INDIRA AGUSTIN


Berpacu menjadi yang terbaik

Realisme dan Neorealisme

Oleh: Indira Agustin/071012006

Perspektif realisme pada dasarnya merupakan rasa pesimis terhadap sifat dasar manusia. Bahwa sifat alami seorang manusia adalah anarki, sehingga timbul keyakinan bahwa hubungan internasional itu konfliktual dan hanya dapat diselesaikan dengan perang. Dan nilai-nilai universalnya yang dijunjung adalah mengenai masalah keamanan nasional dan survivalitas sebuah negara. Morgenthau mengatakan bahwa politik adalah mengenai bagaimana memperoleh kekuasaan atas manusia. Dengan tujuan akhirnya adalah kekuasaan, maka hal itu ikut menetukan tindakan politik yang akan diambil. Karena bagi kaum realis sifat dasar manusia adalah anarki, maka konsep politik yang berkembang di dalamnya tentu bersifat anarkis pula. Yakni tidak ada pusat dan dominasi kekuasaan dalam pemerintahan dunia. Dan akhirnya perilaku manusia mengarah pada kompetisi dan perang demi mencapai kepentingannya sendiri.

Sedangkan neorealisme  yang diawali oleh Kenneth Waltz tidak lagi berfokus pada aktor-aktor hubungan internasional, namun pada sistem dimana para aktor itu bekerja. Pandangan neorealis ini lebih ilmiah daripada realis, ketika manusia sudah tidak lagi dipandang anarki namun bagaimana manusia berinteraksi dalam suatu sistem dapat mengambil tindakan yang berdasar. Asumsi-asumi dasarnya antara lain struktur suatu sistem itu berpengaruh terhadap tingkah laku aktor,self interest (realis) memaksa negara untukhidup dan anarki dan akhirnya lebih memilih untuk selfhelp daripada bersikap kooperatif.

Sistem internasional yang berkembang dalam pandangan kaum realis adalah anarki karena tidak adanya pemerintahan tunggal maupun aturan-aturan secara global. Sehingga supaya tercipta balance of power, elemen-elemen –dalam hal ini adalah negara- yang ada di dalam sistem tersebut harus mengupayakannya sendiri dengan membangun kekuatan. Dan tidak ada negara yang bisa menggantungkan nasibnya pada negara lain kecuali dengan mengandalkan dirinya sendiri. Sedangkan neorealis lebih berfokus pada struktur sistem dan distribusi kekuasaan. Waltz meyakini bahwa sistem bipolar akan lebih aman dan stabil daripada multipolar, karena akan kecil kemungkinan terjadinya perang antara negara-negara besar  dan adanya kesalahan perhitungan dan tindakan.

Yang menjadi fokus oleh kaum realis adalah keamanan nasional. Karena sesuai dengan konsep utamanya yang anarki dan mementingkan kekuasaan. Sehingga isu-isu strategis seperti keamanan menjadi politik tingkat tinggi, sedangkan isu-isu sosial seperti ekonomi menjadi politik tingkat rendah. Di samping itu, sebab yang menjadi fokus utama ialah keamanan dan kekuasaan, terkadang kaum realis mengesampingkan nlai-nilai moral karena terkalahkan oleh pentingnya survivalitas dan kepentingan nasional mereka. Dan neorealisme berfokus pada struktur pada suatu sistem akan menentukan kebijakan yang dikeluarkan oleh negara.

Bagi kaum realis, yang menjadi aktor dalah hubungan internasional tentulah negara, karena tidak ada otoritas lain yang lebih tiggi dibanding negara. Sedangkan bagi kaum neorealis tentu bukan hanya negara yang berperan dalam hubungan internasional. Aktor non negara seperti individu, organisasi non pemerintah, organisasi internasional, perusahaan multi nasional, dan lain sebagainya juga turut berperan dalam pentas sistem internasional. Bagi mereka, bukan hanya negara yang mempunyai otoritas dalam sistem maupun hubungan internasional.

Dalam menjaga stabilitas internasional, kaum realis memperhatikan letak potensi konflik yang ada pada aktor, sehingga berusaha mencegah potensi-potensi konflik tersebut bertemu dan pemberian sanksi terhadap pelanggar dan penyebab ketidakstabilan. Maka dari itu, kekuasaan amat dibutuhkan oleh negara bagi kaum realis.berbeda dengan kaum realis, kaum neorealis mengandalkan apa yang disebut bipolar dalam sistem internasional karena dianggap seakan-akan tersedia pengendali cadangan yang dapat mengambil alih keadaan ketika salah satunya sedang kolaps atau mengalami kemunduran.

 

Referensi:

Jackson, Robert dan Sorensen, George.1999. Introduction to International Relations. Denmark, Oxford University Press

Waltz, Kenneth N. 2001. “Structural Realism after the Cold WarInternational Security. 25(1): pp 5-41

Carr, E. H. 2001. The Twenty Years Crisis,1919-1939. Palgrave Macmillan


1. ILsXIUnIMBwyJZDdVII

pada : 28 August 2012

"It's good to get a fresh way of lokonig at it."


Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :