INDIRA AGUSTIN


Berpacu menjadi yang terbaik

Gelombang Terakhir

Oleh: Indira Agustin/071012006

            Negara-negara yang berdiri saat ini hampir sebagian besar  sama dengan bentuk wilayah atau teritori dan unit administrasinya. Sejak abad ke-18 para keturunan kulit putih menggunakan fungsi administrasi di negara-negara koloninya (imperialisme). Lalu secara samar dan bertahap di pertengahan abad ke-20 negara-negara koloni memproklamasikan dirinya menjadi negara merdeka. Saat itu, orang-orang dari negara terjajah banyak yang melakukan perjalanan ke tempat negara penjajah. Terdapat tiga faktor yang menyebabkan besarnya pekerjaan untuk didapat. Yang pertama yaitu besarnya pertumbuhan mobilitas fisik membuat kemungkinan pencapaian kapitalisme industri –disebabkan banyaknya yang pindah ke negeri-negeri di utara, utamanya Amerika. Yang kedua, berkurangnya kekuasaan kekaisaran global, besarnya populasi, keinginan untuk pergi ke kota besar, dan birokrasi yang tidak bisa berkutik. Kemudian dibutuhkan sebuah mediator bagi negara koloni dan pengkoloni. Dan yang ketiga yaitu menyebarnya gaya baru akan pendidikan, yang berfungsi untuk menyiapkan orang-orang yang berkompeten di pemerintahan dan perusahaan serta demi kepentingan moral. Intinya intelegensi itu menjadi penting untuk tumbuhnya kesadaran moral, yang datang dari kemampuan dua bahasa.

            Hasil karya Suwardi Surjaningrat (Ki Hajar Dewantoro) menjadi sangat fenomenal pada abad ke-20 (Benedict Anderson, 1991). Karyanya itu menyadarkan orang Indonesia bahwa merak sedang dijajah. Para intelejen muda di negara-negara biasanya membuat kongres sebagai aplikasi dari kesadaran nasionalnya seperti Kesatuan Malayan Muda pada 1938 dan Sumpah Pemuda pada 1928. Kongres-kongres tersebut tidak membeda-bedakan pemuda dari berbagai latar belakang bahasa daerah, usia, agama, dan status sosial. Hal ini berbeda dengan kondisi yang ada di tempat negara penjajah, pemudanya jarang yang memiliki kesadaran semacam itu –pada saat itu.

Bersatunya Indonesia merupakan proses yang sangat panjang dan rumit. Disebabkan oleh besarnya populasi saat itu, wilayah geografi yang terpisah-pisah oleh laut, perbedaan agama, dan keberagaman suku dan bahasa daerah. Meski pada akhirnya orang-orang Indonesia mulai menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional atau bahasa ibu. Akan tetapi, bagi Belanda, apapun bahasa ibu yang mereka gunakan, mereka tetap saja inlander (pribumi). Di Indocina, meski sudah banyak dinasti yang memerintah Hanoi dan Hue seama berabad-abad, mereka tetap memperuangkan kemerdekaannnya dan secara sadar menggunakan bahasa Mandarin sebagai bagian dari Cina. Disamping itu, intelejensia terbukti sangat berpengaruh terhadap pencapaian kemerdekaan. Sebagai contoh Khmer, tokoh nasionalis di Vietnam sebelumnya mengenyam pendidikan di Saigon; Pangeran Sisowath Youtevong juga pernah bersekolah di Saigon sebelum pulang ke Phnom Penh.

Pada 1920an, munculnya bahasa Indonesia membuat orang-orang Indonesia sadar akan eksistensinya. Yang  jauh lebih penting mengenai bahasa ialah kapasitas penciptaan gambaran komunitas, serta membangun efek solidaritas akan sesamanya. Sebelum merdeka, jarang ada orang Indonesia yang berbicara bahasa Indonesia sebagai bahasa ibu. Sebagian besar dari mereka menggunakan bahasa etnik. Namun sekarang hampir semua menggunakan bahasa Indonesia meski masing-masing dari mereka menggunakan bahasa etnik.

Pemimpin-pemimpin nasional adalah mereak yang secara sadar memposisikan diri untuk menyebarluaskan peradaban dan sistem pendidikan militer nasional yang resmi. Adanya musuh dari luar membuat persatuan bagi orang-orang di dalamnya. Akan tetapi ketika ada pemberontakan-pemberontakan di dalam, maka akan timbul oligarki.

 

Referensi:

Anderson, Benedict. 1991. “the Last Wave”, dalam  Imagined Community: Reflection of Origin and Speed of Nationalism. London:Verso, pp113-140

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :