INDIRA AGUSTIN


Berpacu menjadi yang terbaik

Presidential Election: Candidate Campaign

Oleh Kelompok 1A:

Yudo Satryo P         070710177
Indira Agustin          071012006
Ergy Ghulam H.       071012023
Radita Febriyanti      071012030
Robitul Haq 071012049

Sebagai negara demokrasi, Amerika Serikat menerapkan pemilihan umum secara langsung oleh masyarakat untuk memilih presiden dan wakil presidennya. Dalam pemilu ini ada beberapa tahapan yang harus dilalui oleh kandidat calon presiden. Sebelum maju menjadi calon presiden dari partai, baik Republik maupun Demokrat, di dalam internal partai sendiri sebelumnya telah diadakan pemilihan untuk menentukan calon mana yang sesuai untuk mewakili partai tersebut dalam pemilu. Setelah terpilih sebagai calon presiden mewakili partai, selanjutnya calon presiden akan melakukan manuver-manuver politik dan persuasinya dalam sebuah kampanye. Di Amerika Serikat sendiri kampanye presiden dilakukan setelah hari libur Labor Day, atau sekitar minggu pertama bulan September. Namun, ada juga beberapa kandidat yang bahkan telah melakukan kampanye sebelum konvensi untuk menentukan calon selesai. Calon presiden kemudian berkeliling ke 50 negara bagian untuk dapat merebut simpati rakyat Amerika. Setiap dari kandidat akan berusaha untuk memenangkan mayoritas suara di suatu negara bagian, karena secara otomatis suara seluruh negara bagian tersebut menjadi miliknya. Oleh karena itu, calon presiden harus menerapkan sebuah strategi khusus dalam berkampanye di sebuah negara bagian. Terutama jika negara bagian tersebut memiliki electoral vote yang cukup tinggi, seperti New York, Texas, dan California. Selain negara bagian yang memiliki electoral vote yang tinggi, fokus lain dari calon presiden adalah negara-negara bagian “swing state”, di mana negara-negara ini merupakan negara yang tidak dapat diprediksi akan arah dukungannya. Sehingga kedua kandidat presiden harus memaksimalkan usahanya untuk dapat meyakinkan negara-negara ini untuk memilihnya.

Dalam periode lanjut dari pemilihan umum di Amerika Serikat, para kandidat tidak hanya  berkampanye secara langsung di hadapan rakyat Amerika, karena seiring dengan berkembangnya teknologi dan kemunculan media massa, dalam menjaring dukungan, calon presiden AS pun mulai memanfaatkan teknologi dan media massa ini. Sifat media massa AS yang begitu terbuka juga mendorong calon presiden AS untuk berkampanye melalui media ini. Mereka biasa menggunakan media cetak maupun elektronik. Media-media tersebut membantu dengan cara menyediakan kolom-kolom khusus bagi kandidat presiden.

Ciri khas dari sebuah kampanye presiden di Amerika adalah adanya slogan-slogan yang digunakan oleh para kandidat untuk menarik perhatian rakyat. Masing-masing calon presiden memiliki slogan yang berbeda-beda. Seperti yang terlihat dari slogan Barrack Obama pada pemilu 2008 lalu yang berbunyi “Change we can believe in” dan slogan Bill Clinton yang berbunyi “On the road...to change America”. Dibuatnya slogan ini juga berfungsi untuk dapat lebih meyakinkan rakyat untuk memilih calon presiden tertentu. Seperti yang terlihat dari slogan lain Obama yang terkenal, “Yes, we can” atau slogan yang digunakan George W. Bush ketika melawan John Kerry, “Yes, America can”. Slogan ini berfungsi untuk meyakinkan rakyat dan sebagai pandangan terhadap rakyat kemana arah dan tujuan Amerika ketika dipimpin oleh sang kandidat.

Disamping itu, usaha pemopuleran diri ini membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Dalam berkampanye kandidat harus membayar staf pendukung, biaya periklanan, perjalanan, dan lain sebagainya. Pembiayaan atas kampanye ini berasal dari dua sumber, yaitu dana pribadi dan dana publik. Dana pribadi adalah dana yang memang sudah ia miliki dari hasil bisnis ataupun usaha lainnya. Seorang kandidat boleh mengkontribusikan sejumlah uang yang dimilikinya yang sudah diatur dalam Undang-Undang, untuk dana kampanyenya. Namun jika dana pribadinya tersebut diperuntukkan bagi negara dan komite nasional partainya, maka jumlahnya tidak dibatasi. Sedangkan dana publik adalah dana yang diterima oleh kandidat yang berasal dari pajak federal. Pajak ini diberikan dalam tiga bentuk: dana pemilihan umum yang diberikan pada masing-masing kandidat yang baru diterima oleh para kandidat setelah pemilihan selesai, dana khusus yang diberikan pada nominasi kandidat untuk kampanye utama, dan dana yang disediakan bagi partai-partai untuk melakukan konvensi nominasi. Dana yang diterima oleh partai-partai mayoritas selalu lebih besar, dan selalu ada persyaratan khusus bagi partai minoritas, sehingga umumnya partai mayoritas seringkali lebih sukses dan partai minoritas cenderung gagal karena partai mayoritas mampu membayar lebih banyak staf, iklan, perjalanan, dan lain sebagainya.

Secara umum kampanye calon presiden Amerika Serikat dapat dikatakan sebagai kampanye yang sangat demokratis. Di mana kedua calon presiden menggunakan cara-cara yang efektif tanpa harus saling menjatuhkan lawan. Pihak yang kalah pun kemudian dapat mengakui kekalahannya dengan lapang dada. Hal ini menjadi sebuah pembelajaran yang bagus untuk dapat diterapkan di Indonesia.

 

Referensi:

Riyanto, Theophilus J. 2005. Kekuatan Media Massa dalam Kampanye Kepresidenan di Amerika Serikat dalam Jurnal Studi Amerika 10 (1), hlm. 64 - 74

 

Hall, Shane. How Do the American Presidential Elections Work? dalam http://www.ehow.com/how-does_4924807_american-presidential-elections-work.html [diakses 11 Mei 2011]

Campaign dalam http://www.historycentral.com/elections/campaigns.html [diakses 11 Mei 2011]

Recycled campaign slogans: A visual history (updated 15 April 2011) dalam http://theweek.com/article/slide/214255/recycled-campaign-slogans-a-visual-history# [diakses 11 Mei 2011]

http://www.propublica.org/article/what-are-the-rules-on-presidential-campaign-financing-anyway-917

by Sharona Coutts

ProPublica, Sep. 17, 2008, 3:27 p.m.

Accesed May 11th 2011. What Are the Rules on Presidential Campaign Financing, Anyway?

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :