INDIRA AGUSTIN


Berpacu menjadi yang terbaik

The Term of Indonesia: Its Origin And Usage

Oleh: Indira Agustin/071012006

Indonesia di pertengahan abad ke-20 dianggap sebagai sebuah nationstate baru di kawasan Asia Tenggara. Pada saat itu Indonesia sedang berada dibawah kekuasaan antara Belanda dan Jepang, dan segera memproklamirkan kemerdekaannya sesaat setelah Jepang menyerah pada sekutu sehingga terjadi kekosongan kekuasaan. Dapat dikatakan Indonesia merdeka pada Agustus 1945, namun rupanya hanya beberapa negara tetangga saja yang mengakui kemerdekaannya, dan baru diakui oleh dunia pada Desember 1948 setelah diadakannya Konferensi Meja Bundar di Den Haag, Belanda. Kata “Indonesia” pertama kali muncul sekitar pertengahan abad ke-19 oleh etnolog Inggris G.W. Earl yang menyebut penghuni Indian atau Malaya menjadi “Indunesians” atau “Malayunesians” (Kroef, 1951). Di masa itu, penemuan wilayah baru seringkali ditambahi dengan akhiran –nesia, seperti Polynesia dan Melanesia.

Sekitar 30tahun setelah Earl, muncul Adolf Bastian yang menggunakan istilah Indonesia pada sebuah judul bukunya, namun tidak tercantum sama sekali pada isinya. Akan tetapi isi bukunya tesebut menarik perhatian banyak pihak sehingga istilah Indonesia makin banyak diketahui. Earl dan Bastian merupakan sebagian kecil dari ilmuwan yang menggunakan kata Indonesia dalam karya keilmuannya, yang kemudian banyak dibaca sehingga kata itu meluas.

Pada awal kemunculannya, kata Indonesia hanya terinterpretasi sebagai sebuah nama dari suatu wilayah geografis di Hindia timur. Namun seiring dengan banyaknya ilmuwan menjadikannya sebagai objek ilmu dan mengamati lebih lanjut, rupanya Indonesia tidak hanya sekedar sebuah wilayah, akan tetapi juga sebuah ras yang dekat dengan garis Kaukasian. Dan tidak berhenti disitu, sisi sosial budaya yang ada di Indonesia saat itu juga ternyata menarik perhatian para ilmuwan utamanya dari Eropa untuk meneliti. Seorang novelis Belanda yaitu Edward Douwes Dekker membuat sebuah otobiografi yang benar-benar menggambarkan kondisi alam, sosial, dan budaya di Indonesia pada masanya tentang Max Havelaar, yamg menurutnya ada sesuatu yang menyebabkan timbulnya rasa saling benci pada masyarakat lokal. Otobiografi tersebut juga akhirnya meningkatkan ketertarikan terhadap Indonesia tidak hanya dalam hal geografinya, namun juga sosial budaya.

Selepas tahun 1900, popularitas Indonesia makin meluas. Tidak hanya keluar, namun juga ke dalam oleh masyarakat yang tinggal di Indonesia itu sendiri. Mereka merasa antusias dengan istilah tersebut, sehingga menimbulkan rasa nasionalis dalam diri mereka (Kroef, 1951). Dari rasa nasionalis itulah kemudian timbul rasa persatuan nasional, kerukunan, toleransi perbedaan budaya, dan keinginan untuk dapat bebas berpolitik dan lepas dari aturan-aturan kolonial. Pada saat itu juga lalu bermunculan nasionalis-nasionalis yang kemudian menjadi bapak negara, karena dianggap menjadi pendiri negara.

Namun di sisi lain, masyarakat lokal atau pribumi tidak menyadari bahwa istilah native yang digunakan oleh orang Belanda secara implisit merupakan sebuah penghinaan. Dalam New English Dictionary, native berartiseseorang yang bukan merupakan orang Eropa yang budaya atau peradabannya tidak sempurna atau merupakan ras yang biadab. Padahal kata native tersebut malah digunakan pleh masyarakat Indonesia untuk menciptakan sebuah masyarakat yang kesadaran nasionalnya tumbuh dan berkembang. Disamping tiu, penggunaan kata Indonesia oleh masyarakat lokal orang Belanda pun berbeda. Masyarakat di Indonesia memandang kata Indonesia sebagai sebuah bangsa, sedangkan orang Belanda memandangnya tanpa ada sedikit pun makna nasionalis di dalamnya, hingga akhir dari Perang Dunia kedua.

Dengan semakin dikenalnya Indonesia sebagai sebuah bangsa, tentulah ada sebuah kebutuhan akan identitas bangsa yang sama atau universal yang berupa budaya atau adat dan kebiasaan, yang tidak ada karena bangsa ini begitu heterogen. Namun ada hal lain yang juga menyatukan bangsa Indonesia, yaitu Bahasa Indonesia yang merupakan bahasa nasional dan resmi untuk digunakan di seluruh nusantara. Dan hal itu belum juga dapat membuat orang-orang Belanda mau mengakui bahwa Indonesia adalah sebuah bangsa.

Bertolak dari semua hal di atas, meskipun banyaknya perbedaan yang ada sama sekali tidak mengurangi keunikannya. Rasa kesatuan dan persatuan yang dilandasi oleh nasionalisme, dan usaha-usaha yang dilakukan untuk mendapatkan kebebasan berpolitik beserta kemerdekaan, telah membuat masyarakat Indonesia mengalami perjalanan sejarah yang sama yang membuat rasa kesatuan dan persatuan yang semakin erat.

Referensi:

Van der Kroef, Justus. 1951. The Term Indonesia: Its Origin and Usage, Journal of The American Society. Vol.71, no.3. Jul-Sep.pp.166-171

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :