INDIRA AGUSTIN


Berpacu menjadi yang terbaik

Teori Konstruktivisme

Oleh: Indira Agustin/071012006

Teori konstruktivis merupakan salah satu teori alternatif dari bebrapa teori mainstream yang sudah ada sebelumnya. Teori ini dianggap distinct karena ia mengkritisi rasionalisme beberapa teori mainstream yang ada sebelumnya. Dimana teori-teori rasionalis memandang keadaan dunia sosial berdasarkan hasil dari rasionalisme atau pemikiran manusia, sementara teori konstruktivis memandang keadaan dunia sosial merupakan bentukan atau ciptaan dari kemauan manusia itu sendiri, berbeda dengan teori positivis yang memandang segala sesuatu di dunia ini sudah ada dan hanya menunggu untuk ditemukan oleh manusia. Teori rasionalis banyak berfokus pada benar atau tidaknya suatu keadaan berdasarkan teori yang ada tanpa memandang adanya faktor-faktor lain yang mungkin dapat mempengaruhi. Alexander Wendt (1992) yang merupakan pelopor teori konstruktivis ini memandang bahwa dunia sosial yang ada tidak terjadi secara spontan dan alami, melainkan hasil dari subjektivitas konstruksi manusia itu sendiri.

Teori realis dan neorealis yang memandang bahwa manusia itu pada dasarnya pesimis dan anarki membuat keadaan dunia mengarah pada kondisi yang konfliktual dimana setiap negara berusaha mencapai masing-masing kepentingan nasionalnya bermodal kekuatan nasional yang dimiliki. Alexander Wendt (1992) menyangkalnya dengan essaynya “Anarchy is What State Makes of It”. Sehingga keadaan yang anarki itu hanyalah hasil dari pemikiran dari para aktornya yang ingin menciptakan sebuah keadaan yang anarki. Disamping itu keadaan itu juga tergantung bagaimana tiap aktor memahami interaksi dalam hubungan internasional yang tidak hanya selalu mengenai peperangan untuk mencapai kepentingan. Seperti apa yang ditulis Wendt (1995) “...Waltz’s definition of structure cannot predict the content or dynamics of anarchy...US military power has a different significance for Canada than for Cuba, despite their similar ‘structural’ positions, just as British missiles have a different significance for the United States than do Soviet missiles.” Sehingga dapat dikatakan pula bahwa keadaan itu dibangun oleh sifat sistem yang ada, dan hasil interpretasi manusia dan interaksi sesuai dengan sejarah yang sudah pernah terjadi sebelumnya.

Sementara teori liberalis dan neoliberalis yang dianggap utopis optimis akan asumsi dasar manusia dan hubungan internasional yang tidak terstruktur melainkan terhubung berdasarkan saling terkoneksi, saling ketergantungan, dan kerjasama para aktor satu sama lain. Serta hubungan para aktor yang ada tidak anarki, melainkan damai. Bagi konstruktivis, dunia internasional tidak anarki maupun damai. Keadaan yang ada hanya ciptaan dari apa yang diinginkan oleh manusia menyesuaikan dengan kondisi yang ada.

Berbeda dengan dua teori rasionalis lain yang dikritisi oleh konstruktivis, teori Marxis justru mengkritisi teori konstruktivis ini. Menurutnya teori konstruktivis ini hanya memandang adanya keadaan dunia sosial dan interaksi di dalamnya tanpa menilai apapun mengenai kapitalisme.

Kesimpulannya teori konstruktivis ini memberikan kontribusi baru bagi dunia internasional disamping adanya teori-teori mainstream yang sudah ada sebelumnya. Namun disayangkan karena teori ini tidak dapat memberikan solusi dari suatu permasalahan yang terjadi, karena ia hanya memberikan pandangan saja.

Referensi:

Dunne, T. Kurki, M. & Smith, S. eds. 2007. Constructivism dalam International Relations Theories: Discipline and Diversity. New York, Oxford University Press.

Jackson, Robert & Sorensen, George. 1999. Introduction to International Relations. Denmark, Oxford University Press.

Wendt, Alexander. 1995. Anarchy is What States Make of It: The Social Construction of

Power Politics. in Der Derian, James (ed). International Relations Theory; Critical

Investigations. Cornell University Press, Ithaca.

Wendt, Alexander. 1999. Social Theory of International Politics. Cambridge University Press,

Cambridge.


1. amran

pada : 12 February 2014

"kurang pengertian yang tepat dalam mengembangkan teori ini"


Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :