INDIRA AGUSTIN


Berpacu menjadi yang terbaik

Regionalisme

Wednesday, April 20th 2011

Oleh: Indira Agustin/071012006

Regionalisme selalu menjadi bagian dari hubungan internasional dimana ada pembagian-pembagian terhadap aktor-aktornya berdasarkan region. Region yang dikatakan disini tidak selalu berupa geografi. Nantinya akan dibahas mengenai tujuan regionalisme itu sendiri. Ada beberapa tujuan ketika sebuah regionalisme terbentuk. Dapat dikatakan regionalisme adalah sebuah proses menuju keteraturan global, sehingga membentuk sebuah bentuk dunia yang baru atau reformasi terhadap posisi aktor-aktor yang  terdapat di dalamnya. Hal ini terus berlangsung dan berlanjut sehingga menjadi ciri khas dalam dunia internasional, utamanya setelah berakhirnya Perang Dunia kedua dalam hal keamanan internasional dan perekonomian (Acharya dan Johnston, 2007). Ditambah lagi ketika semakin banyak aktor yang semakin mengarahkan kepentingannya terhadap perekonomian dan perdagangan bebas, yang menyebabkan mereka membentuk blok-blok perdagangan untuk menjamin keberlangsungan transaksi-transaksi mereka. Tujuan awal dibentuknya regionalisasi adalah untuk memudahkan terjalinnya kerjasama oleh aktor-aktor yang menjadi anggotanya. Kerjasama yang dimaksud disini dapat berupa kerjasama ekonomi, politik, militer dan pertahanan, dan bidang-bidang lainnya. Sehingga antar aktor yang ada saling terikat oleh kesepakatan-kesepakatan yang mereka buat. Dengan adanya kesepakatan tersebut akan memudahkan mereka dalam pemenuhan kebutuhan akan kepentingan-kepentingan mereka yang sama. Disamping itu ia juga berfungsi sebagai pengatur dan pengatasan atas konflik-konflik regional yang ada.

Seiring dengan berjalanya waktu, motif-motif dibalik terbentuknya sebuah regionalisme mulai bergeser menjadi timbulnya adanya motif ekonomi yang berpotensi memunculkan sebuah kekuatan tunggal dalam regional tersebut. Bisa jadi terciptanya regional itu dipicu oleh salah satu aktor yang menghegemon, bisa juga tidak (Fawn, 2009). Memang secara geografi region adalah sebuah entitas subnegara yang memiliki batas-batas yang membedakannya dari region-region yang lain (Fawn, 2009). Yang kemudian ditandai dengan adanya kerjasama-kerjasama yang menghasilkan banyak kesepakatan antar region tersebut. Menurut Fawn, Uni Eropa merupakan contoh ideal untuk berbagai jenis regionalisme. Dimana mereka pada awalnya berencana untuk membuat Eropa menjadi borderless untuk memudahkan kerjasama dalam segala bidang antar mereka. Namun kemudian terdapat sebuah kontradiksi di dalamnya. Negara-negara Eropa justru takut akan terganggunya eksistensi mereka dengan diterapkannya sistem borderless di Uni Eropa.

Akan tetapi tidak dapat dipugkiri bahwa sebuah negara sebagai aktor internasional menjadi maju dan dipandang oleh negara-negara tetangga dan dunia internasional apabila bidang ekonominya maju dan berkembang pula, utamanya dalam hal perdagangan internasional. Namun ketika regionalisme dikatakan berada dalam konteks ekonomi, maka mayoritas aktor yang kita dapati adalah aktor-aktor non negara seperti TNC, MNC, dan lain sebagainya.

Proses regionalisasi menjadi tidak dapat dicegah dengan semakin agresifnya aktor-aktor internasional dalam mencapai kepentingan-kepentingan mereka dengan cara mengkoordinasikannya dengan aktor lain. Namun proses regionalisasi tersebut tidak serta merta menghasilkan region-region baru. Menurut Fawn, region baru tercipta ketika aktor, mencakup pemerintah berada dalam identitas yang spesifik.

Salah satu dampak adanya regionalisasi yaitu individu-individu yang ada di dalamnya menjadi semakin bebas melintas batas negara mereka. Utamanya dalam perdagangan bebas. Dalam hal ini regionalisme dikatakan sebagai batu pijakan bagi terciptanya globalisasi karena ia memudahkan aktor hubungan internasional untuk saling bekerja sama dan berintreaksi, seperti dalam kasus Uni Eropa tadi. Namun adakalanya ketika regionalisme menjadi batu penghalang bagi terciptanya globalisasi, yaitu ketika ia mengkotak-kotakkan satu region dengan region yang lain sehingga sulit bagi mereka untuk menjadi sesuatu yang mengglobal karena terpisah-pisah. Misalnya terciptanya NAFTA dan AFTA berada dalam sebuah regional yang berbeda sehingga sulit bagi negara-negara anggota yang berbeda untuk melakukan kerjasama yang sama.

Kemudian regionalisasi dikatakan berada dalam konteks ekonomi juga ketika aktor yang berperan di dalamnya adalah private actor atau aktor non negara (Hurrell, 1995). Seperti dalam sebuah organisasi internasional yang mempunyai spesifikasi terhadap isu-isu tertentu, sehingga ia memiliki sebuah identitas sendiri. Dan dapat disimpulkan bahwa regionalisme tersebut telah terinstitusikan.

Menurut Fawn, contoh regionalisme yang bagus adalah di Asia, karena beragamnya bentuk negara yang berbeda-beda mencegah timbulnya kekuatan tunggal. Namun ketika regionalisme itu dibentuk untuk menyatukan, maka jelas region itu membutuhkan sebuah kepemimpinan di dalamnya. Mempelajari regionalisme bahkan lebih rumit daripada mempelajari detail kecilnya, yaitu negara. Karena sistemnya yang selalu berubah-ubah.

 

Referensi:

Acharya, Amitav. Johnston, Alastair Iain. 2007. ‘Comparing Regional Institutions: An Introduction’, in Crafting Cooperation: Regional International Institutions in Comparative Perspective. Cambridge: Cambridge University Press.

Andrew Hurrell, ‘Explaining the Resurgence of Regionalism in World Politics’ Review of International Studies, 21 (1995), pp. 331–58.

Fawn, Rick. 2009. ‘Regions’ and their study: wherefrom, what for and whereto?. Review of International Studies (2009), 35, 5–34. British International Studies Association.

Hettne, ‘Beyond the ‘‘new’’ regionalism’.

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :