INDIRA AGUSTIN


Berpacu menjadi yang terbaik

Teori-Teori dan Rezim-Rezim Internasional

Selasa, 12 April 2011

Oleh: Indira Agustin/071012006 

Adanya kerjasama pastilah dibutuhkan oleh semua aktor internasional manapun, karena pemenuhan kebutuhan dan pertolongan terhadap diri sendiri saja tidak cukup. Dan hal ini biasanya difasilitasi oleh sebuah rezim. Oleh karena itu rezim selalu mempunyai spesifik isu area, yang menghasilkan solusi-solusi bagi permasalahan-permasalahan bersama. Seperti yang telah dibahas sebelumnya bahwa permasalahan-permasalahan bersama dalam konteks internasional akan dapat dengan mudah diatasi melalui tawar-menawar antar aktor yang bersangkutan serta penyesuaian-penyesuaian terhadap beberapa hal, yang lazimnnya disebut kerjasama. Secara umum, adanya kerjasama internasional disebabkan oleh tidak adanya sebuah pemerintah dunia atau internasional, untuk membuat peraturan-peraturan internasional, yang mempunyai legitimasi untuk mengatur negara-negara maupun aktor-aktor non-negara yang lain secara keseluruhan dalam hal-hal tertentu. Sehingga akhirnya secara mendiri negara-negara --baik dengan sadar atau tidak, formal maupun informal- membentuk rezim untuk mengakomodasi kepentingan-kepentingan para aktor tersebut dan memudahkan kerjasama di antara mereka. Setelah bekerja sama dan membentuk sebuah rezim, untuk memenuhi kebutuhan mereka, tentu dibutuhkan pula adanya persetujuan-persetujuan yang dibuat melalui fungsi-fungsi rezim sebagai bentuk pertanggung jawaban resmi, penyediaan informasi yang sama (simetris), dan pengaturan harga atas hasil tawar-menawar yang sulit apabila diciptakan tanpa kerjasama. Persetujuan-persetujuan tersebut akan saling menguntungkan para aktor. Intinya, rezim memfasilitasi adanya kerjasama-kerjasama yang dibuat oleh para aktor (Robert O. Keohane, 2005).

Akan tetapi, ada sebuah kelemahan dalam hal ini. Yaitu apabila institusi (rezim) tersebut ada atau tercipta bukan karena kesadaran para aktor, maka masalah-masalah yang timbul akan menghalangi kerjasama-kerjasama para aktor, meskipun kepentingan-kepentingan mereka dapat saling melengkapi satu sama lain. Karena, seperti yang telah dibahas dalam tulisan sebelumnya bahwa rezim yang terbentuk secara spontan tidak memerlukan koordinasi oleh para aktornya, tidak ada konvensi secara  perubahan secara cepat, kemungkinan akan terjadi hilangnya rezim tersebut apabila tidak segera diciptakan keteraturan baru yang lebih kondusif.

Apa yang dilakukan oleh para aktor untuk membuat pengaturan-pengaturan, bukan untuk membentuk pihak pusat yang dapat memaksa atau mendominasi mereka, tetapi untuk membentuk kestabilan akan harapan-harapan yang sama terhadap perilaku para aktor serta mengembangkan hubungan antar aktor dalam menyesuaikan diri mereka terhadap situasi yang baru yaitu rezim. Akan tetapi rezim-rezim internasional ini seringkali berubah karena aturan-aturan  yang terdapat di dalamnya juga sering berubah. Jadi ketika aturan (rules) yang ada dalam sebuah rezim berubah maka rezim namun rezim itu berubah atau bertransformasi ketika prinsip-prinsip dan norma-normanya berubah, seolah-olah ia telah menjadi sebuah makhluk yang baru.

Dalam hal biaya transaksi, adanya rezim memudahkan transaksi, dengan  jumlah biaya yang relatif kecil dibandingkan apabila tidal ada sebuah rezim. Meskipun biaya tidak seefisien apabila ada sebuah organisasi internasional yang resmi yang menyediakan forum-forum pertemuan dan sekretariat yang memudahkan persetujuan terjadi. Di samping itu, rezim-rezim yang berbeda spesifik isu juga saling berhubungan , sehingga semakin memudahkan para aktornya untuk bekerja sama. Tanpa adanya rezim, kerjasama dan pengaturan-pengaturan internasional akan sulit terlaksana, karena seolah-olah ada penghalang antar aktor sehingga lebih sulit untuk mendapatkan keuntungan. Jadi rezim-rezim internasional yang saling berhubungan juga mempengaruhi biaya transaksi.

Sedangkan dalam hal informasi terbagi menjadi dua pihak, yakni pihak yang memiliki informasi lebih dan yang tidak mempunyai informasi. Jika ada pihak yang berbuat curang, akan menjadi sebuah masalah. Namun tidak bisa selesai dengan hanya dengan menjalin komunikasi antar aktor. Ketidakseimbangan dalam kepemilikan informasi ini bisa menghasilkan ketidak adilan pada saat tawar-menawar dan menghasilkan kecurangan. Informasi yang dimaksud di sini bukan sekedar mengenai keadaan sumber daya-sumber daya yang dimiliki oleh para aktor, tetapi juga potensi-potensinya ke depan. Dan fungsi rezim di sini adalah sebagai mediator bagi para aktor untuk saling berbagi informasi yang mereka punya. Sehingga mengurangi potensi kecurangan dan ketidakyakinan antar aktor, dan lebih berpotensi saling mendapatkan keuntungan bersama. Masalah ketidakyakinan itu muncul karena timbul potensi akan adanya aktor-aktor yang tidak bertanggung jawab karena superioritas nya dalam suatu hal, dalam hal ini informasi.

Rezim-rezim internasional dapat memfasilitasi kerjasama dengan mengurangi ketidakyakinan antar aktor. Ia memfasilitasi persetujuan-persetujuan di antara mereka. Ketika aktor-aktor tersebut mempunyai kepentingan-kepentingan yang berlawanan dan isu-isu yang saling tumpang tindih, tawar-menawar menjadi solusi yang ditawarkan oleh rezim. Sehingga ia berguna bagi negara atau pemerintah dalam sebuah negara (Robert O. Keohane, 2005). Kepentingan-kepentingan antar aktor yang dapat saling melengkapi itu penting namun bukan merupakan kondisi yang cukup. Untuk memenuhinya dibutuhkan adanya rezim yang terbentuk untuk mengakomodasinya. Ketika kepentingan-kepentingan itu berubah, rezim tidak hilang tapi hanya berubah. Karena lebih sulit untuk menciptakan sebuah rezim baru ketimbang mempertahankan posisi yang sudah ada sebelumnya. Karena elemen-elemen pembentuknya, yaitu aturan-aturan, norma-norma, prinsip-prinsip, dan prosedur-prosedur pembuatan keputusan, telah ada sebelumnya. Dan akan lebih sulit untuk mengkoordinasikan para aktor untuk membuat keempat hal baru tersebut menjadi satu bagian dalam sebuah rezim.

Para aktor akan meletakkan kepentingan mereka dalam posisi pertama dalam sebah pengaturan. Namun mereka akan tetap menuruti aturan-aturan yang ada rezim karena biaya transaksi yang dibutuhkan ketika ia bergabung dalam sebuah rezim akan lebih sedikit daripada jika ia meraihnya sendiri.

Referensi:

O. Keohane, Robert. 2005. After Hegemony - Cooperation and Discord in the World Political Economy. New Jersey

Young, Oran R. 1982. Regime Dynamics: the Rise and Fall of International Regimes dalam dalam Stephen D. Krasner (ed) International  Regimes. Ithaca and London: Cornell University Press. Page 93-113

 

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :