INDIRA AGUSTIN


Berpacu menjadi yang terbaik

English School

Rabu, 11 Mei 2011

Oleh: Indira Agustin/071012006

 

English school adalah salah satu pendekatan dalam hubungan internasional yang muncul pertama kali pada 1950an namun tidak begitu populer. Kemunculan English School pasca Perang Dunia kedua, saat itu dipandang perlu untuk menjembatani realisme dan liberalism. Sehingga dapat dikatakan bahwa English School merupakan sebuah via media dari kedua   perspektif tersebut (Tim Dunne, 2007). Kemudian di akhir 1990an mulai banyak scholar yang memandangnya sebagai sebuah perspektif yang berbeda dalam hubungan internasional. Akan tetapi mereka memandang bahwa perspektif English School mirip dengan perspektif konstruktivisme. Baik English School maupun konstruktivisme membahas mengenai norma dan nilai, yang membedakan adalah kaum konstruktivis percaya bahwa aktor utama atau agen dalam hubungan internasional adalah negara, dan ia harus bertahan dalam sebuah dunia yang anarki. Sedangkan menurut kaum English School aktor utama dalam hubungan internasional adalah agen yang berada di garis terdepan atau mewakili negara seperti diplomat dan presiden.

Menurut English School, hubungan internasional itu tidak hanya terbatas pada hubungan antar negara, tetapi juga sistem politik secara global dan menyeluruh, yang aktor utamanya bukan hanya negara. MenurutBull, hubungan internasional juga harus dipandang dari sisi sejarah, karena ia sangat menentukan dan mempengaruhi apa yang terjadi saat ini. Kemudian hubungan internasional juga tidak lepas dari nilai-nilai yang berlaku tidak hanya secara individual namun juga dalam sistem internasional. Apa-apa yang dilakukan oleh sebuah negara berdasarkan kekuatan yang dimilikinya dapat mempengaruhi institusi-institusi serta aturan-aturan yang akan diciptakan oleh masyarakat internasional. Seperti apa yang dikatakan Hedley Bull mengenai masyarakat internasional:           ‘a group of states, conscious of certain common interests and common values, form a society in the sense that they conceive themselves to be bound by a common set of rules in their relations with one another, and share in the working of common institutions’ (Bull, 1977: 13). Masyarakat internasional dapat tercipta berangkat dari adanya pluralisme(minimal) yang kemudian berkembang menjadi solidarisme(maksimal).

Ada tiga elemen penting: masyarakat internasional, sistem internasional, dan masyarakat dunia. Hubungannya masyarakat internasional membentuk sebuah kedaulatan yang kemudian membentuk sebuah hubungan antar satu negara dengan negara lain dalam hubungan internasional. Masyarakat internasional dibutuhkan karena norma dan nilai saja tidak cukup untuk membentuk sebuah tatanan. Berbeda ketika pemerintah yang membentuk sebuah tatanan dan masyarakat hanya tinggal mematuhinya. English School klasik menurut Bull mengatakan bahwa sistem internasional itu dihasilkan oleh perang, sehingga anarkisme sebuah negara itu ada. Kaum realis struktural mengatakan bahwa English School dapat dipelajari melalui polaritas dan penyebaran kekuatan besar dunia. Sedangkan kaum globalis mengatakan English School berarti kapasitas teknologi dan institusional, yaitu English School mendukung dan didukung oleh adanya kedua hal tersebut. Masyarakat dunia berarti masyarakat yang berbagi kepentingan dan nilai-nilai kemanusiaan, bahwa aktor internasional bukan hanya ngara yang memiliki otoritas.

Jadi kesimpulannya adalah English School baru benar-benar dipandang dalam hubungan internasional pasca 9/11, dimana ia dianggap sebagai via media dari perspektif realism dan liberalisme, serta komponennya yang mirip namun tak sama dengan konstruktivisme.

 

Referensi:

Bull, Hedley. 1977.  The Anarchical Society: A Study of Order in World Politics. London: Macmillan

Dunne, Tim. 2007. International Relation Theories: Discipline and Diversity. Oxford : Oxford University Press.

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :