INDIRA AGUSTIN


Berpacu menjadi yang terbaik

Gender dan Feminisme dalam Studi Hubungan Internasional

Oleh: Indira Agustin/071012006

Jika berbicara mengenai gender sebenarnya yang dibicarakan bukamlah mengenai seksualitas laki-laki atau perempuan, tetapi lebih mengenai peran dari kaum laki-laki dan perempuan. Dimana gender sendiri berarti perilaku dan harapan yang dipelajari secara sosial yang membedakan antara maskulinitas dan feminitas (Peterson dan Runyan, 1993 dalam Jackson dan Sorensen, 1999). Pada umumnya pembedaan gender dilakukan atas dasar asumsi yang ada bahwa kaum perempuan lebih lemah daripada kaum laki-laki. Hal inilah yang menyebabkan kaum laki-laki lebih banyak pekerjaan berat dan kasar dibandingkan perempuan. Dan karena itu pulalah kaum perempuan seringkali dipandang sebelah mata saja dalam melakukan hal-hal perpolitikan dan kepemimpinan. Kemudian di penghujung abad ke-20  adalah awal dari kemunculan perspektif feminisme. Dimana ia hadir untuk mengkritisi adanya teori- teori yang sudah ada, yang dianggapnya tidak memihak kaum perempuan. Dalam konteks hubungan internasional kaum perempuan termarginalkan dalam bidang kenegaraan, ekonomi politik internasional, dan keamanan internasional. Yang dalam definisinya, feminisme merujuk pada studi dan gerakan-gerakan untuk memperjuangkan hak-hak perempuan agar setara dengan kaum laki-laki bukan sebagai objek, melainkan sebagai subjek dari pengetahuan (Martin Griffith, 2008).

Padahal dalam perpolitikan internasional, perempuan memiliki peran yang cukup signifikan dalam membentuk kestabilan internasional, yakni ketika ia berperan sebagai istri dari seorang pejabat politik maupun militer. Griffith (2008) dalam tulisannya membagi gerakan feminisme ini menjadi dua: feminist empirisicm dan standpoint feminism. Peran perempuan di atas adalah salah satu bentuk dari feminist empirisicm. Bentuk lainnya adalah penentangan terhadap asumsi yang mengatakan bahwa peran perempuan dalam bisnis yang nyata dan ekonomi internasional itu kecil, bahkan hampir tidak ada. Buktinya adalah kaum perempuan di Filipina yang bekerja ke luar negeri sebagai pembantu lokal tiap tahunnya dan berkontribusi bagi perekonomian Filipina lebih besar dari yang diperolehnya dari hasil gula dan industri pertambangan nasionalnya. Sementara standpoint feminism berargumen bahwa konstruksi dari pengetahuan itu berdasarkan kondisi material dari pengalaman-pengalaman perempuan, yang memberikan kita gambaran yang lebih lengkap mengenai dunia sejak mereka yang ditekan dan didiskriminasi melawan, dan seringkali memiliki pemahaman yang lebih baik mengenai sumber-sumber penekanan daripada penekan mereka (Martin Griffith, 2008). Jadi dapat dikatakan bahwa perempuan-perempuan yang merasa didiskriminasi itu sebenarnya mebih mengerti tentang apa yang menjadi penyebab mereka diperlakukan demikian daripada yang mendiskriminasinya.

Sehingga yang membedakan keduanya adalah feminist empiricism  mengutamakan peranan perempuan dalam konteks hubungan internasional, sementara standpoint feminism mengingatkan kita tentang studi konvensional hubungan internasional itu sendiri tergenderisasi. Dalam jangkauan yang lebih luas lagi, feminisme merupakan perluasan dari critical theory yang menyoroti peranan gender dalam hubungan internasional. Feminisme menginginkan peranan yang lebih bagi kaum perempuan dalam perpolitikan internasional, meski sejak kemunculannya mulai banyak perempuan yang ikut berperan di dunia politik internasional, seperti menjadi kepala pemeringtahan sebuah negara layaknya Margareth Tatcher dari Inggris, Benazir Bhutto dari Pakistan, dan Megawati Soekarnoputri dari Indonesia.  Dengan demikian dapat dikatakan pula bahwa perspektif feminisme ini pro terhadap adanya pluralitas dan lebih mengarah pada liberalisme daripada realisme. Dalam tulisan Vogler (1996) dikatakan bahwa  feminisme menentang pandangan realisme yang mengatakan bahwa aktor utama dalam hubungan internasional adalah negara. Disamping itu feminisme juga cenderung membawa nilai-nilai kebebasan dan perdamaian, karena terpengaruh nilai-nilai lemah lembut dari perempuan. Dan ia menjadi pluralis karena intervensi dari berbagai perspektif lainnya.

Karena ia cenderung menggunakan nilai-nilai liberalisme, maka yang menjadi agenda utamanya adalah perdamaian dan kerjasama. Feminisme lebih banyak menggunakan soft power dari pada kekuatan fisik atau militer. Mengandalkan apa yang menjadi naluri perempuan sebagai dasar dari pergerakannya. Menururt mereka penggunaan hard power dalam tatanan internasional dapat mengancam keamanan suatu negara atau komunitas yang ada, karena segala permasalahan sebenarnya dapat diselesaikan melalui negosiasi-negosiasi dan diplomasi.

 

 

Referensi :

Jackson,Robert and Sorensen,George.(1999).pengantar Studi Hubungan Internasional. Yogyakarta:Pustaka pelajar

Steans, J & Pettiford, L. (2009) Hubungan Internasional Perspektif dan Tema, Yogyakarta : Pustaka Pelajar.

Burchill, Scott and Linklater, Andrew. 1996. Theories of International Relations. New York: St. Martin Press

Tickner, J. Ann & Sjoberg, Laura. 2007. Feminism dalam International Relations Theories: Discipline and Diversity. Oxford: Oxfrord University Press

Griffith, Martin. 2008. Feminism dalam The Key Concepts Second Edition. New York: Routledge


1. FJxqESevSvNyXpet

pada : 28 August 2012

"Ups cerpennya keren. Lingkungan seaktir sebenarnya banyak memberikan kita pelajaran alau kita mau sedikit melihat dan mengambil pelajaran disana. Seperti sang Tokoh yang tobat setelah bertemu dengan Ibu-ibu hamil tersebut.Terus berkarya ya Lam kenal.."


Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :