INDIRA AGUSTIN


Berpacu menjadi yang terbaik

Posmodernisme

Oleh: Indira Agustin/071012006

Hingga saat ini masih belum ada kesepakatan definisi pasti mengenai posmodernisme. Ia pertama kali muncul pada pertengahan 1980-an di Perancis yang kemudian dibawa oleh Fred Jameson pada 1984 ke tempat studinya di Amerika (Angela Mcrobbie, 1994). Menurut Jackson dan Sorensen teori ini menantang filsafat yang dominan pada masa itu. Teori ini bermaksud mengkritik teori-teori mainstream atau tradisional hubungan internasional karena asumsi-asumsi dasarnya yang tanpa kritik dan diidentikkan dengan pospositivis. Kemudian ada beberapa fokus penting dan berpengaruh dalam perkembangan perspektif ini, yakni genealogi neorealisme, dekonstruksi diplomasi, intertekstualitas hubungan internasional, anti-positivisme, dan ontologisme. Berikut ini akan dibahas satu per satu mengenainya.

Mengenai genealogi neorealisme, kata genealogi sendiri berarti silsilah. Genealogi merupakan pemikiran sejarah secara objektif yang menitikberatkan pada hubungan antara kekuatan dan pengetahuan. Dimana bagi mereka pengetahuan objektif itu adalah sebuah ilusi intelektual yang dapat saja diciptakan oleh mereka yang memiliki cukup kekuatan untuk membuatnya. Mereka lebih percaya kepada pengetahuan-pengetahuan yang sifatnya subjektif. Dalam artikel Burchill dan Linklater (1996), Nietzche mengkritik pengetahuan-pengetahuan berdasarkan sejarah yang terpengaruh oleh-oleh doktri atau dogma yang ada pada masanya. Genealogi ini berfokus pada neorealisme karena ia dianggap terlalu saklek dan puas diri atas hasil pemikirannya. Sementara Waltzian yang terpengaruh positivis tidak membatasi dunia bagi para aktor untuk berinteraksi sesuai hukum yang objektif, yaitu berdasarkan kekuatan politik –seperti apa yang dipercayai oleh kaum neoralis. Kekuatan politik tersebut pada akhirnya menyebabkan perilaku-perilaku tertentu aktor yang mengarah pada pemenuhan ramalan kebutuhan diri yang didasarkan pada perkiraan yang belum pasti (Felipe Krause, 2002). Sehingga kemudian kaum postmodern menganggap perlu untuk membuat kritik atasnya melalui genealogi tersebut. Genealogi sendiri pada dasarnya berusaha melakukan pembenaran-pembenaran atas sejarah yang belum tentu benar melalui doktrin dan dogma yang diciptakan sehingga lama-kelamaan menjadi sebuah kebenaran. Posmodernisme disini bermaksud untuk menjadi lebih realistis dari neorealisme dan bertujuan untuk mencari alternatif atas pandangan yang terlalu fatal (Felipe Krause, 2002).

Mengenai dekonstruksi yang dalam posmodernisme pada umumnya diartikan sebagai dekonstruksi diplomasi. Dekonstruksi berusaha untuk menjadi skeptis dengan mempertanyakan mengapa dan meyakini adanya oposisi biner di balik hal-hal yang terlihat formal. Dalam hal ini kaum berusaha men-dekonstruksi struktur diplomasi melalui genealoginya sehingga tidak akan tercipta hasil yang benar-benar akhir dari sebuah diplomasi (Pettiford, 2009)

Kemudian mengenai intertekstual dalam hubungan internasional yang merupakan konsep dasar dari posmodernisme. Menurut Derrida, 1995,  yang dimaksud teks disini bukanlah sebuah tulisan namun lebih kepada sebuah fakta dari keadaan yang nyata, perwujudan dari sebuah dunia. Kemudian yang membedakan modernisme dengan posmodernisme ialah posmodernisme lebih radikal, dan juga mengiyakan adanya kekuasaan yang melintasi batas-batas negara, sehingga tidak lagi dapat hanya digambarkan berdasarkan batas-batas wilayah negara yang ada –dibuktikan dengan banyaknya rezim-rezim internasional yang ada saat ini. Lalu antara satu teks dengan yang lain ternyata mempunyai kaitan dalam politik dan kekuasaan. Sehingga dalam konteks hubungan internasional hal ini dinamakan intertekstualitas. Yang mana dalam hal ini berarti perwujudan-perwujudan dunia yang ada saling bertemu satu sama lain menjadi sebuah intertekstualitas.

Sebagai teori alternatif, teori posmodernisme ini berusaha menentang teori-teori mainstream yang cenderung beraliran positivis. Karena teori-teori tersebut seperti yang telah dikatakan di atas tadi memandang pengetahuan secara objektif. Padahal dalam kenyataannya banyak teoritisi yang memandang sebuah fakta secara subjektif (David P. Houghton, 2008). Inilah sebabnya kata anti-positivis sangat berpengaruh dalam perspektif posmodernisme.

Sikap skeptis kaum posmodernis menjadi salah satu dasar terbentuknya perspektif ini. Dapat dikatakan demikian karena ia selalu mempertanyakan arah dan tujuan dari sebuah pengetahuan secara terus-menerus. Mengaplikasikan sebuah ontologi seperti apa yang terdapat dalam filsafat. Ontologisme inilah yang kemudian menjadi dasar dari kritik-kritik yang dilontarkan oleh kaum posmodernis.

Jadi dapat disimpulkan bahwa munculnya perspektif posmodernisme adalah seperti teori-teori altrnatif lain, yaitu untuk mengkritisi teori mainstream yang ada. Utamanya karena hiprokisme mereka yang mengatakan bahwa pengetahuan itu bersifat objektif, namun pada kenyataannya kebanyakan dari mereka justru menganggap adanya sebuah kebenaran secara subjektif. Disamping itu ia juga memandang adanya keterkaitan antara perwujudan atau tekstualitas dari kekuasaan yang melintas batas sehingga timbullah intertekstualitas. Dalam pandangan penulis, kritik terhadap posmodernisme adalah ia selalu menerapkan skeptisisme dalam setiap pengetahuan, dimana hal ini akan membuat teori ini tidak dapat selalu tetap dan pasti.

 

Referensi:

Felipe Krause Dornelles. 2002. Postmodernism and IR: From Disparate Critiques to a Coherent Theory of Global Politics. www.globalpolitics.net, hal.3

Angela McRobbie. 1994. Postmodernism and Popular Culture. New York

Burchill, Scott and Linklater, Andrew. 1996. Theories of International Relations. New York: St. Martin Press

Jackson, Robert & Sorensen, Georg. 1999. Introduction to International Relations.New York : Oxford University Press Inc.

Steans, J & Pettiford, L. (2009) Hubungan Internasional Perspektif dan Tema, Yogyakarta : Pustaka Pelajar

David Patrick Houghton. (2008). Positivism ‘vs’ Postmodernism: Does Epistemology Make a Difference?. Palgrave Macmillan:Orlando, hal. 118

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :