INDIRA AGUSTIN


Berpacu menjadi yang terbaik

Kerjasama Hegemonik pada Pasca Perang

Selasa,10 Mei 2011

Oleh: Indira Agustin/071012006

Perang Dunia banyak merugikan negara-negara pesertanya, sementara Amerika tidak begitu dirugikan karena  Amerika tidak menjadi lokasi dari peperangan tersebut, serta ia selalu menjadi pihak yang menang. Usai Perang Dunia kedua Amerika mendapat seteru dalam hal paham dasar yang dianutnya. Amerika yang liberal berperang dingin dengan Uni Soviet yang menganut paham komunisme. Dalam prosesnya Uni Soviet mengalami keruntuhan internal karena pada masa pemerintahan Gorbachev mulai banyak nilai-nilai liberalisme yang masuk ke Uni Soviet. Kemenangan Amerika di berbagai persaingan dalam konteks internasional ini membuatnya secara perlahan diakui sebagai negara super power yang menghegemon. Dalam pandangan realis yang menjadi unsur terpenting dalam sebah hegemoni adalah adanya kekuasaan yang umumnya berasal dari kekuatan ekonomi maupun militer negara hegemon. Negara hegemon sama seperti negara-negara yang lain yaitu mempunyai kepentingan yang ingin dicapai, kemudian, seperti apa yang dikatakan kaum realis yang menekankan bahwa kerjasama hegemonik pasca perang yang lebih berfokus pada dampak yang diakibatkan oleh hegemon itu sendiri, melakukan kerjasama-kerjasama dengan negara-negara lain dengan membentuk sebuah rezim untuk membantu tercapainya kepentingan-kepentingan yang sama atau common aversion. Menurut Keohane, 2005, sebuah rezim  yang memiliki aktor yang menghegemon didalamnya, maka yang akan didapatkan oleh anggotanya adalah jaminan-jaminan yang ditawarkan oleh sang hegemon, seperti stabilitas sistem moneter internasional, tersedianya pasar-pasar terbuka dan bebas, serta kemudahan akses terhadap minyak dengan harga yang stabil. Sehingga hegemoni kadangkala dibutuhkan untuk menjaga keberlanjutan serta adanya kedinamisan rezim tersebut (Keohane, 2005). Namun tidak berhenti disitu, bahwa negara hegemon harus dapat menjamin tercapainya kepentingan-kepentingan negara lain agar seluruh pihak dalam rezim terbut diuntungkan. Jadi negara hegemon adalah pengontrol operasional rezim tersebut.

Pasca Perang Dunia kedua, disaat mayoritas negara mengalami kerugian pasca perang, rezim yang banyak berkembang adalah rezim yang menggerakkan bidang-bidang yang dominan dan penting dalam dunia internasional sebagai usaha pemulihan seperti rezim minyak, keuangan seperti IBRD yang kemudian menjadi World Bank dan WTO, dan pada 1940an muncul Bretton Wood system yang mengawali adanya sistem moneter internasional. Kemudian akan banyak dibahas mengenai rezim minyak dan akibat adanya hegemon Amerika dalam hal tersebut.

Terdapat empat dampak yang menonjol disebabkan oleh hegemoni Amerika di dalamnya. Yang pertama yakni problem minyak Sterling-Dollar, dimana terjadi permasalahan antara Inggris dan Amerika. Inggris tidak melaksanakan kerjasama seperti pada kesepakatan awal, yaitu menolak untuk mentransfer pembayaran atas pasokan minyak Amerika menggunakan saldo sterling untuk negara diluar wilayah sterling. Menurut Keohane, kekuasaan yang dimiliki oleh seorang aktor membuat segalanya mungkin terjadi dalam tatanan internasional.

Yang kedua adalah masalah intervensi dan konsorsium yang terjadi d Iran pada 1951-1954. Pada saat itu Inggris mengimpor minyak mentah dari Iran kemudian mengolahnya sendiri. Namun Inggris mendapatkan keuntungan lebih besar dibanding Iran sebagai negara produsen, kemudian Amerika datang untuk meminta Inggris membagi keuntungan secara adil dengan Iran namun tak dihiraukan. Selang beberapa waktu terjadi revolusi Iran, dimana Amerika ikut campur tangan untuk menjatuhkan PM Mossadegh dan menggandeng Shah sbg penggantinya. Dengan demikian terjadi perubahan pembagian pendapatan, yakni perusahaan Amerika Serikat mendapat 40%, AIOC mendapat 40%, Shell menerima 14% dan CFP menerima 6%. Keuntungan yang cukup besar yang diperoleh Amerika disini cukup membuktikan bahwa hegemoninya dapat membawa keuntungan dalam dunia internasional (Keohane, 2005).

Kemudian yang ketiga adalah program penjualan minyak darurat pada 1956-1957, yaitu timbulnya masalah kerjasama jual beli minyak antara Amerika dan negara-negara Eropa. Amerika mengghentikan pasokan minyaknya ke negara-negara Eropa karena terusan Suez yang menjadi jalur penghubung diblokir oleh Mesir yang akan menasionalisasi terusan Suez tersebut  karena Amerika tidak lagi mau memberikan tawaran atas pembiayaan bendungan Aswan. Akhirnya negara-negara Eropa membentuk MEEC dan OEEC untuk mengatasi masalah pasokan minyak yang semakin menipis di Eropa. Lalu Inggris dan Prancis berusaha menginvasi Mesir supaya ia tidak jaid menasionalisasi terusan Suez, akan tetapi dihentikan oleh Amerika, sehingga dapat dikatakan bahwa hegemoni Amerika disini sangat berpengaruh terhadap negara-negara lain.

Dan yang keempat adalah mandatory kuota impor minyak pada 1953-1973. Dalam kasus ini, Amerika yang sudah sejak 1948 melakukan impor minyak untuk pemenuhan minyak dalam negeri, semakin lama jumlah minyak yang diimpor semakin meningkat, sehingga mengancam keberlangsungan produsen minyak dalam negeri. Kemudian dikeluarkanlah sebuah Undang-Undang pada 1954 yaitu Trade Agreement Extension Act yang menyatakan bahwa impor minyak mentah asing harus dibatasi supaya tidak membahayakan produsen minyak dalam negeri. Dan tak lama berselang barang-barang impor yang masuk dikenai bea masuk sebagai salah satu strategi untuk membatasi derasnya barang-barang impor yang masuk.

Sehingga dari uraian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa hegemoni sebuah negara terhadap negara-negara lain dalam sebuah rezim dapat mempengaruhi keputusan yang akan diambil oleh negara-negara tersebut. Bahkan dengan pengaruh yang dimilikinya ia dapat ikut mengatur regulasi yang akan dibuat oleh negara-negara tersebut. Namun, sekuat dan seberpengaruh apapun sebuah negara hegemon, ia tetap dapat runtuh dan kemudian digantikan oleh keberadaan rezim.

 

References:

O. Keohane, Robert. 2005. Hegemonic Cooperation in the Postwar Era dalam O. Keohane, Robert, After Hegemony Cooperation and Discord in the world Political Economy. New Jersey, pp. 135-181.

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :