INDIRA AGUSTIN


Berpacu menjadi yang terbaik

Alat untuk Menganalisis : Hubungan Internasional, Analisis Politik Luar Negeri, dan Level Analisis

Oleh: Indira Agustin (071012006) 

Studi Hubungan Internasional (HI) merupakan sebuah bidang ilmu interdisipliner yang saling memberikan pengaruh dengan bidang ilmu lainnya. HI yang mempelajari hubungan yang terjadi di antara negara-negara di dunia tentunya berkaitan dengan politik luar negeri setiap negara sebagai kepanjangan tangan dari kepentingan nasional. Juga dalam mengambil sikap ketika berinteraksi dengan negara lain ia akan menggunakan politik ljuar negerinya. Dalam menganalisa bagaimana perilaku negara tersebut digunakan apa yang disebut sebagai perspektif atau pendekatan, seperti realisme, liberalisme, dan konstruktivisme, untuk dapat mengetahui hal-hal apa yang mendasari kebijakan suatu negara atau seorang pemimpinnya. Maka dari itu analisis kebijakan luar negeri (FPA, Foreign Policy Analysis) dapat dikatakan penting dalam studi HI sebab ia merupakan sebuah sub bidang pembahasannya.

Untuk dapat menganalisis, tentunya diperlukan sebuah perspektif atau sudut pandang terhadap masalah. Misalnya dalam perspektif realisme, aktor utama dalam hubungan internasional adalah negara. Power negara dapat dicapai melalui pencapaian kepentingan negara, untuk mempertahankan survivalitas kedaulatan dan eksistensi negara. Sumbangsih analitisnya terhadap perkembangan studi HI adalah adanya konsep balance of power, kekuatan hegemonic stability, serta balance of threat. Perhitungan-perhitungan analitis terhadap variabel tersebut dapat dijadikan sebagai pertimbangan terhadap perumusan kebijakan luar negeri (Wohlforth, 2008).

Singer (1961) menjelaskan bagaimana analisis itu terbagi dalam tingkatan, dan menyebutnya sebagai level of analysis (LoA). Ia sendiri membagi level analisis tersebut menjadi dua, yaitu dalam lingkup  internasional dan lingkup nasional. Pada lingkup internasional, analisis mencakup interaksi-interaksi yang terjadi di antara negara-negara, bagaimana setiap aktor tersebut dapat saling mempengaruhi satu sama lain. Sementara dalam lingkup negara yang diteliti adalah faktor-faktor domestik yang mempengaruhi perilaku aktor. Dalam hal ini berarti negara berada pada tingkat mikro level atau subsistem dari level internasional.

Contoh penerapan level analisis tersebut dapat diaplikasikan terhadap perspektif-perspektif. Misalnya adalah perspektif liberalisme. Liberalisme identik dengan nilai-nilai kebebasan individu dan mengutamakan perdamaian. Ketika beberapa negara memiliki kepentingan yang sama, maka usaha yang dilakukan adalah bagaimana kepentingan tersebut dapat tercapai dengan cara damai, seperti kerjasama yang melibatkan pihak-pihak yang berkepentingan. Dengan demikian semua pihak dapat diuntungkan. Namun kekurangannya adalah tidak semua negara menginginkan porsi kerjasama yang sama dan hal ini lebih jauh justru akan menyebabkan konflik.

Kemudian contoh penerapan pada perspektif realisme. Dalam menganalisis politik luar negeri, realisme menekankan tiga hal yaitu groupisme, egoisme, dan power-centrism. Dalam pencapaian survivalitas dan kepentingan nasional perlu mengedepankan tiga hal tersebut. Namun yang menjadi kekurangan adalah bagaimana terjadi estimasi yang salah terhadap penilaian kekuatan negara, sehingga yang terjadi bukanlah balance of power, seperti yang disebutkan sebelumnya.

Kesimpulannya analisis politik luar negeri tidak dapat dipisahkan dari studi HI, sebab ia merupakan subsistemnya. Ia menganalisis bagaimana aktor-aktor politik internasional berperilaku beserta hal-hal yang mempengaruhi melalui berbagai perspektif dan level analisis. Seperti asumsi realisme dan liberalisme mengenai pencapaian power. Ketika perspektif realisme memandang bahwa dunia internasional bersifat anarki dan konfliktual, perspektif liberalisme memandang perdamaian merupakan sifat alami dunia internasional. Pandangan dasar yang berbeda ini kemudian juga berbanding lurus dengan analisisnya masing-masing terhadap dunia internasional. Penulis setuju dengan konsep yang diungkapkan Singer, yaitu level analisis. Adanya level analisis tersebut akan memudahkan dalam menganalisis politik atau kebijakan luar negeri melalui perbandingan.

Referensi:

Platig, E. Raymond. 1967. “International Relations as a field of Inquiry of Inquiry”, in James N Rosenau, International Politics and Foreign Policy. New York: The Free Press, pp. 6-19.

Singer, J. David. 1961. “The Level-of-Analysis Problem in International Relation”, World Politics, 14(1). Pp. 77-92.

Wight, Collin. 2002. “Philosophy of Social Science and International Relations”, in Walter Carlsnaes, Thomas Risse and Beth A. Simmons, Hanbook of International Relations, London: Sage Publications, pp.23-51.

Wohlfourth, William C. 2008. “Realism  and Foreign Policy” in, Steve Smith, Amelia Hadfield & TimDunne, Foreign Policy, Theories, Actors, Causes. Oxford.

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :