INDIRA AGUSTIN


Berpacu menjadi yang terbaik

Level Analisis dalam Kebijakan Luar Negeri: Individu dan Kelompok

Oleh: Indira Agustin (071012006)

Dalam menganalisis sebuah kebijakan luar negeri suatu negara, diperlukan sebuah level of analysis (LoA) yang digunakan untuk memandang suatu kasus dalam jangkauan dan pendekatan tertentu. Dua diantaranya adalah pendekatan secara individual dan kelompok. Secara individu, Neack (2008) menjelaskan bahwa keputusan yang dihasilkan sebagai suatu kebijakan luar negeri suatu negara tentu melalui leader atau dalam hal ini adalah kepala negara. Sebab kepala negara-lah yang membuat keputusan dengan mengatasnamakan negara.

Level analisis individu berangkat dari perspektif realis yang mengkonsepsikan negara sebagai aktor tunggal internasional, dimana keputusan yang dihasilkan oleh political leader merupakan keputusan negara,“…any and all leaders act in ways consistent with the long-term and persistent national interests of the country” (Neack, 2008:31). Namun terdapat beberapa hal yang mempengaruhi keputusan sehingga kurang sesuai dengan kepentingan nasional, meski jarang terjadi, yaitu kekacauan kondisi psikologis pemimpin atau emosi demokrasi politik masa yang mempengaruhi sisi emosional pemimpin (Neack, 2008:31).

Sementara itu dalam pandangan Breuning (2007) keputusan yang dibuat oleh seorang pemimpin dipengaruhi oleh dua hal, yaitu persepsi mengenai suatu perkara secara spesifik dan dunia secara umum, di mana aksi dan reaksinya dapat diprediksi melalui jenis kepribadian dan karakter pemimpin tersebut; dan bagaimana pemimpin menggunakan dan mengelola staff yang dimiliki dalam memperoleh informasi dan saran (Breuning, 2007:33). Kelebihan LoA individu adalah kecenderungan untuk dapat memprediksi keputusan yang akan dibuat berdasarkan kemungkinan-kemungkinan yang terpengaruh oleh aspek pribadi. Sementara kekurangannya adalah ia seringkali mengabaikan adanya kesulitan memperoleh informasi, adanya pengaruh dari aspek pribadi, dan interaksi yang terjadi antarpemimpin.

LoA yang kedua yaitu grup atau kelompok-kelompok yang berada di sekitar pemimpin selaku pembuat keputusan, dimana ia dapat memberikan pengaruh terhadap pemimpin. Breuning (2007) membagi cara pemimpin mengelola kelompok-kelompok di sekitarnya berdasarkan sistem pemberian saran, yaitu formalistic, competitive, dan collegial.

Kategori formalistic berarti pemimpin menekankan struktur hirarkis dalam organisasi. Sehingga sistem advisory sangat efisien. Namun kekurangannya adalah tedapat kemungkinan distorsi akibat sistem yang searah serta jarangnya pemimpin terjun langsung dalam struktur. Dalam kategori competitive terdapat persaingan di antara penasihat kepada pemimpin supaya nasihat mereka-lah yang digunakan. Dalam kategori ini saran yang masuk menjadi beragam,”…this approach can generate creative solutions, because there is a confluence of many different ideas and viewpoints at the center of government” (Breuning, 2007:90). Dari beragamnya ide ketika dikombinasikan akan menghasilkan solusi yang lebih kreatif. Kategori yang ketiga yaitu collegial, berlawanan dengan sistem competitive, yakni para penasihat saling merundingkan solusi hingga diperoleh sebuah kesepakatan untuk diajukan kepada pemimpin. Kekurangannya adalah dubutuhkan sebuah keseimbangan berpendapat antara advisors, yang sekaligus menjadi tantangan bagi pemimpin, yakni,”Not all leaders have the skills to manage the interpersonal relations between their advisors to successfully maintain a collegial system across time” (Breuning, 2007:91).

Sementara menurut Neack (2008), keputusan akhir dapat disusun oleh seorang pemimpin, kelompok tunggal, atau kelompok-kelompok otonom yang berkoalisi (Neack, 2008:79). Pemikiran secara kelompok dapat menjadi berbobot ketika anggota-anggotanya memprioritaskan pencegahan konflik diatas segalanya. Dalam analisis keputusan, norma utamanya adalah apakah pengambilan keputusan kelompok tersebut berdasarkan persetujuan ataukah diskusi terbuka, dimana seorang individu dapat berperan sebagai penengah sehingga dapat mengusahakan solusi-solusi kompromis sebagai jalan keluar.

Kesimpulannya level analisis individu menekankan pada keputusan yang dibuat oleh individu itu sendiri selaku pemimpin, dimana keputusan-keputusan yang dibuat selalu  berdasarkan kepentingan nasional. Namun dalam beberapa kondisi keputusan yang dihasilkan dipengaruhi oleh kondisi-kondisi pribadi individu seperti emosi, pengalaman, atau lingkungan sekitarnya. Sedangkan level analisis kelompok berarti keputusan yang dihasilkan oleh pemimpin juga dipengaruhi oleh kelompok-kelompok tertentu yang biasanya berupa masukan atau saran dengan mekanisme tertentu.

 

 

Referensi:

Breuning, Marijke (2007). Foreign Policy Analysis: a Comparative Introduction. New York: Palgrave MacMillan. Ch.2-3 (Leaders), Ch.4 (Advisors and Bureaucracies).

Neack, Laura (2008). The New Foreign Policy: Power Seeking in a Globalized Era. Plymouth: Rowman & Littlefield Publisher. Ch.2-3 (Individual LoA). Ch.4 (Group LoA).

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :