INDIRA AGUSTIN


Berpacu menjadi yang terbaik

American Political Heritage: Colonial Political System

Oleh Kelompok 1 A:

1.      Yudo Satryo P
2.      Indira Agustin                 071012006
3.      Ergy Ghulam H.              071012023
4.      Radita Febriyanti           
5.      Robitul Haq                     071012049

 

Christopher Columbus sampai ke Amerika dari Spanyol dengan berlayar pada tahun 1492, sesampainya ia dan awak kapalnya disana sudah terdapat bangsa asli Amerika yang berasal dari daratan Asia yang bermigrasi. Setelah Christopher Columbus datang, orang-orang Spanyol berdatangan ke tanah baru tersebut untuk ditaklukkan. Para pemburu harta karun datang mencari  emas, para pendeta datang untuk dapat menjadikan penduduk asli Amerika menjadi umat kristiani, para pelayan datang mengikuti majikannya, dan para pedagang datang untuk melakukan jual beli barang dagangan (Ver Steeg, 1982). Dari situlah bangsa Spanyol menemukan kehidupan yang baru di Amerika. Pada tahun 1541 bangsa Spanyol yang sudah berada di Amerika mengklaim sebagian besar wilayah Amerika dan membentuk koloni-koloni, kecuali Brazil di Amerika bagian selatan yang sudah terlebih dahulu dikuasai oleh Portugal. Bangsa Spanyol merasa memiliki kekuasaan terhadap penduduk asli Amerika sehingga mereka berbuat sewenang-wenang. Tidak sampai satu abad kemudian penduduk asli Amerika yang sebelumnya berjumlah sekitar 25juta hanya tersisa sekitar 1juta orang. Mereka meninggal karena dipekerjakan dalam waktu yang sangat lama dan disiksa, tetapi lebih banyak mereka meninggal karena terjangkit penyakit yang dibawa oleh bangsa Spanyol ke Amerika. Kemudian karena bangsa Spanyol membutuhkan tenaga kerja, akhirnya mereka mengimpor orang-orang Afrika untuk dijadikan budak (Ver Steeg, 1982).

Pertengahan abad ke 16 bangsa Prancis datang dan menguasai wilayah Amerika Utara. Namun hal itu tidak bertahan lama karena tidak lama kemudian bangsa Inggris datang dan mengambil alih wilayah jajahan Prancis. Di awal abad ke 17 Spanyol berhasil dikalahkan oleh Inggris sehingga Inggris mengambil alih wilayah Amerika yang menjadi jajahan Spanyol. Antara tahun 1607-1733, Inggris membuat 13 koloni di Amerika utara, yaitu: Virginia (1607), New Hampshire (1623), Massachussets Bay(1629), Maryland (1634), Rhode Island (1636), Connecticut (1636), North Carolina (1653), New York (1664), New Jersey (1664), Delaware (1664), South Carolina (1670), Pennsylvania (1682), Georgia (1733). Jamestown di Virginia yang ditemukan pada tahun 1607, merupakan kota pertama yang diperintah oleh dewan kolonial Inggris. Hal ini menandai dimulainya self-government di daerah kolonial Inggris.

Bangsa Inggris tidak melihat berbagai daerah koloni tersebut sebagai satu bangsa yang besar yaitu Amerika, namun sebagai bangsa yang berbeda dan terpisah-pisah berdasarkan daerah koloninya. Setiap daerah koloni memiliki perbedaan yang ditentukan oleh sumber daya alam,  geografi yang dimiliki. Hal ini  berpengaruh terhadap sistem kolonial yang berlaku di masing-masing daerah koloni. Misalnya daerah New England atau Amerika utara yang terdiri dari New Hampshire, Massachusets Bay, Connecticut, dan Rhode Island lebih condong ke pemerintahan gereja. Pemimpin gereja menentukan kehidupan kota dalam beberapa hal. Seperti, siapa yang boleh menjadi anggota gereja. Menjadi anggota gereja memiliki sebuah keistimewaan, karena hanya anggota gereja yang mempunyai hak pilih dalam pemerintahan. Namun, beberapa tahun kemudian, hamper semua penduduk New England tidak mau bergabung dengan gereja resmi atau pusat. Sebagian dari mereka ada yang bergabung dengan gereja yang tidak resmi dan sebagian lagi memilih untuk tidak bergabung dengan gereja sama sekali.Melemahnya otoritas yang dimiliki gereja ini, menyebabkan terjadinya perubahan dalam permerintahan dan politik. Salah satunya, hak pilih jatuh kepada pemilik properti daripada anggota gereja.

Berbeda dengan New England yang penduduknya banyak berasal dari Inggris dan, di daerah Kolonial Tengah penduduknya berasal dari berbagai macam ras. Daerah Kolonial Tengah terdiri dari New York, New Jersey, Delaware, dan Pennsylvania. Karena terdiri dari berbagai macam ras, di daerah Kolonial Tengah juga terdapat berbagai macam kepercayaan dan kelompok keagamaan. Jadi, gereja bukan satu-satunya penentu kebijakan di Kolonial Tengah.

Sedangkan di Kolonial Selatan yang terdiri dari Virginia, Maryland, North Carolina, South Carolina, Georgia juga terdapat gereja Inggris yang menjadi gereja resmidi daerah kolonial tersebut. Dan gereja resmi memperbolehkan pengikut gereja lain untuk dapat beribadah di gereja resmi Inggris selama mereka membayar pajak ibadah.

Meskipun latar belakang dan budaya membedakan setiap daerah koloni, namun semua daerah koloni menerapkan self-government atau otonomi daerah. Sekitar pertengahan abad ke-18, setiap daerah koloni memiliki tiga level pemerintahan, yaitu pemerintahan kota atau daerah, pemerintahan kolonial, dan pemerintahan kerajaan Inggris. Untuk pemerintahan kota, menangani peraturan yang membahas tentang batas-batas wilayah antar pemilik tanah atau lahan. Sedangkan pemerintahan kolonial terdapat tiga bagian utama, yaitu governor atau gubernur, dewan kolonial, majelis pembuat Undang-Undang. Gubernur ditunjuk oleh kerajaan Inggris untuk memberlakukaun hukum kolonial. Sedangkan dewan kolonial berfungsi sebagai penasehat gubernur. Lalu anggota majelis pembuat UU bertugas membuat UU, menentukan pajak, serta memutuskan siapa yang berhak untuk mendapatkan hak pilih Dan pemerintahan kerajaan Inggris seringkali memprotes ketidaksepakatan gubernur dan majelis yang disebabkan majelis memiliki kewenangan lebih sehingga membuat kekuatan gubernur menjadi lemah. Perselisihan tersebut semakin lama menjadi semakin serius, disebabkan kedua pihak tidak mau mengalah. Hal ini membuat rakyat Amerika menjadi gerah dan tidak tahan, dan memicu terjadinya Revolusi Amerika.

Sumber Pustaka:

Ver Steeg, Clarence L. Dr. 1982. American Spirit: a History of the American People. New Jersey: Prentice Hall

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :