INDIRA AGUSTIN


Berpacu menjadi yang terbaik

Koordinasi dan Kolaborasi: Rezim dalam Dunia yang Anarki

Selasa, 05 April 2011

Oleh: Indira Agustin/071012006

Seperti yang telah dibahas sebelumnya bahwa ruang lingkup rezim adalah interaksi-interaksi para aktornya yang memiliki suatu spesifik isu tertentu. dalam pandangan realis bahwa negara yang berdaulat itu perhatiannya selalu tertuju pada pemeliharaan diri, dimana negara hanya dapat bergantung pada dirinya sendiri, dan jika perlu akan menggunakan kekerasan demi mencapainya. Dan oleh karena setiap negara memiliki kepentingan dan prioritas yang berbeda-beda, maka ketika kepentingan-kepentingan tadi berbenturan, maka akan timbul konflik. Dalam hal ini rezim muncul apabila para aktor mangambil keputusan secara terpaksa, bukan karena kehendaknya sendiri. Paksaan tadi bukannya tidak mereka lakukan secara sukarela, melainkan berdasarkan keputusan bersama.

Menurut Arthur A. Stein untuk mendapatkan hasil yang seimbang, ada 6 jenis situasi dalam berinteraksi antar para aktor. Yang pertama yaitu situasi tanpa konflik. Interaksi di dalamnya menghasilkan situasi yang memuaskan kedua belah pihak, karena keduanya sama-sama mendapatkan apa yang menjadi keinginan mereka, sehingga dalam hal ini tidak dibutuhkan adanya rezim. Yang kedua yaitu kepastian permainan. Yakni jaminan terhadap adanya keseimbangan (stabil). Oleh karenanya –keduanya puas-, keduanya meningkatkan perolehan yang sebelumnya minimal menjadi maksimal. Dalam hal ini juga belum dibutuhkan adanya rezim, karena kedua belah pihak mampu mendapatkan kepentingannya secara mandiri. Adapun yang ketiga yaitu situasi yang seimbang namun ada salah satu aktor yang dirugikan. Sehingga aktor yang satu mendapatkan hasil yang lebih istimewa dibanding yang lain. Akibatnya ada pengambilan keputusan secara sepihak oleh pihak yang lebih diuntungkan , dan yang dirugikan hanya dapat menerima. Namun adakalanya ketika pembuatan keputusan secara sepihak oleh pihak yang lebih diuntungkan tersebut kurang optimal, sehingga diperlukan rezim untuk mengoptimalkan keadaan. Yang keempat adalah dilema tawanan. Dalam hal ini kedua aktor dilema, karena prioritas utama mereka tidak dapat diperoleh hanya dengan usaha mereka sendiri karena situasi yang tidak stabil. Sehingga mereka harus mengesampingkan strategi mereka yang utama yang biasa mereka gunakan dan menahan diri agar tidak rakus dalam usahanya mencapai hasil yang utama karena tidak mungkin tercipta keseimbangan yang stabil. Dalam memilih keputusan, akan dipertimbangkan mana kepentingan yang akan dipilih yang akan menghasilkan hasil yang terbaik bagi semua pihak. Secara politik, individu-individu setuju untuk saling memaksa dan menjamin bahwa tidak ada orang yang mengambil keuntungan dari dari kerjasama orang lain dengan melanggar perjanjian dan menolak untuk bekerja sama dalam mencapai tujuan bersama (curang). Namun yang paling penting dari tugas negara disini adalah adalah menjamin keamanan negaranya dari adanya serangan dari luar. Maka dalam konteks internasional berarti yang paling penting adalah menjamin keamanan internasional. Dilema terhadap kesamaan kepentingan ialah para aktor sama-sama menginginkan adanya jaminan akan hasil yang memuaskan, sedangkan dilema terhadap aversi ialah para aktor sama-sama menghindari sebuah sebuah hasil yang tidak diinginkan. Yang kelima yaitu dilema terhadap  aversi yang sama dengan kepentingan yang bertemu pula. Masing-masing terdapat dua kemungkinan terhadap hasil yang diinginkan dan dihindari, dan apabila mereka bertindak secara mandiri secara serempak, mereka harus berkoordinasi untuk mendapatkan hasil yang mereka inginkan. Yang keenam adalah dilema terhadap aversi yang sama dan kepentingan yang berbeda-beda, sehingga para aktor harus memilih salah satu dari peluang yang memungkinkan hasil yang terbaik, meskipun itu bukan prioritas mereka. Dalam hal ini koordinasi mungkin dilakukan dalam dua cara: rezim berkoordinasi membuat aturan-aturan terhadap perilaku yang memungkinkan harapan-harapan para aktor bertemu kapanpun dilema muncul, dan menjamin koordinasi untuk menetapkan perilaku aktor sesuai karakteristiknya masing-masing (Arthur A. Stein, 1982).

Dilema terhadap kepentingan yang sama terjadi ketika hanya ada satu hasil yang seimbang yang kurang memuaskan bagi aktor yang terlibat. Maka mereka harus berkolaborasi dan menentukan pola perilaku yang pasti, serta memastikan tidak ada aktor yang curang. Rezim-rezim internasional biasanya memfasilitasi koordinasi dari dilema terhadap aversi para aktornya. Sehingga harapan-harapan aktor akan bertemu pada satu kemungkinan keseimbangan, yang konvensi dan bukan institusi (Arthur A. Stein, 1982). Misalnya dalam rezim penerbangan, dalam menghindari adanya kecelakaan penerbangan.

Adanya rezim yang disebabkan oleh adanya kepentingan-kepentingan para aktornya. Ada saat ketika kepentingan pribadi aktor dikesampingkan demi membuat keputusan bersama untuk mencapai hasil yang terbaik. Dan ketika para aktor membuat keputusan  yang tidak berpengaruh terhadap aktor lain, maka tidak ada dasar bagi berdirinya sebuah rezim. Namun pembuatan keputusan secara pribadi yang sama oleh beberapa aktor juga dapat terjadi dalam rezim. Adanya dilema terhadap aversi dan kepentingan-kepentingan ini sangat liberalis (Arthur A. Stein, 1982). Karena perhatiannya tertuju pada jawaban dan perbandingan hasil dengan tujuan memaksimalkan peroleham mereka. Adanya kepentingan menentukan rezim, status negara dalam dunia internasional berpengaruh pada kepentingan yang dipilih, penyebaran kekuasaan antar negara menetukan interaksi-interaksi yang kemudian mendorong kemajuan suatu rezim internasional. Kerjasama internasional  dipengaruhi adanya iptek yang apabila penyebaran kekuasaannya berubah, rezim juga akan berubah, asalkan secara menyeluruh (Arthur A. Stein, 1982).

 

Referensi:

Stein, Arthur A. 1982. Collaboration and Coordination: regimes in an anarchic world dalam Stephen D. Krasner (ed) International  Regimes. Ithaca and London: Cornell University Press. Page 93-113

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :