INDIRA AGUSTIN


Berpacu menjadi yang terbaik

Marxisme

Oleh: Indira Agustin/071012006

            Asumsi dasar dari munculnya marxisme berawal dari pemikiran Karl Marx yang mengkritisi adanya teori liberal dan realis. Marxisme dan teori kritis menjelaskan proses produksi sosial yang mungkin diperlukan (Mark Rupert, 2007). Asumsi dasar manusia dalam pandangan marxisme ialah manusia pada dasarnya baik dan tidak egois, kebaikan itu disalurkan pada orang lain dalam kehidupan sehari-hari.  Ada tiga jenis hubungan dalam kehidupan manusia, yaitu hubungan manusia dengan alam, hubungan dengan sesama manusia dan institusi sosial, dan hubungan manusia dengan dirinya sendiri. Menurut Marx, manusia adalah makhluk produk dari proses sejarah sekaligus menghasilkan sejarah itu sendiri. Sehingga terus-menerus memperbarui dan memperbaiki struktur kehidupan mereka, dan hasilnya adalah sejarah tidak pernah ada habisnya.

            Dalam sistem internasional ada tiga kelas yang membagi-bagi negara-negara di dunia, yakni negara inti, negara semi periferi, dan negara  periferi. Negara inti adalah negara-negara maju dan secara umum terletak di Eropa dan Amerika Utara. Mereka disebut negara inti mempunyai power yang cukup  besar dan berpengaruh dalam hubungannya dengan negara lain. Negara-negara inti ini umumnya adalah negara yang menang pada saat Perang Dunia ke-2, dan diuntungkan karenanya. Sedangkan negara-negara semi periferi adalah negara yang tidak begitu maju, tapi masih mempunyai cukup pengaruh dan legitimasi dalam lingkup internasional. Umumnya yang merupakan negara semi periferi adalah negara yang kelah dalam Perang Dunia ke-2 namun masih diuntungkan, karena ia jadi mengenal teknologi dan pengetahuan yang lebih ketimbang mereka yang tidak ikut berperang. Misalnya Jepang. Dan negara-negara periferi adalah negara berkembang yang miskin dan terbelakang, karena dalam sejarahnya mereka terlalu lama dijajah oleh negara-negara inti yang hanya mengambil keuntungan saja, dan sebagian besar dari mereka tidak memberikan timbal balik yang positif untuk negara periferi tersebut. Negara-negara periferi ini adalah negara yang umumnya berada di Asia, Afrika, dan sebagian dari Amerika Selatan. Negara-negara ini tidak ikut serta dalam Perang Dunia ke-2, sehingga tidak mendapatkan keuntungan apapun darinya. Pada masanya, sistem produksi dibawahi oleh kaum borjuis, yaitu pemilik modal, kaum swasta, yang mengontrol kelas pekerja atau proletar. Padahal kelas pekerja nantinya akan membeli barang-barang hasil produksinya dengan gaji mereka demi bertahan hidup, untuk menguntungkan kaum borjuis pula (Mark Rupert, 2007). Sistem kapitalis ini dipandang belum jelas dalam menetukan nasib sendiri. Karena kehidupan social hanya dipandang sebagai sebuah faktor dari luar dan kurang begitu penting, bukan bagian dari kehidupan itu sendiri.

            Tujuan dari teori marxis ini adalah mengkritisi sistem kapitalis yang ada. Pada masanya, politik menjadi terbatas ketika hanya dikuasai oleh kaum elite atau borjuis saja. Maka bagi kaum marxis diperlukan dilakukannya suatu hal yang membuat politik menjadi tidak hanya terbatas untuk kalangan atas saja. Terdapat tiga kritik yang dilontarkan Marx. Yang pertama adalah kapitalisme membuat kekuatan manusia yang jika disatukan, hasilnya akan lebih potensial, hanya menjadi sistem sosial self-production. Hubungan sosial antarmanusia yang seharusnya dipahami sebagai sesuatu yang alamiah, dibutuhkan, dan universal, dijauhkan dari mereka. Sehingga manusia tidak dapat mencari kemungkinan transformasi dan membayangkan produksi sosial secrara bersama-sama sebagai kemungkinan alternative (Mark Rupert, 2007). Yang kedua yaitu kapitalisme sifatnya eksploitatif. Oleh karena alat-alat produksi hanya dimiliki secara pribadi, maka pemilik tersebut mengontrol proses produksi serta mengambil alih atas hasil yang merupakan hasil kerja keras kelas pekerja. Yang ketiga adalah penguasaan atas bidang ekonomi dan politik hanya terbatas pada kaum borjuis saja. Ini mungkin berhubungan dengan sejarah, dimana dalam sistem feodal, kaum bangsawan mengambil alih secara paksa (koersi) dan mendominasi perekonomian dan perpolitikan. Namun dalam hal ini konteks ekonomi seolah-olah tidak berpengaruh dan berhubungan dengan politik. Hingga akhirnya, karena tergantung pada investasi swasta, pemerintah terlihat seperti membela kepentinga kelas atas atau pemilik modal (Mark Rupert, 2007). Sehingga jelaslah bahwa konsep kapitalisme ini tidak demokratis. Solusi yang ditawarkan oleh Marx ialah revolusi kaum proletar dimana semua orang menjadi sama sehingga mereka tidak lagi menjadi kaum yang tertindas.

            Disamping itu, Marx juga beranggapan bahwa aktifitas internasional pada industri yang kapital sangat berpotensi untuk bertransformasi menjadi organisasi produksi sosial pada skala dunia, menyebar dan memperkuat kapitalisme produksi (Mark Rupert, 2007). Dan menurut Lenin, kapitalisme jika dibiarkan akan menjurus ke arah ekspansi kolonialisme. Privatisasi dan depolitisasi ekonomi lama-kelamaan akan melewati batas-batas domestic dalam jumlah yang tidak sedikit. Karena kapitalisme adalah sistem yang tanpa batas, dan selalu didorong oleh kompetisi pasar.

 

Referensi:

Rupert, Mark. 2007. Marxism and Critical Theory inInternational Relations Theories: Discipline and Diversity. Oxford: Oxford University Press. Pp 148-165

Burchill, Scott & Linklater, Andrew. 1996. Theories of International Relations. New York: St. Martin’s Press

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :