INDIRA AGUSTIN


Berpacu menjadi yang terbaik

Rezim Perdagangan: GATT hingga WTO

Oleh: Indira Agustin/071012006

Bersamaan dengan lahirnya sistem keuangan dunia Bretton Woods, lahirlah IMF (International Monetary Fund)dan GATT (General Agreement for Tariff and Trade). IMF adalah organisasi yang mengatur moneter internasional. Sementara GATT adalah sebuah rezim perdagangan internasional yang mengatur mengenai tarif dan perdagangan internasional. Pada awal kemunculannya GATT hanya didukung oleh negara-negara maju, yang cenderung pro terhadap kapitalisme perdagangan bebas. Sementara mayoritas negara berkembang beroposisi terhadapnya. GATT diresmikan pada tahun 1947 dan memuat beberapa prinsip-prinsip liberalisme seperti mendukung liberalisasi perdagangan. GATT melangsungkan proses berkelanjutan dari negosiasi multilateral diantaranegara-negara dengan kepentingan yang sama dimana persetujuan telah diraih dan negosiasi pun meluas pada seluruh partisipan GATT (Mingst, 1999:262). Tujuan dari dibentuknya GATT ini adalah untuk mengatur dan mengurangi tarif pada barang-barang impor dengan proses yang sama pada setiap anggotanya. Dalam konteks organisasi, GATT lebih cenderung seperti sebuah perjanjian yang mengikat dan mengatur perdagangan-perdagangan internasional yang dilakukan oleh negara (Abbott, 2007). Forum-forum GATT sering kali dilaksanakan untuk membahas permasalahan perdagangan yang mungkin muncul dan biasa disebut negotiating rounds. Misalnya yang telah dilakukan di Annecy, Torquay and Geneva yang berlangsung pada 1949 sampai 1956 kemudian 1960 dan 1970 di Dillon, Kennedy dan Tokyo dan yang terakhir adalah Uruguay. Negotiating rounds inilah yang lama-kelamaan memicu lahirnya WTO (World Trade Organization), sebuah reformasi dari GATT.

WTO lahir pada 1995 membawa dua prinsip utama. Prinsip yang pertama adalah most favoured nation treatment, yang berarti bahwa WTO akan memberikan perlakuan yang sama pada setiap anggotanya tanpa ada diskriminasi. Sementara prinsip yang kedua adalah national treatment, yakni melarang adanya diskriminasi pajak dalam negeri atas baik produk domestik maupun impor, sehingga tidak perlu adanya penurunan tarif pajak. Disamping kedua prinsip diatas, ada sebuah konsensus yang selalu digunakan sebagai dasar pembuatan keputusan yaitu single undertaking, yang berarti bahwa ada sebuah aturan yang mengikat semua anggota WTO dalam menyelesaikan masalah serta menerima timbal balik yang tidak seimbang dalam negosiasi dengan negara berkembang (Abbott, 2007: 317-18). Konsesus digunakan dalam pembuatan keputusan dalam WTO karena dianggap relevan. Selain konsensus terdapat cara pengambilan keputusan dengan cara voting. Namun voting hanya diambil apabila consensus yang telah dilakukan belum disepakati oleh para anggota atau sedang berada pada posisi tertentu, seperti perjanjian multilateral yang tidak dapat dijalankan sebelum konsensus dibuat.

Dalam bentuk barunya, rezim perdagangan internasional yang berlandaskan nilai-nilai liberal ini lebih disukai oleh negara-negara berkembang daripada dalam bentuk lamanya. Hal ini disebabkan meluasnya ruang lingkup kekuasaan dalam rezim tersebut. WTO lebih menjanjikan perdagangan dunia dalam tingkat yang lebih tinggi lagi. Sebenarnya hal ini sama sekali tidak memaksa negara-negara berkembang untuk bergabung. Namun akses yang dijanjikan oleh WTO seolah menjadi iming-iming bagi negara berkembang untuk ikut. Jika tidak bergabung maka mereka akan menemui kesulitan dalam melakukan perdagangan internasional, sementara pasar-pasar yang menjanjikan ada dala keanggotaan WTO.

Dalam pandangan saya adanya rezim perdagangan internasional ini memang perlu. Mengingat kompleksnya permasalahan yang akan dihadapi apabila tidak ada sesuatu yang dapat memfasilitasi perdagangan lintas negara. Akan tetapi nilai-nilai dasar yang digunakan membuat persaingan sehat yang terjadi justru mempersulit mereka yang sejak awal tidak mempunyai cukup modal untuk bersaing. Sehingga mereka hanya menjadi pendukung tanpa menjadi aktor yang perannya signifikan seperti negara-negara lain yang perdagangan internasionalnya memang sudah berkembang sejak awal.

 

 

 

Referensi:

World Trade Organization, 2011. WTO organization chart [Online]

Tersedia di http://www.wto.org/english/thewto_e/secre_e/current_chairs_e.htm

[Diakses pada 21 Juni 2011]

Abbott, Roderick. 2007. “ The World Trade Organization”. Burlington: Ashgate Publishing Company, pp: 315-330.

Mingst, Karen A. 1999. Essentials of International Relations. New York & London:W. W. Norton & Company, Inc.Setiawati, Harum dan G

Stein, A.A. 1982. Coordination and Collaboration: Regimes in An Anarchic World. Massachusetts : Massachusetts Institute of Technology.

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :