INDIRA AGUSTIN


Berpacu menjadi yang terbaik

Rezim Moneter

Oleh: Indira Agustin/071012006

Pada awal kemunculan standar moneter dunia, bermula dari Inggris yang membuat sistem dengan menggunakan standar emas pada tahun 1819 (Bordo, 2008). Sistem ini mulanya tidak begitu populer. Baru sejak akhir abad ke-19 negara-negara Eropa seperti Jerman, Swiss, dan Austria mulai menggunakannya. Begitu pula dengan Amerika Serikat di awal abad ke-20. Sejak itu sistem moneter dengan standar emas ini banyak digunakan di seluruh dunia. Dengan adanya hal ini maka adanya legalisasi atas moneter internasional pun dimulai. Menurut Beth A. Simmons (2000), legalisasi atas urusan moneter internasional akan membantu pemerintah dalam membuat kebijakan yang dapat dipercaya oleh pelaku pasar. Namun dengan bergulirnya Perang Dunia I yang juga melibatkan Inggris, sistem standar emas ini lambat laun mulai jatuh dengan tingginya inflasi yang terjadi di mayoritas negara Eropa peserta perang utamanya Inggris pada 1931 (Bordo, 2008). Kejadian ini dipengaruhi oleh adanya Great Depression pada masa interwar period atau masa di antara kedua perang dunia, yang dialami oleh negara-negara peserta Perang Dunia I yang mengalami selain kerugian financial, juga kerugian atas rusaknya infrastruktur yang ada pada negara mereka. Kemudian pada 1944 di New Hampshire dibentuklah sistem keuangan Bretton Woods, dimana ia juga menghasilkan tiga lembaga besar dunia dalam hal keuangan, yaitu IMF (Dana Moneter Internasional), IBRD (Bank Dunia), dan GATT (Perjanjian mengenai tariff dan perdagangan internasional). Sistem ini digunakan dengan cara mengkonversikan dolar AS ke mata uang cadangan dengan kurs tetap sebesar US $ 35 untuk satu ons emas. Mata uang dari negara-negara peserta terikat dengan dolar AS. Sistem ini berlaku hingga 1976, sampai ia akhirnya runtuh setelah negara-negara Eropa mengalami kerugian besar pasca Perang Dunia II  dan tidak dapat mengikuti arus perdagangan Amerika Serikat (Winarno, 2009). Dengan gagalnya sistem Bretton Woods ini maka usaha untuk memformalisasi hubungan moneter internasional pun mulai terbentuk sebagai kebutuhan untuk batas kredibel atas penyesuaian eksternal.

Pasca kegagalan sistem Bretton Woods, mayoritas negara utamanya di Eropa menggunakan sistem interdependensi untuk menggantikannya. Dimana uang mengalir ke seluruh dunia sehingga negara-negara di dunia dapat mengembangkan pasarnya secara global. Sistem yang digunakan adalah sistem keuangan mengambang atau floating exchange rate. Namun ada sebagian negara yang masih mengikuti sistem yang dicanangkan oleh IMF saat itu, yaitu  fixed exchange rate (Jeffrey, 2010). Sistem ini memicu munculnya globalisasi pasar. Dimana perdagangan bebas menjadi populer dan banyak negara yang tidak ingin kalah bersaing satu sama lain. Secara local, pasar-pasar local di banyak negara melakukan liberalisasi pasar, yaitu membuka pasar mereka kepada pasar yang lebih global. Dalam sistem mengambang ini, nilai tukar mata uang ditemtukan oleh pasar valuta asing atas permintaan dan penawaran terhadap mata uang tersebut relative terhadap mata uang lainnya. Bank sentral hanya turun tangan ketika dibutuhkan untuk memastikan stabilitas dan menghindari inflasi, yang amat jarang terjadi pada sistem mengambang.

Dalam pandangan saya, rezim moneter ini diperlukan untuk mengatur masalah moneter dimana perlu perkoordinasian serta pengolaborasian antar negara demi kelancaran dalam bertransaksi baik dalam perdagangan maupun hal lain. Mengingat kestabilan keuangan dunia berubah setiap saat.

 

Referensi:

Bordo, Michael D. 2008. Gold Standard dalam The Concise Encyclopedia of Economics. Tersedia dalam http://www.econlib.org/library/Enc/GoldStandard.html diakses pada 21 Juni 2011.

Winarno, Budi. 2009. Pertarungan Negara vs Pasar. Yogyakarta: Media Pressindo. hal 96

Jeffrey. 2010. “ Governing the International Monetary System “, dalam The Politics of International Economic Relations. Boston: Wadworth, pp: 12-63.

Simons, A. Beth. 2000. “ The Legalization of International Monetary Affairs “ dalam International Organisation. London: MIT Press.

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :