INDIRA AGUSTIN


Berpacu menjadi yang terbaik

Kapitalisme di Indonesia

Rabu, 20 April 2011

Oleh: Indira Agustin/071012006

            Kapitalisme di Indonesia pada awal perkembangannya hanya terpusat di Pulau Jawa dan di beberapa wilayah di Sumatera. Kapitalisme di sini disebabkan adanya mulai majunya teknik industri dalam pemenuhan kebutuhan pasar. Menurut artikel, potensi yang sebenarnya akan bibit-bibit industrialisasi di Indonesia adalah di Sumatera. Karena sumber dayanya akan hasil tambang seperti emas dan timah sangat banyak disana. Sedangkan di pulau Jawa sebagian besar adalah hasil tanam yakni pertanian dan perkebunan. Ketidakmerataan kapitalisme pada saat itu juga disebabkan tidak meratanya persebaran hasil produksi dari kota ke desa maupun hasil produksi dari desa ke kota. Sehingga antara kota dan desa menjadi seolah-olah terpisah. Kota menghasilkan hasil industri sedangkan desa memproduksi hasil pertanian. Hasil produksi kota hanya dinimati leh orang kota sendiri, begitu pula sebaliknya. Kapitalisme saat itu hanya sebagai alat oleh asing –sebuah perpanjangan tangan. Yang memanfaatkan kekayaan sumber daya yang dimiliki oleh Indonesia. Sifat menyerupai benalu yang demikian itu lalu ditularkan pada rakyat Indonesia. Sifat dasar orang Indonesia yang legawa dan lapang dada dicerabut dan kemudian digantikan dengan sifat yang serakah dan tidak mudah puas. Sifat tidak mudah puas ini sangat potensial untuk menghasilkan perpecahan di antara orang-orang Indonesia sendiri. Disebabkan oleh ketidakseimbangan yang selalu dihasilkan oleh kapitalisme, yaitu adanya kelas-kelas yang sangat ingin dihilangkan oleh kaum marxis.

            Kapitalisme yang dikenalkan Belanda melalui sistem produksi dan dicirikan dengan mulai berkembangnya industrialisasi. Teknik-teknik industrialisasi ini berkembang sebagai adopsi dari sistem yang diterapkan oleh Belanda pada masa penjajahan. Kota-kota besar yang umumnya menjadi pusat industri pada masa itu mengalirkan uang secara terus-menerus yang menguntungkan ekonomi luar negeri sebagai investor. Sumber daya yang luar biasa banyak itu dikeruk demi keuntungan mereka. Dengan rakyat pribumi sebagai pekerja yang setelah mendapat upah dikenai pajak yang tinggi. Sehingga penderitaan yang mereka alami tidak henti-hentinya terjadi. Belanda sendiri saat itu pun berlomba-lomba dengan Inggris untuk menguasai perindustrian di Indonesia dengan cara menggandeng Amerika. Akan tetapi karena hanya demi pemenuhan nafsu para kapital, sistem yang dijalankan menjadi tidak karuan dan berakibat buruk bagi kaum pribumi. Daerah pedesaan yang seharusnya ditanami dengan tanaman pertanian untuk memenuhi kebutuhan pangan di desa-desa dan kota-kota besar menjadi tidak terpenuhi karena pedesaan ditanami dengan tanaman perkebunan. Akibatnya rakyat Indonesia baik yang di desa maupun di kota menjadi kekurangan pangan dan akhirnya mengimpor bahan-bahan pangan tersebut pada negara-negara tetangga yang produksinya surplus. Inilah yang oleh Tan Malaka disebut dengan politik perampok asing. Yaitu dimana orang asing yang menduduki wilayah pribumi mengeksploitasi sumber daya mereka dan masih menagih pajak ataupun tagihan lainnya, yang membuat pribumi makin menderita.

Kemudian setelah Indonesia merdeka bentuk kapitalisme oleh Belanda ini berangsur-angsur bergeser menjadi bentuk imperialisme yang baru. Mulai banyak modal-modal asing yang masuk melalui opribumi-pribumi yang mempunyai kedudukan atau pangkat yang serakah dan ingin memperkaya diri tanpa memikirkan nasib pribumi yang dieksploitasi. Bentuk imperialisme terlihat amat jelas pada saat era Soeharto sebagai presiden, dimana ia membuka selebar-lebarnya bagi modal asing untuk masuk ke Indonesia. Alhasil rakyat pribumi yang tidak berdaya karena tidak memiliki modal seolah-olah menjadi kaum proletariat kontemporer jika dianalogikan dalam teori marxis. Di era kontemporer makin terlihat jelas jurang pemisah antara para pemlik modal dan yang tidak memiliki modal, utamanya di kota besar. Menurut pandangan kapitalisme dan liberalisme hal ini merupakan perwujudan dari keadilan perolehan atas apa yang telah dilakukan dan dikorbankan oleh individu-individu tertentu tanpa memedulikan nasib individu yang lain.

Kesimpulannya adalah sejak awal kapitalisme di Indonesia masuk sesuai dengan arti harfiahnya yang berarti modal. Yakni kapitalisme ini hanya berpihak pada mereka yang memiliki modal, mulai dari sistem produksi dan industri, kolonialisme, hingga imperialisme. Kecenderungan terhadap modal ini tidak hanya berada pada dimensi ekonomi saja, tapi juga pada lingkup intelektual, sosial budaya, hingga politik.

 

Referensi:

Malaka, Tan. 1926. Kapitalisme Indonesia. Dalam 2000. aksi massa [Pdf]. Jakarta: Teplak Press. Terdapat dalam: http://manshurzikri.files.wordpress.com/2010/12/aksi-massa.pdf

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :