INDIRA AGUSTIN


Berpacu menjadi yang terbaik

Teori-Teori Bisnis Internasional

Oleh: Indira Agustin (071012006) 

Secara umum teori-teori bisnis atau perdagangan internasional menjelaskan bagaimana suatu negara atau entitas selain negara seperti korporasi atau individu melakukan transaksi lintas batas negara, hal-hal apa yang mendasari, tujuan apa yang ingin dicapai, serta bagaimana sedapat mungkin efisiensi dan keuntungan dapat tercapai. Dimulai dari teori merkantilisme di abad ke-18, yang berasumsi bahwa pemerintah seharusnya mengintervensi pasar dengan cara terlibat dalam setiap transaksi perdagangan negara untuk meningkatkan kemakmuran negaranya (Daniels, et al, 2007:192). Kemakmuran diukur melalui akumulasi nilai emas yang dimiliki negara. Seiring berjalannya waktu muncul neo-merkantilisme, yakni negara berusaha sedapat mungkin mencapai neraca perdagangan yang menguntungkan –surplus, masih dengan intervensi pasar oleh pemerintah.

Generasi berikutnya adalah teori klasik, baik keuntungan absolut maupun relatif (absolute dan comparative advantage), yang menekankan bahwa efisiensi biaya produksi sebagai penggerak perdagangan. Kelemahan teori ini adalah tidak semua negara memiliki sumber daya yang sama, yang kemudian mengalihkan pada Endowment Factor Theory oleh Heckscher-Ohlin, yaitu perdagangan antarnegara didasari oleh faktor-faktor produksi yang memang telah tersedia seperti tanah, tenaga kerja, modal, teknologi, dan fasilitas (Ball, et al, 2009:69). Misalnya bisnis peternakan di Australia yang memang didukung oleh kondisi alamnya yaitu padang rumput. Begitu seterusnya teori-teori ini mendapat kritik dan muncul teori baru, hingga sampai pada teori Siklus Hidup Produksi (Product Life Cycle Theory) yang menjelaskan bagaimana distribusi produksi domestik dapat meluas hingga lintas batas negara.

Teori tersebut menjelaskannya dalam 4 tahap, yaitu inovasi, pertumbuhan, maturitas atau kematangan, dan kemerosotan. Inovasi berarti perusahaan mulai memproduksi barang/jasa untuk dipasarkan secara domestik. Produksi bertumbuh dan ekspor barang/jasa pun dilakukan, hingga muncul perusahaan pesaing di negara importir yang mulai memproduksi jenis barang/jasa yang sama. Siklus berikutnya, tingkat ekspor mulai menurun akibat meningkatnya produksi di negara importir. Hal ini memicu munculnya strategi meminimalisasi biaya produksi supaya dapat bersaing secara harga. Salah satu contoh adalah banyak perusahaan besar dari barat (Misal: Nike, GAP, Adidas, dll) yang memindahkan lokasi produksi ke negara berkembang atau miskin, yang upah tenaga kerjanya jauh lebih murah, dan hasil produksi dipasarkan secara internasional. Siklus terakhir yakni kemerosotan, seringkali diakibatkan oleh banyaknya kompetitor baru yang telah mencapai level produksi yang cukup tinggi untuk dapat mempengaruhi tingkat ekonomi yang sama dengan perusahaan sebelumnya. Teori ini berlaku bagi barang/jasa yang tahan lama, sulit diinovasi, dan permintaannya selalu tinggi (Ball, et al, 2009:74-75).

Mengenai kaitannya dengan investasi, Ball (2009) menjabarkan Teori Investasi dalam artikelnya Theories of Trade and Economic Development. Perusahaan-perusahaan asing berinvestasi sebagai respon terhadap kesempatan dan memanfaatkan ketidaksempurnaan dalam pasar dan memasuki bidang produksi asing dari sisi modal. Alasan lain yaitu adanya persaingan tidak sempurna seperti yang dinyatakan oleh Kindleberger,” Under perfect competition, foreign direct investment would not occur, not would it be likely to occur in a world wherein the conditions were even approximately competitive” (Ball, 2005:92). Selain itu investasi asing juga dipicu oleh adanya keinginan para investor untuk membuka pasar baru, mengakses sumber daya bahan mentah, pencapaian efisiensi produksi, dan meningkatkan akses terhadap teknologi serta keahlian manajerial, sebagai respon atas kompetisi dan tekanan eksternal para pesaing dalam dunia bisnis tersebut. Sehingga dapat dikatakan bahwa investasi dalam perdagangan hanya terjadi dalam pasar yang oligopolistik, dimana para pengusaha saling bersaing, utamanya untuk memonopoli keuntungan dan mengalahkan pesaing lokal (Ball, 2005:93).

Sementara itu dalam hal pembangunan, kaitannya dengan perdagangan internasional dapat terlihat dalam Rostow’s Stage of Economic Growth, yang membaginya dalam 5 tahapan. Tahapan yang pertama yakni masyarakat tradisional, yang perekonomiannya statis sebelum munculnya perkembangan teknologi yang pesat. Yang kedua yaitu preconditions for takeoff. Prasyarat sektor nonindustri yang dapat mendukung tersebut antara lain investasi transportasi, perkembangan agrikultur, dan ekspansi impor. Tahap yang ketiga yaitu takeoff. Ditandai dengan adanya perubahan yang menstimulasi pertumbuhan ekonomi, seperti teknologi, sistem distribusi, maupun revolusi politik. Sehingga pertumbuhan ekonomi menjadi tujuan utama sebuah negara, dengan syarat prosentase investasi dan pendapatan nasional harus meningkat tajam, sektor manufaktur yang substansial harus mengingkat signifikan, dan segala bentuk infrastruktur harus tersedia sebagai pendukung. Tahap keempat yaitu drive to maturity. Kematangan ekonomi harus dipertahankan. Dalam perkembangannya faktor seperti tenaga kerja akan menjadi semakin ahli dan faktor lain pun meningkat. Tahap yang terakhir adalah age of mass consumption. Masyarakat yang terus mengkonsumsi hasil produksi mencapai standar hidup tinggi, dan supaya bertahan siklus ekonomi tersebut perlu tetap berlangsung. Sehingga pembangunan negara menacapai keberhasilan melalui standar hidup asyarakatnya yang tinggi. Demikian siklus ekonomi yang dikemukakan oleh Rostow. Perdagangan merupakan salah satu proses yang perlu dilakukan negara dalam rangka mencapai pembangunan.

Dari uraian singkat diatas dapat disimpulkan bahwa teori-teori bisnis internasional pada umumnya menjelaskan bagaimana sedapat mungkin biaya produksi menjadi efisien sehingga mencapai keuntungan tertinggi dalam perdagangan internasional. Hal ini kemudian dikaitkan juga dalam investasi dan pembangunan. Efisiensi biaya produksi misalnya, dilakukan oleh perusahaan-perusahaan besar dengan cara menempatkan pabrik di negara berkembang atau miskin dengan upah tenaga kerja yang rendah, dan hasil produksi kemudian dipasarkan secara internasional. Hal ini berakibat pada dua hal, yaitu investasi oleh perusahaan di negara berkembang dan sekaligus pembangunan melalui lapangan pekerjaan bagi masyarakat di negara tersebut. Dengan demikian terjadi hubungan timbal balik yang saling menguntungkan, jika antara keduanya dilakukan pembagian secara adil.

Referensi:

Ball, Donald. et al. 2009. International Business: The Challenge of Global Competition. New York: McGraw-Hill. Chapter 3: Theories of International Trade and Investment.

Daniels, John D. Lee H. Radebaugh & Daniel P. Sullivan. 2007. International Business: Environment and Operations. New Jersey: Pearson Prentice Hall. Chapter 6: International Trade and Factor Mobility Theory

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :