rise and Fall of International Regimes dalam dalam Stephen D. Krasner (ed) International  Regimes. Ithaca and London: Cornell University Press. Page 93-113

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :