INDIRA AGUSTIN


Berpacu menjadi yang terbaik

Frankfurt School and Critical Theory

 

Wednesday, April 20th 2011

Oleh: Indira Agustin/071012006

 

Critical theory adalah sebuah pemikiran yang sejalan dengan strukturalisme yang sama-sama berakar dari pemikiran Marxisme, sehingga dapat disebut sebagai teori neo-Marxisme. Keduanya memandang pentingnya untuk menghilangkan adanya inequality dalam masyarakat. Yang membedakan adalah dalam pandangan strukturalisme adanya inequality kelas sosial disebabkan adanya sistem kapitalis yang dihasilkan oleh liberalisme, sedangkan bagi critical theorists, kapitalisme telah mengubah dunia mengembangkan inequality berdasarkan kelas, ras, dan gender. Fokusnya pada pembedaan sosial dan material dalam dunia kontemporer telah meluas dalam skala global. Menurut Jill dan Lloyd, critical theory itu menyangkut  kemungkinan adanya emansipasi bagi manusia berdasarkan timbulnya penindasan akibat merajalelanya liberalisme. Sehingga masyarakat bersama dengan negara mempunyai sebuah otonomi dalam entitas yang berproses dalam sebuah susunan yang kompleks. Karena agenda utama dari critical theory adalah emansipassi manusia, maka mereka mengakui kesempatan bagi manusia untuk ikut campur dalam pencapaian perubahan melalui tindakan-tindakan politik sebagai bagian dari ‘menghasilkan’ sejarah (Jill & Lloyd, 2005). Dalam hal ini negara bukan satu-satunya aktor yang mampu membuat perubahan, tapi gerakan-gerakan sosial  buatan masyarakat dan organisasi-organisasi non pemerintah pun juga mampu.

Frankfurt School yang merupakan bagian dari critical theory mengombinasikan pemikiran Marx mengenai kapitalisme dengan proses rasionalisasi karakteristik dunia modern (Jill & Lloyd, 2005). Mereka optimis akan kemudahan membuat perubahan dan perkembangan manusia dengan adanya modernisasi dan zaman pencerahan. Tapi ada sisi buruknya juga, yaitu pertumbuhan yang sangat besar di bidang perekonomian dapat menyebabkan situasi dimana orang-orang dipisahkan dengan adanya dominasi yang semakin meluas pada berbagai bidang kehidupan sebagai hasil dari liberalisme tadi.

Secara klasik, politik merupakan cara-cara yang digunakan manusia untuk mencapai good life. Namun di zaman modern politik adalah bagaimana mengatur dan mencarai jalan keluar dari sebuah permasalahan daripada memeriksa penyebab-penyebab dari permasalahan yang sama yang pernah terjadi (Jill & Lloyd, 2005). Mencari jalan pintas seperti itu adalah dampak dari kapitalisme dimana manusia berusaha untuk mencari jalan keluar atas usaha pemenuhan kebutuhan tanpa bisa berpikir kritis atas permasalahan tersebut.

Frankfurt School yang muncul pada saat krisis kapitalisme pada 1930an, sekitar saat great depression berlangsung. Ia berusaha menjelaskan mengapa kelas pekerja sulit untuk melakukan pemberontakan melawan kapitalisme. Namun menurut Jill dan Lloyd hal itu gagal disebabkan di beberapa negara, daripada mengumpulkan kekuatan untuk melakukan pemberontakan, ada golongan-golongan kelas pekerja yang malah mendukung gerakan-gerakan sayap kanan demi keuntungan sesaat. Di sisi lain meskipun sosialisme mencapai kejayaan di Uni Soviet, hal ini membuat pemikiran Marx seolah-olah hanya parodi belaka.

Menurut pemikiran Gramsci mengenai critical theory adalah pentingnya adanya hegemoni, dimana hal ini berbeda dengan hegemoni dalam neorealis yang fokus pada negara yang mendominasi, sedangkan critical theory Gramsci memandang hegemoni sebagai negara dominan, kekuatan sosial, dan gagasan yang menggabungkan rancangan hegemoni(Jill & Lloyd, 2005).Gramsci memandang pentingnya ideologi dan aturan-aturan dalam membuat perubahan sosial. Karena kelas-kelas sosial yang ada seolah-olah diberi legitimasi oleh adanya liberalisme dengan meyakinkan bahwa hal itu adil. Para critical theorist mengakui bahwa kelas bukan merupakan satu-satunya bentuk dominasi atau tekanan dari masyarakat kapitalis, tetapi kebangsaan, asal etnis, ras, dan jenis kelamin juga dapat menimbulkan inequality (Jill & Lloyd, 2005).

Menanggapi pemikiran realis dan neorealist, critical theory juga beranggapan bahwa politik internasional juga akan selalu didominasi oleh struggle for power aktor-aktornya. Sedangkan menanggapi pemikiran idealisme, critical theory pun juga menyetujui pentingnya equality. Meskipun kemudian ia mengkritiknya karena adanya kebebasan memilih ia gunakan alas an dibalik tujuannya untuk eksploitasi sumber-sumber daya yang ada atau konsumerisme. Disamping Gramsci, Habermas pun turut menyumbang pemikirannya terhadap critical theory. Baginya, cara untuk mengatasi inequality adalah melalui bahasa dan komunikasi, atau dapat diartikan sebagai dialog terbuka serta negosiasi untuk membangun intersubjektivitas (Jill & Lloyd, 2005).

 

Referensi:

Steans, Jill. Pettiford, Lloyd. 2005. Introduction to International Relations: Perspectives and Themes. New Jersey: Pearson Prentice Hall

Jackson, Robert & Sorensen, Georg. 1999. Introduction to International Relations. New York : Oxford University Press Inc.

 

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :